
Tok tok tok!
"Nona Audrey!" Suara dari salah seorang karyawan Audrey disertai ketukan pintu memecah keheningan di antara Audrey dan Kyle.
Segera Kyle bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
"Maaf, Tuan Kyle. In ada titipan dari supir Nona Audrey," ucap karyawan tadi seraya mengangsurkan sebuah paperbag pada Kyle.
"Terima kasih," balas Kyle sebelum kembali menutup pintu.
Kyle segera membongkar isi paperbag dan mengeluarkan sebuah baju terusan dari dalam paperbag.
"Aku bisa memakainya sendiri, Kyle," tolak Audrey saat Kyle hendak mengambil jasnya yang masih menutupi tubuh Audrey yang hanya terbalut bra dan underwear.
"Tidak apa, biar aku saja," ujar Kyle bersikeras, yang segera memakaikan baju tadi ke tubuh Audrey dengan hati-hati. Kyle juga menyisir dan merapikan rambut Audrey yang berantakan.
"Kau lapar?" Tanya Kyle seraya melirik arloji yang melingkar di tangannya. Sudah hampir pukul satu siang. Ternyata lama juga pergelutan Kyle dan Audrey tadi.
"Aku akan menesan makanan saja dan makan siang disini. Kau tidak kembali ke kantormu?" Audrey mencari-cari ponselnya yang entah ia taruh dimana tadi.
"Aku sudah memesan makanan dari Rainer's Resto. Baru diantar kemari," jawab Kyle cepat yang langsung membuat Audrey menghentikan aktivitas mencari ponselnya.
Ya.
Rainer's Resto lagi.
Mungkin Kyle juga akan memesan beef steak untuk Audrey setelah ini.
Audrey duduk di kursi kerjanya dan sedikit meringis menahan sakit di pangkal pahanya. Permainan kasar Kyle tadi benar-benar menyakiti milik Audrey. Suami Audrey itu seakan sudah berubah menjadi maniak atau mungkin monster ****.
"Kyle, maaf bukan aku mengabaikanmu. Tapi aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan." Audrey menunjuk ke laptopnya.
Kyle hanya tersenyum dan mengangguk.
"Santai saja! Aku juga hanya numpang istirahat disini. Sedang tidak ada pekerjaan di kantor," jawab Kyle yang memang sudah duduk santai di atas sofa.
Kaki pria itu diselonjorkan di atas meja yang ada di depan sofa.
Masih sama seperti Kyle sebelum amnesia.
Dasar bossy!
Audrey kembaki fokus ke laptopnya saat terdengar ketukan di pintu. Kyle yang bangkit dan mengambil makan siang yang diantarkan oleh karyawan Audrey.
"Makanlah dulu!" Titah Kyle seraya mengeser laptop Audrey dan meletakkanbox makana berlogo Rainer's Resto ke depan Audrey.
Aromanya bukan beef steak, dan saat dibuka, ternyata isinya Chicken Salad kesukaan Audrey. Milik Kyle isinya juga Chicken Salad sama seperti milik Audrey.
Aneh!
"Minumnya aku pesankan jus alpukat. Semoga kau suka," ucap Kyle seraya menyodorkan segelas jus alpukat pada Audrey. Milik Kyle juga sama jus alpukat.
Kalau yang ini memang minuman favorit Kyle sejak dulu, jadi Audrey tetap akan meminumnya dan menghargai Kyle yang sudah berbaik hati menesankan makanan untuknya.
"Terima kasih, Kyle!" Ucap Audrey tulus seraya mengulas senyum di bibirnya.
Kyle ikut tersenyum dan mengangguk.
Pasangan suami istri itupun menikmati makan siang mereka sambil diselingi obrolan-obrolan kecil.
Kyle tidak kembali lagi ke kantornya dan malah tidur di ruangan Audrey hingga sore, saat pekerjaan Audrey sudah selesai.
Setidaknya, Audrey bisa sedikit santai ketika berlibur di pulau nanti karena semua peketjaannya sudah beres.
"Kyle," Audrey membangunkan Kyle dan mengguncang tubuh Kyle dengan lembut.
"Vale, kau dimana? Cepatlah pulang!" gumam Kyle yang masih memejamkan matanya.
Audrey sejenak mematung saat Kyle menyebut nama Vale dalam tidurnya. Apa Kyle sedang bermimpi tentang Valeria?
