
Pagar besi di depan rumah Audrey sudah kembali tertutup rapat.
Kyle masih berada di dalam mobilnya, dan mendadak merasa bimbang untuk masuk ke rumah itu dan bicara pada Audrey.
Kyle sudah terlalu banyak menyakiti hati Audrey, hingga istrinya itu memutuskan pergi dan bersembunyi di sini tanpa memberitahu siapapun.
Jika Kyle menemui Audrey sekarang, bukan tak mungkin Audrey malah akan marah dan mengusir Kyle pergi. Tapi Kyle juga penasaran dengan pria yang tadi bersama Audrey. Rasa cemburu mendadak merambati hati Kyle saat membayangkan Audrey sedang berduaan dengan pria tadi di dalam rumah.
Kyle membuka pintu mobilnya dengan kasar, dan sudah berjalan ke arah pagar besi warna putih yang kini tertutup rapat tersebut. Kyle berniat melabrak Audrey dan pria asing tadi. Namun belum jadi Kyle menekan bel, ponselnya yang ada di saku berbunyi.
Daniel menelepon.
"Halo, Daniel!" Kyle mengangkat telepon dan melangkah menjauh dari gerbang rumah Audrey.
"Kau jadi pulang sore ini, Kyle?"
"Aku rasa tidak!" Jawab Kyle cepat yanba kembali menatap ke arah pagar besi rumah Audrey.
"Kau mau berlibur dulu? Baiklah tidak masalah."
"Aku menemukan Audrey," ucap Kyle to the point.
"Apa? Kau yakin tidak salah orang?"
"Entahlah! Aku akan memastikannya lagi, karena Audrey pulang bersama seorang pria muda. Apa menurutmu Audrey berselingkuh di belakangku?" Tanya Kyle meminta pendapat Daniel.
"Mustahil Audrey berselingkuh, Kyle! Kau tidak melabrak Audrey dan teman prianya, kan?"
"Aku baru mau melabraknya," jawab Kyle jujur.
"Tidak! Tunggu! Jangan gegabah, Kyle! Jika pria itu ternyata teman atau saudara Audrey, lalu kau melabraknya, Audrey akan semakin marah kepadamu!" Daniel memperingatkan Kyle.
Kalau dipikir-pikir, Daniel ada benarnya juga.
"Tapi kalau itu saudara Audrey bukankah seharusnya aku mengenalnya?" Pertanyaan Kyle tercekat di tenggorokan.
Tentu saja Kyle akan mengenalinya, jika Kyle tidak amnesia. Tapi saat ini Kyle sedang hilang ingatan dan mana Kyle ingat saudara-saudara Audrey.
"Kyle! Kau tidak melabraknya, kan?" Tanya Daniel khawatir.
"Aku akan mengambil fotonya saja dan mengirimkannya kepadamu," Kyle mengajukan ide lain. Pria itu melangkah kembali ke mobilnya, dan masuk ke dalam.
"Baiklah! Aku tunggu. Kau akan disana sampai kapan?"
"Nanti aku kabari lagi!" Pungkas Kyle sebelum menutup panggilan dari Daniel.
Kyle menyimpan kembali ponselnya dan melihat ke arah pagar putih yang menyembunyikan rumah Audrey.
Bisa saja Kyle menekan bel sekarang, lalu menemui Audrey dan bicara pada istrinya tersebut. Namun hati Kyle mendadak kembali bimbang karena kata-kata dari abang Zayn beberapa bulan yang lalu.
"Sudah cukup kau menyakiti hati Audrey dan membuatnya berurai airmata setiap hari."
"Jika sekarang kau muncul di hadapan Audrey, kau hanya akan membuat luka di hati Audrey semakin menganga lebar. Jadi berhentilah mencari Audrey dan tunggu saja sampai Audrey kembali, lalu memberikan keputusannya!"
Abang Zayn benar, jika Kyle muncul sekarang di depan Audrey bukan tak mungkin Kyle malah akan membuat Audrey kembali bersedih. Audrey saja merahasiakan kehamilannya dari Kyle, bukankah itu artinya Audrey memang sudah benci pada Kyle dan tak mau lagi bertemu dengan Kyle?
Dan bukankah abang Zayn juga mengatakan kalau Audrey sudah tenang dan membuat keputusannya, Audrey pasti akan kembali pulang?
Jika hingga detik ini saja Audey belum juga pulang, itu artinya Audrey memang belum tenang dan mungkin belum siap bertemu Kyle. Mungkin luka di hati Audrey memang belum pulih dan mungkin tak akan pulih sampai kapanpun.
Apa memang yang kau harapkan, Kyle?
Audrey akan langsung memelukmu dan serta merta memaafkan semua perbuatan burukmu saat kau muncul di hadapannya sekarang?
Kau hanya akan membuat hati Audrey semakin sakit dan kacau!
Mungkin Kyle memang pantas mendapatkan semua ini.
Mungkin Kyle tak perlu lagi muncul di depan Audrey atau mengganggu hidup wanita itu.
Kyle tidak mau mengusik ketenangan Audrey di tempat ini.
Tapi Kyle juga tak mungkin bisa kembali menjauh dari Audrey.
Kyle ingin selalu ada di dekat Audrey tanpa mengusik ketenangan Audrey.
Kyle harus bagaimana sekarang?
