Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
PENJELASAN AUDREY



Tok tok tok!


Alvin mengetuk pintu kamar perawatan Audrey sebelum membukanya dari luar.


"Apa Alvin mengganggu?" Tanya Alvin yang hanya melongokkan kepalanya ke dalam ruang perawatan.


"Masuklah, Vin! Jangan lebay begitu!" Perintah Audrey seraya berdecak.


Alvin langsung terkekeh dan akhirnya masuk ke dalam ruangan menggandeng seorang gadis.


"Alvin bawakan baju ganti dan makanan, Bang!" Ucap Alvin seraya menunjukkan tas kain di tangannya.


Alvin segera meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih banyak, Vin!" Ucap Kyle yang masih menimang-nimang Olivia.


"Alvin juga sudah menelepon Mami dan Papi. Mereka sedang dalam perjalanan kesini," lapor Alvin selanjutnya pada Audrey.


"Kau menghubungi Mama dan Papa juga?" Tanya Audrey menyelidik.


"Yang itu bukan Alvin, Kak!" Alvin mengangkat dua jarinya dan membentuk tanda V.


"Mami yang menghubungi Uncle dan Aunty. Mereka sudah naik pesawat sekarang dan mungkin akan segera sampai," Alvin menghampiri Tiara yang sejak tadi hanya duduk diam di sofa.


"Jafpdi sebelum Uncle dan Aunty sakoai, Alvin mau pergi saja. Alvin tidak mau terlibat dalam perang dunia," kikik Alvin seraya menggandeng lengan Tiara dan sedikit menggeret pacarnya tersebut menuju ke arah pintu.


Namun Alvin baru membuka pintu kamar perawatan Audrey, saat ternyata Papa Hans, Mama Hanni, Tante Viola dan Om Alex sudah berdiri di depan kamar perawatan.


Oh, tidak!


"Mau kemana, Vin?" Om Alex yang terlebih dahulu menegur sang putra.


"Nganterin Tiara pulang, Pi!" Jawab Alvin yang akhirnya menemukan alasan yang tepat.


"Sore Tante, Om," sapa Tiara pada para orang tua yang berdiri di depannya. Gadis dua puluh satu tahun tersebut juga menyalami para orang tua tersebut satu persatu.


"Audrey sendirian di dalam?" Tanya Mama Hanni yang langsung merangsek masuk dan membuka lebar pintu kamar perawatan.


Langsung terlihat Audrey yang masih duduk di atas ranjang perawatan dan Kyle yang sedang menggendong Olivia.


"Kyle?" Itu suara Papa Hans yang sepertinya terkejut melihat Kyle yang sudah berada di dalam kamar perawatan Audrey.


"Sore, Papa, Mama!" Kyle menyapa kedua mertuanya dan segera meletakkan Olivia ke pangkuan Audrey.


"Apa maksudnya ini, Audrey? Kau hamil dan tidak memberitahu kami semua. Lalu kau bersembunyi di rumah tantemu."


Papa Hans menatap tak percaya pada Tante Viola dan Om Alex.


"Apa kalian memang bersekongkol untuk menyembunyikan keberadaan Audrey?"


Papa Hans menatap marah sekaligus tak mengerti pada semua orang di ruangan tersebut.


"Pa! Tolong jangan marah pada Tante Viola dan Om Alex! Mereka yang suah menjaga Audrey selama ini," jelas Audrey mencoba meredam kemarahan sang Papa.


"Dan Kyle juga menjaga Audrey tiga bulan ini. Menyelamatkan Audrey dari pencopet di pasar, membelikan apapun yang Audrey inginkan," imbuh Audrey lagi yang langsung membuat para orang tua menoleh ke arah Audrey.


"Jadi pria misterius yang selalu meninggalkan makanan di pagar itu-" tante Viola seakan menemukan sebuah benang merah.


"Itu perbuatan Kyle, Tante! Dia sudah mengaku!" Jawab Audrey sedikit berdecak pada Kyle yang hanya tersenyum tanpa dosa.


"Lalu bagaimana ceritanya Kyle bisa tahu keberadaanmu? Kau saja tak memberitahu kami semua tempat persembunyianmu! Tapi kau malah memberitahu Kyle," cecar Mama Hanni merasa tak terima.


"Audrey tidak memberitahu Kyle! Dia tak sengaja melihat Audrey saat sedang check up kandungan di rumah sakit. Dan selanjutnya Mama tebak saja sendiri," jawab Audrey yang mearsa malas menjelaskannya.


"Dan kau tidak memberitahu Papa sama sekali kalau kau sudah menemukan Audrey?" Papa Hans sudah menarik kerah baju Kyle dan menatap tak senang pada menantunya tersebut.


"Papa akan memisahkan kami jika Kyle melapor pada Papa," jawab Kyle berprasangka.


"Dasar menantu sok tahu!" Decak Papa Hans merasa tak terima dengan tuduhan Kyle.


"Sudahlah, Bang! Semua masalah sudah selesai, bisakah kita berhenti berdebat dan saling menyalahkan?" Sela Om Alex berusaha meredam suasana agar tak meenjadi panas dan rumit.


"Om Alex benar, Pa! Masalah Audrey dan Kyle sudah selesai. Kami sudah bicara berdua dan mengambil keputusan bersama. Audrey dan Olivia akan ikut Kyle pulang ke rumah Mom dan Dad nanti, " tutur Audrey menimpali kalimat Om Alex dan memaparkan keputusannya pada Papa Hans serta semua orang di dalam kamar perawatan


Papa Hans hanya membuang nafas kasar dan segera menarik Kyle untuk duduk di sofa. Sepertinya Papa kandung Audrey itu akan mulai menginterogasi Kyle.