Atau Kyle sedang merindukan mantan kekasihnya itu.
Audrey mengurungkan niatnya untuk membangunkan Kyle dan wanita itu segera bangkit dari sofa. Susah payah Audrey menahan gumpalan sesak yang kembali menghimpit dadanya.
Kyle masih memikirkan wanita itu.
Audrey menatap kosong ke arah jalanan di depan ruko miliknya lewat jendela, saat tiba-tiba ponsel Kyle berbunyi nyaring dan si empunya ponsel langsung tersentak kaget hingga terbangun.
"Halo, Daniel!" Sapa Kyle yang mulai berbicara dengan Daniel di telepon. Sementara Audrey segera mengusap airmatanya dengan kasar dan sebisa mungkin menyembunyikan wajah sedihnya.
"Aku baik-baik saja. Aku di kantor Audrey sejak tadi. Kau kirimkan saja berkas yang perlu aku periksa ke rumah dan akan ku kerjakan malam ini."
"Baiklah! Sampai jumpa!" Kyle mengakhiri pembicaraan di teleponnya bersama Daniel dan pria itu mengusap wajahnya berulang kali, sebelum pergi ke toilet untuk mencuci muka.
Tak butuh waktu lama, Kyle sudah keluar dari toilet dengan rambut yang setengah basah.
"Pekerjaanmu sudah sekesai, Audrey?" Tanya Kyle menatap pada Audrey yang masih berdiri di dekat jendela.
"Ya. Sudah selesai," jawab Audrey memaksa untuk tersenyum pada Kyle.
"Kita pulang sekarang!" Ajak Kyle seraya mengulurkan tangannya ke arah Audrey.
Audrey segera mengambil handbag-nya di atas meja dan meraih tangan Kyle yang langsung menggenggam tangan Audrey dengan erat.
Pasangan suami istri tersebut keluar dari kantor Audrey bersama-sama dan tetap bergandengan tangan.
****
Audrey masih mengemasi baju-bajunya dan baju Kyle yang akan ia bawa ke pulau esok hari, saat Mom Bi masuk ke kamar Audrey dan menyapa menantunya tersebut.
"Jadi ke pulau, besok?" Tanya Mom Bi berbasa-basi pada Audrey.
"Jadi, Mom. Kyle dan Audrey sudah mengatur jadwal dan mungkin kami akan peri selama sepekan," jelas Audrey sambil masih menata baju-bajunya ke dalam koper.
"Tabir surya, agar kulitmu tak terbakar," Mom Bi mengangsurkan sebotol krim tabir surya pada Audrey.
"Terima kasih, Mom!" Jawab Audrey yang langsung menerima krim tabir surya dari tangan Mom Bi dan memasukkannya sekalian ke dalam koper.
"Semoga akan ada kabar baik setelah kalian kembali dari pulau nanti. Semoga ingatan Kyle benar-benar akan kembali setelah kalian mebgulang bulan madu ini, " tutur Mom Bi penuh harap.
Audrey segera mengaminkan ucapan Mom Bi dan hatinya juga tak berhenti untuk terus berharap.
Karena Audrey sekarang juga mulai lelah dengan Kyle yang masih saja ingat pada Valeria.
"Terima kasih atas kesabaranmj menghadapi sikap Kyle yang berubah labil belakangan ini, Audrey!" Mom Bi meraih tangan sang menantu dan menggenggamnya dengan erat
"Kau adalah istri yang begitu sabar dan kuat. Sdmoga kebahagiaan akan selalu menyertai pernikahanmu bersama Kyle," imbuh Mom Bi lagj yang benar-benar membuat Audrey kehilangan kata-kata.
Benarkah Audrey sesabar itu?
Nyatanya Audrey masih kerap mengeluh dan mdnangis dalam diam saat ia merasa lelah dan rasa sakitnya tak lagi bisa ia tahan.
Tapi ssbear apapun cobaan yang harus Audrey hadapi, Audrey tetap akan bertahan dan mempertahankan rumah tangganya bersama Kyle.
Audrey pasti bisa.
Dan ingatan Kyle pasti akan secepatnya pulih.
Kyle pasti akan bisa mengingat Audrey suatu hari nanti.
Mungkin besok.
Mungkin lusa.
Audrey tak mau menyerah.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.