Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
SIAPA YANG HAMIL?



"Selamat sore!"


Audrey yang sangat hafal dengan suara sapaan yang terdengar dari arah pintu depan, segera bangkit dari duduknya.


"Audrey akan makan di kamar, Tan! Jangan bilang ke Mama dan Papa kalau Audrey disini!" Pesan Audrey yang sudah berjalan masuk menuju ke kamarnya seraya membawa piring berisi makanan.


Sementara Tante Viola langsung menuju ke ruang depan untuk menemui Mama Hanni dan Papa Hans yang mampir ke rumah.


Alvin baru saja akan menyusul Tante Viola, saat Audrey kembali membuka pintu kamarnya dan memanggil sepupunya tersebut.


"Alvin!"


"Apa?"


"Air minum! Aku lupa!" Ucap Audrey seraya berbisik.


Alvin segera membawakan sebotol air putih untuk Audrey dan kembali menutup pintu kamar wanita itu bersamaan dengan Mama Hanni dan Papa Hans yang sudah menuju ke ruang makan.


"Sore Uncle, Aunty!" Alvin segera menyapa Uncle dan Aunty nya, serta mencium punggung tangan kedua orang tua Audrey tersebut.


"Tumben di rumah, Vin? Biasanya kalau Uncle main kesini kamu tak pernah terlihat," kekeh Papa Hans yang hanya membuat Alvin garuk-garuk kepala dan sedikit nyengir.


"Sekarang udah berubah jadi anak rumahan, Uncle. Harus jadi supir pribadi buat Ka-" cubitan Tante Viola membuat Alvin tak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Supir pribadi buat siapa?" Tanya Mama Hanni mengerutkan kedua alisnya.


"Buat Mami! Hehe," jawab Alvin seraya meringis.


Hampir saja keceplosan.


"Biar nggak main terus. Sesekali harus dikurung juga di rumah," timpal Tante Viola yang langsung membuat Mama Hanni dan Papa Hans terkekeh.


"Alvin mau punya adik, Vi? Kok ada susu hamil?" Tanya Papa Hans menunjuk ke arah susu hamil yang ada di atas meja dapur yang baru saja dibeli oleh Audrey tadi dan belum disimpan oleh ibu hamil itu.


"Mmmm. Enggak!" Tante Viola langsung salah tingkah dan mengambil susu hamil Audrey tersebut.


"Kebetulan susunya rasa mangga, aku penasaran, jadi aku beli saja, Bang!" Jelas Tante Viola yang sontak membuat Alvin menahan tawanya.


Terang saja hal itu langsung membuat Tante Viola melotot ke arah putra semata wayangnya tersebut.


"Kok ya susu hamil yang dibeli, Vi? Memang nggak ada susu lain selain susu hamil?" Mama Hanni geleng-geleng kepala merasa tak paham dengan sang adik ipar.


"Ya, mungkin saja mau sekalian program hamil. Viola dan Alex mau membuatkan adik untuk Alvin," timpal Papa Hans sedikit tergelak.


"Aamiin! Alvin aminin, Mi! Kayaknya asyik kalau Alvin punya adik bayi," sahut Alvin yang langsung memeluk sang Mami.


"Mami udah tua!" Bisik Tante Viola sedikit memukul lengan Alvin.


"Audrey mampir kesini tidak, Vi? Kok feeling-ku mengatakan kalau Audrey ada di pulau ini," tanya Papa Hans selanjutnya yang langsung membuat Tante Viola dan Alvin diam sesaat.


Terpaksa berhohong lagi!


"Tidak, Bang! Kenapa tidak coba menghubungi ponselnya saja?" Jawab Tante Viola memberikan saran.


"Ponselnya di rumah dan tidak dibawa saat Audrey pamit pergi. Kami sama sekali tak bisa menghubunginya dan mencari tahu lokasi keberadaannya," cerita Mama Hanni dengan raut wajah sedih.


"Audrey pasti baik-baik saja, Kak!" Tante Viola mengusap punggung Mama Hanni.


Ya, Audrey memang dalam kondisi baik, sehat, dan bahagia sekarang ini karena wanita itu begitu menikmati kehamilannya.


Tapi sebaiknya Tante Viola tidak membocorkan dulu keberadaan Audrey di rumah ini pada sang kakak dan kakak ipar.


"Ya, kau benar! Audrey juga sudah berjanji kapau ia akan secepatnya pulang setelah hatinya tenang," ujar mama Hanni mengangguk dengan yakin.


"Ayo makan dulu!" Tante Viola akhirnya mempersilahkan Mama Hanni dan Papa Hans untuk makan bersama sembari menunggu Om Alex yang mungkin akan pulang sebentar lagi.


