
"Valeria diculik!"
"Valeria melarikan diri!"
"Valeria jatuh ke sebuah jurang."
"Abang Kyle, tolong Vale!"
"Valeria! Valeria!"
"Valeria, kau dimana?"
Kyle tak berhenti menyebut-nyebut nama Valeria meskipun kedua mata pria itu masih terpejam. Sebuah suara di dalam mimpinya, yang seolah sedang memberitahu Kyle tentang kondisi Vale, membuat Kyle tak berhenti memanggil nama mantan kekasihnya tersebut.
"Valeria! Kau dimana, Sayang!"
Kyle memanggil Vale sekali lagi.
Audrey yang sudah bangun duluan, karena merasakan Kyle yang bergerak-gerak gelisah disampingnya, hanya menatap nanar pada Kyle yang tak berhenti menyebut nama Valeria.
"Valeria! Valeria, tunggu aku," teriak Kyle sekali lagi yang semakin membuat hati Audrey kian teriris.
Baru semalam Audrey merasa bahagia karena sudah kembali menemukan tatapan penuh cinta dari Kyle, namun pagi ini hati Audrey harus kembali terluka karena Kyle yang terus saja memanggil nama Valeria dalam tidurnya.
Audrey yang tak tahan lagi, memilih untuk beranjak dari atas tempat tidur dan masuk ke kamar mandi dengan cepat. Audrey menyalakan shower kamar mandi, lalu membiarkan air dingin itu mengguyur tubuh serta hatinya yang sedang terluka.
Audrey menumpahkan tangisnya di bawah guyuran air shower.
Audrey tidak tahu kenapa ia menjadi secengeng ini. Tapi Audrey hanya ingin menangis sekarang.
****
Audrey sudah selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Kyle. Wanita itu lanjut duduk di ruang makan sambil menyesap teh di cangkirhya, saat samar-samar telinganya mendengar Kyle yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Minta mereka menjemput sekarang, Daniel! Aku harus pulang sekarang!" Nada bicara Kyle terdengar begitu khawatir
Seharusnya liburan Kyle dan Audrey memang masih dua hari lagi di pulau ini. Lalu kenapa mendadak Kyle ingin pulang sekarang?
"Hubungi saja Mom atau Dad kalau kamu tak bisa mengurusnya! Dasar tidak berguna!"
"Aku mau helikopter menjemputku ke pulau hari ini! Liburanku sudah selesai!" Nada bicara Kyle sudah naik tujuh oktaf dan sepertinya pria itu emosi sekali.
Kyle sudah selesai menelepon Daniel dan pria itu hendak keluar dari kamar saat ia memergoki Audrey yang menguping pembicaraannya dengan Daniel.
"Kita akan pulang hari ini. Berkemaslah!" Ucap Kyle dengan nada dingin pada Audrey.
"Kenapa mendadak, Kyle? Bukankah seharusnya kita pulang dua hari lagi?" Protes Audrey seraya mengikuti langkah Kyle yang masuk ke ruang makan untuk mengambil minum.
"Aku akan pulang hari ini! Jika kau masih ingin disini, silahkan saja!" Jawab Kyle ketus.
Audrey hanya menghela nafas kasar dan berusaha mengumpulkan kesabarannya.
"Kyle," Audrey mendekat ke arah Kyle dan mengulurkan tangannya hendak mengusap pundak pria itu, saat tiba-tiba Kyle menyentak tangan Audrey dengan kasar.
Audrey tidak tahu Kyle kenapa.
Tapi tadi malam sikap Kyle tidak sekasar ini kepadanya.
"Kyle, ada apa denganmu?" Tanya Audrey menatap bingung ke arah Kyle.
Namun mendadak suara-suara yang mirip sebuah percakapan terngiang-ngiang di telinga Kyle dan terus berputar-putar di kepalanya
"Itu Audrey, putri bungsu di keluarga Abraham."
"Cantik, Bang! Jadiin pacar, gih!"
"Dia sudah menikah dan punya suami."
Sudah menikah?
Punya suami?
"Yang menabrak Abang tadi namanya Audrey, pemilik Wedding Organizer yang mengatur acara malam ini, sekaligus adik dari abang Zayn."
"Vale dengar dia memang sudah menikah dan bersuami. Tapi suaminya tidak datang malam ini."
"Kyle!" Tepukan dari Audrey segera menyentak lamunan Kyle tentang suara-suara yang terngiang di kepalanya.
Kyle menatap lekat pada Audrey yang kini menatap bingung ke arahnya.
"Kau baik-baik saja, Kyle?" Tanya Audrey yang raut wajahnya sudah berubah khawatir.
Kyle tak langsung menjawab pertanyaan Audrey, dan pria itu malah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Audrey, apa kau pernah menjalin hubungan dengan pria lain sebelum kita menikah?" Tanya Kyle tiba-tiba yang membuat Audrey mengernyit tak paham.
"Maksudku, apa kau pernah menikah dengan pria lain sebelum kita menikah?" Kyle mengulangi pertanyaannya dan yang ini seperti sebuah sayatan sembilu di hati Audrey.
Audrey tak menyangka jika Kyle akan kembali mengungkit hal ini.
"Ya," jawab Audrey lirih.
"Tapi aku sudah lama berpisah dengan mantan suamiku saat kita mulai menjalin hubungan," sambung Audrey lagi berusaha menjelaskan pada Kyle.
Namun Kyle tak berucap sepatah katapun setelahnya dan hanya melempar tatapan dingin ke arah Audrey. Pria itu sudah berlalu masuk ke dalam kamar.
Tatapan dingin dari Kyle sudah cukup membuat hati Audrey merasa tercabik-cabik sekarang.
Audrey berlari keluar dari rumah dan terus berlari menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah pantai dengan airmata yang berlinang menenuhi wajahnya. Tubuh Audrey jatuh terduduk di atas pasir putih dan kini wanita itu menutup wajahnya sambil menangis tergugu.
Ada apa sebenarnya dengan Kyle?
Kenapa pria itu sikapnya cepat sekali berubah?
Dimana Kyle-nya Audrey yang romantis dan dewasa?
.
.
.
Ingatan Kyle kembali. Tapi cuma secuil-secuil dan masih kacau.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.