Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
LELAH



"Daniel, Kyle mana?" Tanya Dad Nick pada Daniel yang baru datang dan membawa setumpuk dokumen.


"Bukannya masih dirumah, Uncle? Kyle tidak ke kantor hari ini, makanya Daniel mengantarkan pekerjaan Kyle ke rumah," jawab Daniel yang malah balik bertanya pada Dad Nick.


"Tapi tadi Kyle pamit pergi ke kantor setelah makan siang. Kau yakin Kyle tidak ke kantor?" Tanya Dad Nick sekali lagi.


"Daniel di kantor seharian, Uncle! Dan Kyle sama sekali tidak datang ke kantor hari ini," jawab Daniel bersungguh-sungguh.


Daniel mengeluarkan ponselnya dari saku dan baru saja akan menghubungi Kyle saat sebuah sapaan membuat Daniel mengurungkan niatnya.


"Selamat sore," sapa Ben yang kini berdiri di depan pintu masuk.


"Sore, Ben! Tumben kesini? Masuklah!" Dad Nick membalas sapaan Ben dengan ramah dan mempersilahkan pemuda itu untuk masuk ke dalam, bergabung bersama Daniel dan Dad Nick.


"Ben, lama tidak berjumpa!" Mom Bi yang baru datang dari arah dapur ikut menyapa Ben.


"Sore, Aunty."


Ben sudah duduk bersama Dad Nick, Mom Bi, dan Daniel di ruang tengah sekarang.


"Jadi, ada kabar apa, Ben?" Tanya Dad Nick membuia percakapan dan langsung melemparkan pertanyaan pada Ben.


"Sebenarnya, Ben hanya mau bertanya, Uncle. Apa ingatan Abang Kyle sudah kembali sepenuhnya?" Tanya Ben to the point yang malah membuat semua orang di ruangan tersebut mengernyit tak paham.


"Abang Kyle menemui Ben hari ini dan memaksa Ben memberitahu alamat Bang Arga," sambung Ben lagi menatap bergantian ke arah Dad Nick dan Mom Bi.


"Tadi pagi Kyle juga minta alamat suami Vale pada Daniel, Uncle! Tapi Daniel tak memberitahunya," sergah Daniel menimpali laporan Ben.


"Apa maunya anak itu? Bukankah dia sudah berjanji untuk melupakan Vale dan fokus pada Audrey?" Tanya Mom Bi tak mengerti.


"Kyle mendapat mimpi tentang kejadian penculikan yang menimpa Vale beberapa tahun yang lalu, Mom!" Audrey yang sedari tadi berdiri di dekat tangga dan ikut menguping obrolan di ruang tengah akhirnya angkat bicara.


Semua orang segera menatap ke arah istri Kyle tersebut.


"Kyle menganggap itu adalah sebuah firasat dan Kyle khawatir kalau Vale akan menjadi korban penculikan lagi. Itulah mengapa Kyle bersikeras ingin menemui Vale," sambung Audrey lagi yang raut wajahnya terlihat sendu.


Kyle begitu keras kepala ingin menemui Vale hingga pria itu memaksa adik Vale memberikan alamat lengkap Arga kepadanya.


Mungkin perasaan Kyle ke Vale memang belum luntur dan Kyle masih sangat mencintai istri Arga itu.


"Tapi bukankah Kyle bisa bertanya pada keluarga Rainer atau menghubungi Vale via telepon dan tak perlu menemui Vale secara langsung." Pendapat Mom Bi yang merasa tak mengerti dengan sikap labil Kyle.


"Kyle juga mengatakan pada Daniel kalau alasan hubungannya dengan Vale kandas belum ada yang memberitahu Kyle kronologi sebenarnya, dan Kyle bersikeras mau mendengarnya langsung dari Valeria!" Ujar Daniel menyampaikan kata-kata Kyle pagi tadi.


Dan Audrey juga mendengar dengan jelas alasan Kyle yang itu.


"Ck! Dia bisa bertanya pada siapa saja! Kenapa harus bersikeras menemui Vale?" Decak Dad Nick yang sepertinya juga ikut kesal pada Kyle.


Daniel segera menekan nomor Kyle di ponselnya dan menghubungi sahabat sekaligus atasannya tersebut.


