
"Sudah, Kyle! Aku sudah kenyang," ucap Audrey saat Kyle hendak menyuapkan sesendok nasi ke mulut Audrey.
"Satu kali lagi! Itu Via belum selesai yang menyusu," Kyle menunjuk pada Via yanag masih asyik menghisap pay*dara Audrey.
"Baiklah, ini yang terakhir," Audrey akhirnya membuka mulut dn menerima suapan dari tangan Kyle.
Ini memang sudah lewat tengah malam, dan Kyle masih menemani Audrey yang harus menyusui Olivia.
"Kau tidak tidur?" Tanya Audrey seraya menerima gelas berisi air yang disodorkan oleh Kyle.
"Nanti aku tidur kalau kau sudah tidur," jawab Kyle.
"Olivia sudah selesai yang menyusu," lapor Audrey, dan Kyle segera mengambil Olivia dari pangkuan Audrey, lalu memindahkan bayi mungilnya itu ke dalam box bayi.
Kyle sudah luwes sekali menggendong Olivia.
"Aku mau ke toilet," ucap Audrey selanjutnya yang hendak turun dari atas tempat tidur. Namun Kyle mencegah dengan cepat.
"Memang sudah bisa jalan? Aku gendong, ya!" Tawar Kyle yang sudah bersiap untuk menggendong Audrey.
"Aku sudah bisa jalan, Kyle! Tadi juga sudah jalan ke toilet diantar Mama," ujar Audrey menolak tawaran Kyle untuk digendong.
"Baiklah! Awas pelan-pelan!" Kyle akhirnya hanya membantu Audrey untuk turun dari atas tempat tidur lalu menuntun istrinya tersebut menuju ke toilet di sudut ruang perawatan Audrey.
Cukup lama Audrey berada di dalam toilet, dan Kyle hanya mondar-mandir di kamar.
Mama Hanni sudah tidur sejak tadi di sofa kamar perawatan. Sedangkan Papa hans memilih pulang bersama Tante Viola dan Om Alex, dan berjanji akan kembali kesini besok pagi.
Pintu toilet dibuka dari dalam, Kyle bergegas menghampiri Audrey dan kembali menuntun istrinya tersebut kembali ke atas tempat tidur.
"Olivia menangis lagi?" Tanya Audrey seraya menggosok-gosokkan kecua tangannya karen air kamar mandi yang dingin.
"Tidak! Masih tidur nyenyak," jawab Kyle setelah melihat sejenak pada Olivia.
"Kau kedinginan?" Tanya Kyle karena melihat Audrey yang masih menggosok-gosokkan kedua tangannya.
"Sedikit. Airnya dingin sekali tadi," jawab Audrey yang hendak berbaring saat wanita itu meringis menahan sakit.
"Sakit sekali, ya? Tadi aku lihat jahitannya banyak," tanya Kyle khawatir seraya menunjuk ke arah pangkal paha Audrey.
"Hanya kadang-kadang." Jawab Audrey yang kini sudah berbaring miring dan menghadap ke arah Kyle yang masih duduk di sampingnya.
Kyle merapatkan selimut Audrey agar istrinya itu merasa hangat.
"Terima kasih," ucap Kyle seraya mengusap lembut kepala Audrey.
"Untuk?"
"Untuk semua perjuangan luar biasamu karena sudah mengandung Olivia selama sembilan bulan, lalu melahirkannya dengan bertaruh nyawa dan menahan semua rasa sakit." Kyle mencium kening Audrey cukup lama.
"Aku menikmati kehamilanku," cerita Audrey seraya tersenyum.
"Setiap hari dikirimi makanan oleh orang asing. Tanpa perlu menyebutkan aku ingin makan apa, tiba-tiba makanan yang masih berada di pikiranku sudah tergantung di pagar depan."
"Bagaimana kau bisa melakukan itu semua, Kyle? Kau punya ilmu baru membaca pikiran orang?" Tanya Audrey yang penasaran sekali.
Namun Kyle malah mengendikkan bahu.
"Sepertinya ilmuku hanya berlaku padamu, atau mungkin kita memang punya ikatan batin yang kuat?" Kyle meraih tangan Audrey dan mengecupnya.
