Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
PENYESALAN DEMI PENYESALAN



Kyle pulang dengan tangan hampa dan wajah yang tertunduk lesu. Audrey sudah pergi. Dan Kyle tidak tahu Audrey pergi kemana. Tidak ada yang tahu Audrey ada dimana.


Kyle menaiki tangga dengan langkah gontai. Rumah juga sudah sepi. Kyle terus mengayunkan langkahnya masuk ke dalam kamar. Mungkin Kyle akan membersihkan diri sebentar, lalu berbaring sendirian di atas tempat tidurnya.


Namun baru membuka pintu kamar mandi, bayangan Audrey sudah kembali muncul di dalam bathtube. Audrey yang sedang berendam tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, lalu tersenyum pada Kyle dan melempar tatapan mata yang menggoda.


Astaga!


Rasanya begitu menyakitkan.


Kyle begitu merindukan istrinya itu sekarang.


Kyle memilih untuk tak berlama-lama berada di dalam kamar mandi. Pria itu hendak mengambil satu kausnya dari dalam lemari, saat secarik kertas tak sengaja terjatuh dari tumpukan baju miliknya.


Kyle mengambil kertas yang terlipat tersebut lalu membukanya. Itu adalah tulisan tangan Audrey.


Aku pergi....


Bukan karena perasaanku telah pergi


Tapi karena masing-masing dari kita


Harus berhenti untuk saling menyakiti


-Audrey-


Hati Kyle mencelos membaca surat singkat dari Audrey.


Bukan Audrey yang menyakiti Kyle, tapi Kyle yang sudah menyakiti hati Audrey dan membuat wanita itu kehilangan harapannya.


Andai Kyle mendengarkan Mom dan Dad untuk melupakan semuanya tentang Valeria.


Andai Kyle mendengarkan Ben sore itu dan tidak keras kepala.


Andai Kyle percaya pada Audrey yang mengatakan kalau semua mimpinya itu hanyalah kilas balik kejadian dua tahun yang lalu.


Tapi semuanya sudah terlambat.


Audrey bahkan sudah hilang kesabaran menghadapi Kyle yang keras kepala.


Kyle merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur. Menyalakan televisi besar yang tergantung di depan tempat tidurnya, lalu memutar video pernikahannya dengan Audrey secara berulang-ulang.


Senyuman bahagia Audrey di video itu membuat hati Kyle menghangat sesaat. Janji pernikahan yang diucapkan oleh Audrey dengan begitu tulus, juga kian menghangatkan hati Kyle. Namun bayangan saat Audrey berurai airmata dan memutuskan pergi meninggalkan Kyle, terasa seperti paku yang terus menusuk hati Kyle berulang kali.


Kyle mengulangi lagi video itu. Terus mengulanyinya hingga mata pria itu terpejam, karena merasa lelah dan rindu pada Audrey.


Cepatlah pulang, Audrey!


****


Pulau Bali


Audrey baru keluar dari kamar mandi saat Tante Viola tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dan membuat jantung Audrey nyaris meloncat dari rongganya.


"Tante, kenapa mengagetkan Audrey?"


"Ini milikmu?" Tanya Tante Viola seraya menunjukkan kotak susu hamil pada Audrey.


Ya ampun!


Audrey tadi pasti lupa menyimpannya kembali setelah menyeduh susu untuk ia minum.


"Kau sedang hamil?" Tanya Tante Viola sekai lagi masih menatap tegas pada sang keponakan.


"Tolong jangan beritahu Mama, Papa, atau abang Zayn, Tante!" Pinta Audrey memohon.


"Papa pasti akan menyuruh Audrey pulang dan khawatir berlebihan. Lagipula, Audrey tidak mau keluarga Arthur tahu tentang kehamilan Audrey," jawab Audrey mengemukakan alasannya.


"Tapi kau masih istrinya Kyle, Audrey! Dan Kyle adalah ayah kandung dari bayi yang kau kandung," Tante Viola mengusap lembut perut Audrey.


"Itulah! Jika Kyle dan keluarganya tahu Audrey sedang mengandung sekarang, mereka pasti akan memaksa Audrey untuk pulang ke rumah keluarga Arthur. Lalu Kyle akan kembali bersikap baik pada Audrey, bukan karena dia sudah ingat atau karena dia jatuh cinta pada Audrey. Tapi hanya karena dia merasa iba pada Audrey dan ingin bertanggung jawab."


