Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
KYLE KENAPA?



"Kyle, kau tidak makan siang?" Tanya Daniel saat melihat makan siang yang ia pesankan untuk Kyle masih utuh di atas meja seakan tak disentuh sama sekali oleh Kyle.


"Aku kehilangan selera makan beberapa hari terakhir. Dan ayam bakar yang kau pesankan tadi malah membuat perutku semakin mual!" Gerutu Kyle seraya melempar penanya dengan kasar ke atas meja.


"Kau boleh memikirkan Audrey, tapi kau tetap harus makan, Kyle! Aku akan sangat repot kalau kau sakit!" Nasehat Daniel sedikit bersungut.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Audrey! Aku tidak selera makan bukan karena memikirkan Audrey! Aku juga lapar dan ingin makan, tapi semua makanan membuatku mual!"


"Aku juga bingung harus makan apa! Hanya pisang ini yang membuatku tidak merasa mual!" Kyle menunjuk ke arah pisang cavendish di atas meja kerjanya. Sudah ada tiga buah pisang yang tinggal kulitnya dan dua pisang yang masih utuh.


Kyle mengambil satu pisang yang masih utuh lalu mengupasnya dengan kasar dan melahapnya dalam satu gigitan besar.


Daniel mendadak menahan tawanya.


"Kau seperti ibu hamil yang sedang ngidam saja! Sudah ke dokter untuk cek asam lambung?" Tanya Daniel memastikan.


"Sudah kemarin. Dan hasilnya normal semua," jawab Kyle dengan nada lesu.


Pria itu memijit pelipisnya sendiri yang mendadak terasa pening, dan meletakkan pisangnya yang masih setengah.


"Kenapa tidak dihabiskan pisangnya? Merasa mual lagi?" Goda Daniel seraya memeriksa beberapa kertas yang ada di atas meja kerja Kyle.


"Sudah tidak tertarik dengan pisang. Aku mendadak ingin makan buah yang lain," Kyle meraih ponselnya, membuka aplikasi pencari informasi dan mengetikkan kalimat nama-nama buah, sebelum akhirnya muncul berbagai macam buah-buahan yang terlihat sangat menggiurkan.


Kyle terus men-scroll layar ponselnya sebelum akhirnya perhatian Kyle berhenti di satu buah berwarna peach dengan bentuk sedikit bulat dan kulit yang mulus. Kyle menelan salivanya melihat buah menggiurkan itu.


"Kau tahu dimana membeli buah ini?" Kyle menunjukkan foto yang tadi ia lihat pada Daniel.


"Buah apa itu? Aku baru melihatnya," tanya Daniel bingung.


"Kyle melihat ke layar ponselnya untuk melihat nama buah yang membuatnya menelan ludah berulang kali tersebut.


"Peach," jawab Kyle seraya mengerutkan alisnya.


Kyle juga baru mendengar nama buah ini sepertinya.


Daniel mengendikkan bahu.


"Aku tidak tahu."


"Cari tahu kalau begitu! Thalia biasanya tahu tempat belanja barang-barang aneh," Cetus Kyle seolah tak mau tahu.


"Baiklah, nanti aku tanyakan, Tuan Kyle Arthur!" Daniel merapikan kembali kertas-kertas yang berserakan di atas meja Kyle.


"Kita ada meeting sepuluh menit lagi!" Daniel melirik sebentar ke arlojinya.


"Jadi ngidammu kita tunda dulu!" Imbuh Daniel lagi sedikit berkelakar. Asisten Kyle itu sudah menuju ke arah pintu kekuar seraya membawa beberapa kertas di tangannya.


"Kau pikir aku sedang hamil! Dasar menyebalkan!" Kyle melempar klip kertas ke arah tengkuk Daniel sebelum bangkit dari duduknya dan menyusul Daniel keluar ruangan untuk segera menuju ke ruang rapat.


****


"Kak Audrey mau beli apa?" Tanya Alvin sedikit malas.


Audrey masih berputar-putar di stand buah sejak tadi dan terlihat masih bingung mau membeli buah apa.


"Kak Audrey mau buah itu?" Tanya Alvin yang ikut-ikutan memegang buahbyang menarik perhatian Audrey tersebut.


"Ya! Sudah lama aku penasaran dengan buah ini. Aku akan beli ini saja," Audrey menelan salivanya dan merasa tak sabar untuk segera mencicipi buah berwarna peach tersebut.



Alvin membantu Audrey memilih-milih peach, dan setelahnya mereka pergi ke bagian es krim kemasan.


Audrey berhenti di salah satu freezer, membukanya, lalu mengambil es krim rasa greentea yang dikemas dalam sebuah cup besar.


Audrey tak hanya mengambil satu, namun banyak es krim rasa greentea hingga membuat Alvin melongo.


"Kak Audrey mau beli semuanya?" Tanya Alvin merasa ragu.


"Iya, buat stok di rumah biar nggak bolak-balik. Kamu kalau mau nanti bisa ikut makan juga," jawab Audrey santai.


"Alvin sukanya yang rasa stroberi," ungkap Alvin menunjuk pada cup berwarna magenta kombinasi putih tersebut yang bergambar buah stroberi.


"Yaudah, ambil aja yang rasa stroberi. Berapa? Lima?"


"Satu aja belum tentu habis, Kak!" Jawab Alvin seraya mengambil satu es krim yang rasa stroberi. Namun pemuda itu mrmilih yang ukuran tanggung dan bukan yang ukuran besar seperti yang dibeli oleh Audrey.


"Sudah!" Lapor Alvin seraya melongok ke dalam keranjang belanja dan menghitung es krim yang dibeli oleh Audrey. Semuanya ada sepuluh cup es krim ukuran besar.


Wow!


Apa sepupu Alvin ini tidak takut gendut makan es krim sebanyak itu?


"Apalagi selanjutnya, Kak?" Tanya Alvin sebelum mereka berdua melangkah menuju ke arah kasir.


"Susu hamil sekalian beli nggak, ya? Tinggal sedikit yang di rumah," gumam Audrey meminta pendapat Alvin.


"Yaudah sekalian aja. Mumpung masih disini. Daripada harus bolak-balik," jawab Alvin yang langsung membuat Audrey mengangguk-angguk.


Alvin dan Audrey segera menuju ke bagian rak susu hamil.


Setelah mendapatkan semua barang yang merrka perlukan, Alvin dan Audrey langsung ke kasir untuk membayar belanjaan. Hari sudah beranjak sore, saat dua sepupu tersebut keluar dari swalayan.


"Nanti pulang mampir sebentar ke penjual kelapa muda, ya, Vin!" Pesan Audrey pada Alvin yang sudah duduk di kursi pengemudi dan bersiap melajukan mobil.


"Oke, siap! Nanti beli yang di dekat rumah saja," jawab Alvin, sebelum melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir swalayan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.