****


Kediaman Arthur


Rachel sedikit terkejut saat ia membuka kulkas dan mendapati tumpukan es krim rasa greentea di dalam kulkas.


Siapa yang membeli es krim sebanyak itu?


Mom Bi?


"Ada apa, Sayang? Kok melamun?" Tanya Sean yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Rachel.


"Di rumah yang suka es krim rasa greentea siapa, Sean?" Tanya Rachel seraya menunjuk ke arah tumpukan es krim yang langsung membuat Sean mengendikkan bahu.


Dasar Sean!


"Apa, sih, Sayang! Sukanya kok menggeliat-menggeliat begitu kalau aku cium?" Bisik Sean merasa gemas pada Rachel.


"Geli, tahu!" Gerutu Rachel yang masih menggeliat-menggeliat karena Sean yang belum berhenti menciuminnya.


"Eheem!" Hingga akhirnya sebuah deheman membuat pasangan suami istri itu menoleh bersamaan.


"Pacaran di kamar sana! Kenapa malah di depan kulkas?" Gerutu Kyle yang sepertinya cemburu melihat kemesraan Sean dan Rachel.


Tentu saja!


Kyle sudah sebulan lebih tidak ada yang membelai.


Dasar menyebalkan!


"Awas!" Kyle menyuruh Sean dan Rachel menyingkir, lalu pria itu mengambil satu cup es krim greentea dan membawanya ke meja minibar di sisi dapur.


"Eskrim itu milik Abang?" Tanya Sean yang sedikit heran karena Kyle yang tiba-tiba suka pada es krim rasa greentea. Perasaan dulu Kyle paling benci pada semua makanana dan minuman yang berbau greentea.


"Iya, kenapa? Kau boleh ambil jika mau," jawab Kyle yang sudah mulia menyuapkan es krim ke dalam mulutnya.


Namun baru satu suap yang masuk rasa mual sialan itu kembali Kyke rasakan.


"Sial!" Umpat Kyle sebelum pria itu berlari masuk ke toilet yang ada di dekat dapur dan langsung muntah-muntah.


"Abang Kyle sakit, ya?" Tanya Rachel pada Sean saat mendengar Kyle yang muntah-muntah.


"Entah?" Jawab Sean yang juga tak mengerti.


"Siapa yang muntah-muntah, Sean?" Tanya Mom Bi yang baru saja masuk ke dapur.


"Abang Kyle, Mom! Mungkin sakit," Sean kembali mengendikkan bahu.


"Kyle! Kau sakit?" Tanya Mom Bi saat Kyle sudah keluar dari toilet.


Rachel bergegas mengambilkan air hangat untuk sang Abang ipar.


"Minum air hangat dulu, Bang!" Ucap Rachel seraya mengangsurkan segelax air hangat pada Kyle.


"Kamu sakit?" Tanya Mom Bi sekali lagi.


"Tidak, Mom! Kyle memang sering mual-mual dan muntah nggak jelas belakangan ini. Sudah minum obat dari dokter juga nggak berpengaruh apapun," keluh Kyle yang sudah kembali duduk di kursi dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong dengan sedikit kasar.


"Kau sering terlambat makan?" Tuduh Mom Bi yang langsung membuat Kyle mendengus.


"Kyle tidak pernah menunda-nunda makan!" Sergah Kyle membela diri.


"Kyle juga lapar dan ingin makan banyak, Mom! Tapi perut Kyle srlalu mual setiap nelihat makanan!" Imbuh Kyle lagi merasa frustasi. Pria itu betanjak lagi dari kursinya, membuka kulkas, mengambil sekantong peach lalu keluar dari dapur meninggalkan semua orang.


"Kak Audrey sudah ada kabar, Mom?" Tanya Sean pada Mom Bi setelah Kyle berlalu pergi.


"Belum. Mungkin Kyle terlalu stress mencari Audrey hingga pria itu mual-mual tak jelas," gumam Mom Bi seraya tertawa sumbang.


"Atau mungkin Abang Kyle mengalami kehamilan simpatik. Sean jadi ingat pada Abang Liam yang dulu juga mual-mual dan muntah-muntah pas Kak Yumi hamil," ujar Sean memberikan pendapatnya tersendiri.


"Maksudmu, Audrey sekarang sedang hamil begitu?" Tanya Mom Bi menerka-nerka.


"Bisa jadi! Karena sikap Abang Kyle juga sedikit aneh belakangan ini," Jawab Sean yang sebenarnya juga merasa sedikit ragu.


"Semoga dugaanmu benar, Sean! Dan Audrey akan secepatnya pulang jika memang dia sedang mengandung sekarang," gumam Mom Bi penuh harap.


.


.


.


Mau dilanjut nggak ini penderitaan Abang Kyle?


Atau udahin aja?


Kasian mual-mual terus, kurus nanti badannya 😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.