"Yang sebelumnya juga seperti itu." Suara Audrey sedikit lirih.


"Kyle bersikap seolah dia sudah peduli pada Audrey dan menjalankan peran layaknya seorang suami, namun sebenarnya hati Kyle tak menaruh perasaan apapun pada Audrey. Dan pada akhirnya itu hanya seperti seperti sebuah bom waktu."


"Audrey malah merasa kecewa berkali-kali lipat," mata Audrey sudah berkaca-kaca dan suara wanita itu sudah berubah sendu.


"Jadi kau akan menunggu sampai Kyle peka, lalu mencarimu karena keinginannya sendiri dan bukan paksaan dari pihak manapun, begitu?" Tanya Tante Viola yang sedikit mengerti dengan maksud Audrey bersembunyi di pulau ini tanpa memberitahu siapapun.


"Bukankah cinta akan selalu menemukan jalan dan takdirnya, Tante?"


"Jika Kyle adalah cinta sejati Audrey dan yang terbaik untuk Audrey, takdir pasti akan mempertemukan kami kembali. Tanpa paksaan tanpa tekanan," ucap Audrey yang merasa begitu yakin.


Tante Viola langsung memeluk keponakannya itu dengan erat.


"Baiklah, kalau menurutmu begitu. Mulai detik ini, tante yang akan menjagamu dan menjaga Audrey kecil ini," Tante Viola kembali mengusap perut Audrey.


"Akhirnya kau hamil! Buah kesabaranmu berbuah manis, Sayang!" Tante Viola ganti mengecup kening Audrey.


"Bukankah Tante yang selalu mengajarkan Audrey untuk bersabar dan banyak berdoa? Tante dulu bahkan lebih lama berjuang ketimbang Audrey. Berapa lama dulu Tante menunggu?" Audrey menggenggam erat tangan sang Tante.


"Hampir empat tahun. Tante sampai lelah, tapi Om kamu yang terus menyemangati Tante, bahwa kesempatan itu pasti ada dan pasti akan datang. Dan semuanya berakhir dengan manis setelah kelahiran si usil Alvin," cerita Tante Viola sedikit terkekeh.


Audrey ikut terkekeh dan menyeka airmata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Sebaiknya kau beristirahat, Ibu hamil!" Tante Viola mengusap lembut kepala Audrey.


"Dan, jangan sungkan untuk memberitahu Tante jika kau ingin makan atau membeli sesuatu. Nanti Tante akan menyuruh Alvin yang mencarikan," pesan Tante Viola yang sontak membuat Audrey terkekeh kecil.


"Lalu Alvin akan menggerutu sebal," lanjut Audrey yang seolah paham dengan tabiat sang sepupu.


"Oh, ya, apa kau mual atau merasa ingin muntah? Morning sickness?" Tanya Tante Viola lagi sedikit khawatir.


Audrey menggeleng dengan cepat.


"Sama sekali tidak, Tante! Audrey juga sudah ke dokter kemarin sebelum berangkat kesini, dan kata dokter semuanya sehat dan baik," tutur Audrey yang langsung membuat tante Viola bernafas lega.


"Syukurlah kalau begitu. Calon anakmu sepertinya pengertian sekali, dan mungkin dia akan sekuat dirimu saat nanti lahir ke dunia," ujar Tante Viola penuh harap.


"Semoga saja!" Audrey sudah berbaring di atas tempat tidur, dan Tante Viola merapatkan selimut untuk menutupi tubuh Audrey.


"Tante tidak akan membacakan Audrey dongeng kan? Audrey bukan lagi gadis tujuh tahun yang suka cerita princess bertemu pangeran," kekeh Audrey sedikit berkelakar, mengingat momen beberapa tahun silam, saat Audrey yang masih kecil menginap di rumah Tante Viola, lalu Tante Viola akan membacakan dongeng pengantar tidur untuk Audrey.


"Tentu saja tidak! Tante hanya ingin mengucapkan, selamat malam, Audrey sayang! Dan selamat bermimpi indah!" Tante Viola mengecup kening Audrey sekali lagi.


Ya, sekalipun keponakannya ini sudah berusia dua puluh enam tahun, tapi bagi Tante Viola, Audrey tetaplah keponakan kecilnya yang manja.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.