Sementara Mama Hanni dan Tante Viola sudah menghampiri Audrey dan bergantian menggendong bayi Olivia.


"Mom dan Dad kamu sudah diberitahu?" Tanya Mama Hanni seraya duduk di tepi ranjang perawatan Audrey.


"Belum, Ma! Kata Kyle nanti saja saat pulang biar jadi kejutan," jawab Audrey menjelaskan.


"Kau tidak cerita ke Mama kalau kau hamil," Mama Hanni mengusap kepala Audrey lalu merapikan ikatan rambut Audrey yang tadi memang hanay dicepol sembarangan.


Rasa kecewa sekilas terlihat di wajah wanita paruh baya tersebut.


"Baiklah, jangan sedih begitu," Mama Hanni meraih dagu Audrey dan memaksa putrinya tersebut untuk tersenyum.


"Kau akhirnya sudah menjadi seorang Mama, jadi kau harus bahagia!" Lanjut Mama Hanni yang langsung membuat Audrey mengangguk dan tersenyum.


"Putri kecil Mama akhirnya punya seorang putri," Mama Hanni memeluk Audrey dan meluapkan kebahagiaannya.


"Audrey sudah besar, Ma!" Protes Audrey yanag merasa keberatan dipanggil putri kecil oleh Mama Hanni.


"Kau akan tetap menjadi putri kecil Mama sampai kapanpun!" Mama Hanni mengusap puncak kepala Audrey bak anak kecil.


Audrey hanya merengut sebelum akhirnya wanita itu kembali memeluk sang Mama.


****


"Ingatanmu sudah kembali?" Tanya Papa Hans menatap serius pada Kyle.


"Belum, Pa!" Jawab Kyle lirih.


Papa Hans sontak berdecak.


"Kau akan menyakiti Audrey lagi, kau akan berkubang dengan masa-"


"Kyle sudah menemui seorang psikiater," sela Kyle cepat.


"Kyle sudah banyak berkonsultasi, Pa! Dan Kyle sekarang hanya mau fokus pada Audrey dan Olivia."


"Hati dan pikiran Kyle hanya tertuju paa Audrey sekara, meskipun ingatan lama Kyle belum pulih. Tapi Kyle berjanji pada Papa, kalau Kyle akan mencintai Audrey sebagai Kyle yang sekarang. Kyle akan membuat Audrey bahagia dan tak lagi membuatnya bersedih, Pa! Jadi tolong berikan kesempatan satu kali lagi pada Kyle!" Mohon Kyle seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada seperti anak kecil yang sedang memohon pada Papanya.


Papa Hans melirik sekilas ke arah Audrey yang masih tertawa bersama Mama Hanni.


"Audrey sudah memaafkanmu dan bersedia kembali padamu?" Tanya Papa Hans menyelidik.


"Ya, Audrey sudah memaafkan Kyle dan kami sudah sama-sama berjanji untuk membesarkan Olivia bersama, dan menjadi orang tua yang lengkap untuk Olivia," jawab Kyle sedikit menjelaskan.


"Pa!" Panggil Audrey yang langsung membuat Papa Hans menoleh ke arah putrinya tersebut.


"Berhentilah menginterogasi Kyle!" Pinta Audrey selanjutnya yang langsung membuat Papa Hans mengerutkan dahinya.


"Papa tidak menginterogasi! Papa hanya mengajak Kyle mengobrol. Bukan begitu, Kyle?" Sanggah Papa Hans seraya merangkul pundak Kyle, seolah sedang menunjukkan pada Audrey kalau mereka sudah berdamai sekarang.


"Kau yakin akan langsung pulang ke rumah keluarga Arthur, Audrey? Kau tidak ingin pulang ke rumaha Mama dan Papa dulu?" Tanya Papa Hans pada Audrey masih sambil merangkul Kyle.


"Kami akan sering memabwa Olivia berrkunjung ke rumah Mama dan Papa," janji Kyle mebatap bergantian Papa Hans dan Mama Hanni.


"Papa sedang bertanya pada Audrey, jadi kamu diam dulu!" Papa Hans menuding ke arah Kyle.


"Jawaban Audrey sama dengan jawaban Kyle, Pa!" Ujar Audrey menjawab pertanyaan sang Papa.


"Baiklah," Papa Hans mengangguk-angguk dan sepertinya sedikit keberatan.


"Hans, tidak perlu diperpanjang lagi! Kita bisa menjenguk Olivia kapan saja ke kediaman Arthur," sela Mama Hanni menatap kesal pada sang suami.


"Olivia biar disini saja bersama Oma Viola, ya!" Sahut Tante Viola yang sejak tadi masih menggendong dan menimang-nimang Olivia.


"Tante!" Audrey mencebik tak terima.


"Bukankah kau dan Alex mau punya bayi juga?" Papa Hans sedikit berkelakar pada sang adik.


"Ini bayinya!" Jawab Tante Viola santai seraya menunjukkan Olivia pada semua orang.


Dan semuanya langsung tertawa.


.


.


.


Yang tanya:


Thor, cerita Will-Teresa mana?


Thor, cerita Ben-Ayunda mana?


Thor, cerita Alvin-Ghea kapan rilis?


Jawabannya: othor mau nafas dulu, jadi sementara ngerjainnya satu persatu dulu, ya!


Terima kasih pengertiannya.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.