"Halo, Daniel!"


Tak butuh waktu lama dan Kyle sudah mengangkat panggilan . Segera Daniel menyalakan pengeras suara.


"Kyle, kau dimana?" Tanya Daniel to the point.


"Masih di jalan menuju ke rumah suaminya Vale. Kenapa memang?"


"Jangan mengganggu rumah tangga Vale, Kyle!" Daniel memperingatkan Kyke dengan tegas.


"Aku tidak mengganggu. Aku hanya ingin memastikan kondisi Valeria!"


"Kak Vale baik-baik saja, Bang! Cepatlah pulang dan jangan menemui Kak Vale!" Ben akhirnya tak tahan untuk tidak ikut angkat bicara.


Kyle mematikan sambungan telepon secara sepihak setelah mendengar peringatan dari Ben. Daniel mencoba menghubungi kembali namun ponsel Kyle sudah mati.


"Dia benar-benar keras kepala," gumam Daniel menatap pada semua orang, dan tatapan Daniel berhenti di Audrey yang sedang mengusap airmata di pelupuk matanya.


Audrey tak berucap sepatah katapun dan wanita itu segera berlari menaiki tangga.


"Audrey!" Mom Bi dengan cepat menyusul sang menantu.


"Audrey, Sayang!" Mom Bi mendorong pintu kamar Audrey dan langsung terlihat Audrey yang sedang menangis terguguu sedang duduk di tepi tempat tidur.


Mom Bi segera memeluk erat menantunya tersebut, berharap bisa menyalurkan kekuatan untuk Audrey.


"Audrey mau pulang, Mom!" Cicit Audrey di sela-sela isak tangisnya.


"Audrey dengarkan Mom! Kyle pasti akan segera pulang. Valeria pasti akan menjelaskan semuanya dan membujuk Kyle agar dia kembali pulang. Tolong bersabarlah, Audrey!" Pinta Mom Bi yang matanya sudah ikut berkaca-kaca.


Bersabar?


Audrey kurang bersabar bagaimana selama ini?


Bukan sekali dua kali Kyle mendesahkan nama Vale saat pria itu mencumbu Audrey.


Tak bisa digambarkan lagi, betapa sakitnya hati Audrey yang hanya menjadi pemuas nafsu Kyle semata.


"Audrey ingin pulang ke rumah Mama, Mom! Audrey butuh menenangkan diri," ucap Audrey lagi tetap pada pendiriannya.


Audrey sudah lelah.


Audrey sudah lelah menunggu ingatan Kyle kembali.


Audrey sudah lelah membuat suaminya itu kembali jatuh cinta kepadanya.


Untuk apa Audrey berusaha, jika yang ada di kepala Kyle hanya Vale, Vale, dan Vale?


Kyle 22 tahun tidak akan pernah bisa menjadi Kyle 27 tahun.


Mom Bi sudah kehilangan kata-kata sekarang. Tidak tahu lagi harus menghibur Audrey bagaimana. Kyle benar-benar sudah keterlaluan kali ini.


"Audrey hanya ingin pulang, Mom!" Ucap Audrey sekali lagi berusaha menyeka airmatanya yang terus jatuh bercucuran.


"Mom akan mengantarmu pulang," jawab Mom Bi seraya merapikan rambut Audrey dan menyeka airmata di wajah menantunya tersebut.


Audrey adalah sosok istri dan menantu yang sempurna. Bodoh sekali jika Kyle menyia-nyiakan Audrey hanay demi mengejar masalaunya bersama Valeria yang bahkan sudah tak ada lagi sekarang.


Mom Bi membantu Audrey mengemasi beberapa bajunya. Audrey meninggalkan sepucuk surat untuk Kyle yang ia selipkan di bawah tumpukan baju sang suami. Setelah semuanya siap, Audrey menyeret koper kecilnya keluar dari kamar, lalu menuruni tangga.


Daniel dan Ben sudah pamit pulang dan hanya tinggal Dad Nick yang ada di ruang tengah. Pria paruh baya itu langsung memeluk Audrey yang kembali menangis tergugu.


Malam itu juga, Mom Bi dan Dad Nick mengantar Audrey pulang ke kediaman Abraham dan mungkin siap menerima murka dari Hans Abraham.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.