Kyle masih berperang dengan batinnya sendiri saat pagar putih itu kembali di buka dari dalam.
Pria yang tadi bersama Audrey keluar dari dalam rumah mengendarai sebuah motor dan sepertinya hendak pergi ke suatu tempat. Bergegas Kyle membuntuti pria itu untuk mencari tahu ia akan pergi kemana.
****
"Pasti cowok! Mirip Alvin nanti. Kan Alvin yang sudah menjadi suami dadakan Kak Audrey selama lima bulan ini!" Celetuk Alvin yang langsung berhadiah sebuah toyoran di kepala dari Om Alex yang baru muncul dari dapur.
"Apa, sih, Pi! Sirik aja!" Gerutu Alvin pada sang Papi.
"Semuanya bagus, Tan! Tapi jenis kelaminnya belum terlihat sejauh ini. Entahlah, cowok atau cewek, yang penting sehat," jawab Audrey seraya menyandarkan kepalanya di atas punggung sofa.
"Kapan kau akan memberitahu papanya, Audrey?" Tanya Om Alex menatap serius pada Audrey.
Audrey diam sejenak dan tak langsung menjawab. Audrey juga bingung kapan akan memberitahukan hal penting ini pada Kyle.
"Bisakah kita tidak usah membahas hal itu, Om!" Pinta Audrey sedikit memohon.
Tante Viola langsung menyenggol lengan sang suami, seolah memberi kode agar Om Alex tak usah membawa-bawa Kyle dalam obrolan mereka.
"Baiklah, Om minta maaf!" Om Alex menepuk lembut punggung Audrey.
"Kau ingin makan sesuatu? Mungkin Om bisa membelikanmu sesuatu sebagai permintaan maaf?" Tawar Om Alex yang langsung membuat Audrey berpikir sejenak.
"Bagaimana kalau martabak manis?" Usul Audrey yang mendadak ingin makan martabak manis.
"Wah, cocok itu! Alvin mau yang rasa pisang keju!" Celetuk Alvin yang terlihat sangat bersemangat.
Sepertinya Alvin juga sedang ngidam martabak manis.
"Bagus! Berarti kamu yang beli, Alvin!" Ucap Om Alex yang langsung membuat Alvin melongo sekaligus terkejut.
"Kenapa bukan Papi? Bukankah tadi Papi yang menawarkan diri untuk membelikan makanan yang dimau sama Kak Audrey?" Protes Alvin merasa tidak terima.
"Iya, tapi Papi menyuruh kamu. Jadi sana! Kamu belikan martabak manis! Papi mau yang rasa coklat kacang!" Om Alex menyodorkan uang pada Alvin.
"Kamu mau yang rasa apa, Audrey?" Tanya Tante Viola pada Audrey.
"Coklat, keju, sama kacang tapi martabaknya jangan dilipat jadi dua, bilang sama yang jual, ngasih toppingnya juga jangan dicampur. Jadi dipisah-pisah dalam satu loyang dan toppingnya suruh banyakin, ya!" Tutur Audrey yang langsung membuat Alvin garuk-garuk kepala.
"Ribet amat, Kak! Nanti ujung-ujungnya juga masuk perut semua, kenapa kudu dipisah-pisah toppingnya?" Tanya Alvin bingung.
"Udan belikan saja! Namanya orang ngidam. Hitung-hitung belajar jadi suami yang baik, sebelum kamu menikah sama Tiara!" Ucap Tante Viola yang langsung membuat Alvin merengut.
"Bagaimana tadi, Kak? Alvin lupa," Alvin bertanya sekali lagi pada Audrey masih sambil garuk-garuk kepala.
"Dicatat pakai ponsel, Vin! Kreatif sedikit kenapa?" Timpal Om Alex sedikit mengomel pada sang putra.
"Iya, Papi yang cerewetnya ngalahin Mami!" Sahut Alvin dengan nada lebay yang tentu saja langsung berhadiah toyoran lagi dari Om Alex.
"Sudah! Sudah!" Tante Viola melerai suami dan anaknya yang tak berhenti berdebat.
Audrey hanya menahan tawa dan membayangkan jika hanya tiga orang ini yang ada di rumah, pasti Tante Viola langsung tutup telinga saat Alvin mulai berdebat dengan Om Alex.
Audrey mengulangi sekali lagi pesanannya, dan Alvin segera mencatatnya di ponsel.
"Mami mau rasa apa?" Tanya Alvin selanjutnya pada sang Mami.
"Sama seperti kamu," jawab Tante Viola yang langsung menbuat Alvin tertawa senang.
"Mami memang selalu satu selera sama Alvin."
"Eheem!" Deheman cemburu dari Om Alex malah membuat Alvin tergelak. Pemuda itu sudah berlalu mengambil kunci motor, lalu pergi ke arah pintu keluar.
Alvin mengendarai motornya dengan santai keluar dari pagar, dan mengabaikan mobil warna hitam yang masih terparkir di depan rumahnya.
Sekarang mobil itu mengikuti Alvin.
.
.
.
Ciyeeee pada kecewa 😂😂
Pertemuan othor pending, guees!
Momennya masih kurang cweet kalo ketemu sekarang.
Nanti pas benar-benar mereka akan bertemu, othor mau sekalian jualan bawang 😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.