Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
PENGUNTIT



"Kapan kau akan pulang, Kyle? Ini sudah satu bulan lebih, dan Aunty Bi terus bertanya kepadaku kenapa Kyle tak kunjung pulang dari Bali. Aku sudah kehabisan alasan." Tanya Daniel dari seberang telepon, sekaligus mengeluh dan melapor pada Kyle.


"Kalau Audrey sudah pulang, maka aku akan ikut pulang," jawab Kyle seraya mengganti-ganti saluran televisi di depannya dengan sedikit malas.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Kyle masih belum mengantuk.


"Kau sudah menemui Audrey dan bicara dengannya? Meminta maaf? Membujuknya agar ia mau pulang?" Tanya Daniel bertubi-tubi yang langsung membuat Kyle berdecak.


"Belum! Aku hanya mengawasi dan menjaga Audrey dari jauh selama sebulan ini," jawab Kyle dengan nada santai.


"Seperti seorang penguntit gila, begitu? Kau menguntit istrimu sendiri?"


Suara dan nada bicara Daniel terdengar lebay.


Dasar Daniel lebay!


"Aku hanya tidak mau membuat semuanya menjadi runyam, oke! Aku takut jika aku muncul di hadapan Audrey sekarang, wanita itu malah akan semakin marah kepadaku, lalu dia akan pergi dan bersembunyi lagi di suatu tempat. Aku tidak bisa lagi berjauhan dari Audrey! Aku benar-benar akan gila jika Audrey menjauhiku dan menghindariku lagi!" Tutur Kyle membuat pengakuan sekaligus berkata jujur.


"Lagipula, Audrey sedang hamil sekarang, jadi aku tidak mau membuatnya stress dan banyak pikiran," imbuh Kyle lagi yang langsung membuat Daniel berteriak lebay.


Baiklah!


Asisten Kyle itu sepertinya memang sudah berubah menjadi pria lebay sekarang.


"Audrey hamil? Kau serius? Hamil dengan siapa?"


"Tentu saja denganku! Kau pikir istriku berselingkuh dengan pria lain sampai ia hamil anak pria lain?" Sergah Kyle bersungut-sungut.


"Baiklah! Aku hanya bertanya. Tak perlu bersungut-sungut begitu! Aku pikir kau sama sekali tidak menyentuh Audrey selama kau amnesia, makanya aku bingung kenapa Audrey bisa hamil."


"Kau pikir aku pria impoten? Aku masih pria normal sekalipun aku amnesia!" Kyle kembali bersungut-sungut dan tawa Daniel terdengar semakin menggelegar.


"Iya, iya, aku percaya."


Nada bicara Daniel masih terdengar mengejek, dan Kyle hanya bisa berdedak kesal. Andai sekarang Daniel ada di hadapannya, pasti tinjuan Kyle sudah melayang ke pundak sahabatnya itu.


"Akhirnya berhasil juga membuat Kyle junior, hah?" Goda Daniel lagi yang semakin membuat Kyle menjadi sebal dan geram.


"Akan kututup teleponnya. Kau menyebalkan!" Jawab Kyle bersungut-sungut.


"Baiklah, aku akan berhenti bercanda. Jadi kapan kau akan pulang?"


Nada bicara Daniel sudah berubah serius.


"Jika Audrey sudah pulang, maka aku juga akan pulang! Bukankah tadi sudah kujawab?"


"Kapan Audrey akan pulang?"


"Entahlah! Aku juga tidak tahu. Yang pasti setelah hati dan pikirannya tenang!" Jawab Kyle sok diplomatis.


"Ck! Rumit sekali! Aku minta kenaikan gaji kalau begitu. Aku harus mengerjakan semua pekerjaanmu di sini."


"Baiklah! Akan kunaikkan gajimu sampai ke atap! Kau senang sekarang?" Jawab Kyle masih sedikit emosi.


"Kau urus sekalian semua pekerjaan di Bali, mumpung kau tinggal sementara disana! Agar kau tidak sibuk menjadi pengangguran dan seorang penguntit sinting."


"Sebenarnya bosnya disini aku atau kau? Kenapa malah kau yang mengatur-atur?" Tanya Kyle tak mengerti.


"Aku bosnya sampai kau kembali kesini! Paham?"


"Dasar menyebalkan!" Dengkus Kyle sebal.


"Hati-hati saat menjadi penguntit, Tuan Kyle Arthur! Jika Audrey memergokimu, dia akan langsung menjebloskanmu ke dalam penjara," nada bicara Daniel terdengar dibuat-buat untuk menakuti Kyle.


"Audrey istriku! Mana mungkin dia menjebloskanku ke penjara. Dasar sok tahu!" Kyle mematikan begitu saja telepon dari Daniel dan melempar ponselnya ke atas sofa. Pria itu menguap lebar dan akhirnya merasa mengantuk.


Kyle menyusun bantal agar nyaman berbaring dan membentangkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Kyle memang lebih nyaman tidur di sofa begini ketimbang di atas tempat tidur yang hanya membuatnya merindukan sentuhan dari Audrey.


****


Audrey baru kembali dari depan kompleks untuk berbelanja beberapa sayuran, saat wanita itu kembali menemukan kantung plastik yang tergantung di oagar rumah Tante Viola.


Audrey memeriksa isinya dan menemukan jambu merah yang terlihat sudah matang dan menggiurkan. Audrey memang sedang ingin makan buah ini, tapi Audrey belum mengatakannya pada siapapun sejak semalam, lalu siapa yang mengirimkan jambu ini pada Audrey?


Malaikat?


Audrey menatap ke sekeliling rumah Tante Viola untuk mencari seseorang yang mungkin terlihat mencurigakan. Namun tak ada siapa-siapa, karena ini masih pagi.


Sudah berulang kali Audrey mendapati bungkusan yang entah ditinggalkan oleh siapa di pagar rumah Tante Viola. Dan anehnya, isi dari bungkusan itu selalu sesuai dengan apa yang ingin Audrey makan.


Seakan ada seseorang yang bisa membaca pikiran dan isi hati Audrey dan kini sedang memata-matai Audrey.


Membuat Audrey menjadi resah saja!


Audrey akhirnya mengambil buah jambu tersebut dan membawanya masuk ke rumah. Mubazir juga kalau dibuang-buang, Audrey juga sedang ingin makan jambu merah.


Anggap saja ini pemberian dari orang baik yang mungkin kasihan atau iba pada Audrey.


.


.


.


Aku percepat saja timingnya.


Biar Audrey dan Kyle bisa cepat ketemu 😅


Gosah pakai drama kontainer lewat atau ketabrak becak pas ketemu, ya!


Bukan sinetron indosuar soalnya 😂😂😂😂


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.