"Aku bahkan selalu mual dan muntah-muntah selama sembilan bulan kemarin. Apa kau juga mual dan muntah-muntah sampai tidak bisa makan apapun?" Tanya Kyle khawatir.
"Aku sama sekali tidak mual dan muntah sejak awal kehamilan, Kyle!" Jawab Audrey yang langsung membuat Kyle terkejut.
Bukankah biasanya ibu hamil akan mual dan muntah di awal kehamilan?
"Mungkin ini hukuman untukku karena sudah menyakiti kamu," pendapat Kyle menerka-nerka.
"Kyle yang malang!" Audrey mengusap wajah Kyle yang yang kini sudah mendekat ke arahnya.
Kyle memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan Audrey yang sepertinya sudah berabad-abad tak Kyle rasakan. Tangan Kyle segera menggenggam tangan Audrey yang masih berada di wajahnya, lalu membawanya ke depan bibir untuk ia kecup dengan lama.
"Jangan pergi lagi, Audrey!" Pinta Kyle dengan tatapan memohon.
"Tidak akan."
"Kita menikah lagi setelah kau pulih, ya!" Ajak Kyle yang sudah berganti dengan nada merayu.
"Kita sudah menikah, Kyle. Dan kita tidak pernah berpisah. Kenapa kita harus menikah lagi?" Tanya Audrey tak mengerti.
"Karena sekarang aku adalah Kyle yang baru. Jadi, aku mau kita menggelar sebuah pesta pernikahan lagi. Kau memakai gaun pengantin lagi dan aku mengenakan jas pengantin," tutur Kyle mengungkapkan rencana di kepalanya.
"Konyol!" Gumam Audrey yang masih sedikit keberatan.
"Itu bukan hal konyol. Kita akan menikah lagi nanti," ucap Kyle terap bersikeras.
"Baiklah! Mungkin kita bisa menggelar pernikahan kedua kita berbarengan dengan acara syukuran kelahiran Olivia," usul Audrey yang akhirnya mengabulkan permintaan Kyle.
"Aku setuju!" Kyle bersorak senang, dan Audrey langsung membungkam mulut suaminya tersebut agar berhenti berteriak.
Ini bahkan sudah lewat tengah malam, dan Kyle malah mau berteriak seperti orang gila.
"Aku mencintaimu, Audrey!" Bisik Kyle akhirnya yang langsung membuat Audrey melengkungkan bibirnya.
"Aku juga mencintaimu, Kyle!" Jawab Audrey ikut berbisik nyaris tanpa suara.
Kyle mendekatkan wajahnya ke arah Audrey dan mengecup bibir Audrey yang sekian lama Kyle rindukan.
Audrey hanya diam dan tak melakukan penolakan. Jadi Kyle melanjutkan aksinya dan mengecup dengan semakin dalam, memaksa Audrey untuk membalas ciumannya. Kini pasangan yang sudah terpisah selama berbulan-bulan tersebut saling memagut, seolah sedang meluapkan kerinduan di dalam hati masing-masing.
"Oweek!" Terdengar suara tangis Olivia dari dalam box bayi.
Audrey hendak menyudahi ciumannya bersama Kyle, namun suaminya itu menolak.
"Sebentar lagi!" Gumam Kyle yang masih terus mengecup bibir Audrey.
"Oweek!" Terdengar sekali lagi tangisan Olivia, namun yang kedua hanya singkat lalu tak terdengar lagi.
Audrey melihat sekilas ke arah box bayi Olivia, dan rupanya Mama Hanni sudah bangun serta menimang-nimang bayi Audrey dan Kyle tersebut.
Mama Hanni tersenyum ke arah Audrey seraya geleng-geleng kepala, lalu memunggugi Audrey dan Kyle yang masih asyik berciuman.
Baiklah!
Sepertinya Mama Hanni juga paham dan tak ingin mengganggu.
.
.
.
Terima kasih yang kemarin udah bantu doa biar levelnya Audrey naik. Eh, ternyata nggak naik dan malah terjun bebas ke dasar samudera 😂😂
Tapi nggak apa-apa. Othor tetap usahakan UP 3 eps hari ini.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.