
Hanya ada kebisuan di sepanjang perjalanan pulang. Audrey memilih untuk membuang pandangannya keluar jendela mobil, mengabaikan Kyle yang fokus pada jalan di depannya.
Jalan mobil Kyle sedikit tersendat karena lalu lintas yang padat. Di saat bersamaan, pandangan Audrey tak sengaja tertumbuk pada gedung apartemen di sisi jalan. Ada unit apartemen milik Kyle di gedung tersebut dan Audrey belum mengunjunginya lagi sejak kecelakaan yang menimpa Kyle.
Banyak kenangan manis Audrey dan Kyle di apartemen tersebut yang pasti akan langsung berkelebat jika Audrey masuk ke sana.
"Kau tahu, aku pernah punya impian untuk membeli salah satu unit apartemen di gedung itu." Kyle menunjuk ke arah gedung apartemen yang sejak tadi ditatap oleh Audrey.
Kyle menggeleng-gelengkan kepalanya dan sedikit terkekeh.
"Mimpi yang konyol bukan?"
"Tidak konyol! Kau sudah membelinya, Kyle!" Ucap Audrey cepat yang sontak membuat Kyle terkejut.
"Kau punya satu unit apartemen di gedung itu. Milikmu!" Ucap Audrey sekali lagi dengan nada bersungguh-sungguh.
"Benarkah? Kapan aku membelinya?" Tanya Kyle yang terlihat bingung.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya kau membeli apartemen itu. Karena sejak awal kita menjalin hubungan, kau sudah memilikinya. Mungkin kita bisa menanyakannya pada Mom atau Dad nanti," tutur Audrey memberikan solusi.
"Bisa kita mampir kesana?" Kyle membelokkan mobilnya ke arah basement gedung apartemen.
"Kau bawa kuncinya?" Tanya Kyle lagi pada Audrey sembari pria itu memarkirkan mobilnya di basement gedung.
Audrey memeriksa tasnya untuk mencari tahu.
"Tidak ada, tapi aku masih ingat password-nya," jawab Audrey setelah memeriksa tasnya.
"Unit nomor berapa?"
"Seratus tiga," jawab Audrey cepat.
"Ayo turun!" Kyle mengendikkan dagunya ke arah pintu mobil.
Audrey menarik nafas panjang berulang kali sebelum melepas sabuk pengamannya dan ikut turun dari mobil.
Pasangan suami istri tersebut segera masuk ke dalam lift yang ada di lantai basement dan segera menuju ke lantai dua puluh lima.
****
Audrey mengetikkan password di depan pintu masuk.
Sejak Kyle mengajak Audrey ke apartemen mewahnya ini pertama kali, Kyle langsung mengubah password-nya memakai tanggal ulang tahun Audrey. Tentu saja, Audrey hafal di luar kepala.
"Sudah!" Lapor Audrey pada Kyle seraya membuka pintu unit apartemen milik Kyle tersebut.
Nafas Audrey sejenak tercekat, saat ia baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Ciluk baa!" Kyle membuka penutup mata Audrey dan sedikit menggoda istrinya tersebut saat ia menunjukkan unit apartemen miliknya yang akan menjadi saksi malam pertama Audrey dan Kyle malam ini.
"Kau yang menghiasnya?" Tebak Audrey yang sebenarnya juga sudah tahu jawabannya.
"Apa kau sedang mengejekku?" Kyle meraih tubuh Audrey dan segera membopong istrinya tersebut masuk ke dalam kamar.
"Aku capek, Kyle! Boleh aku langsung tidur saja?" Tawar Audrey dengan nada menggoda pada Kyle.
"Tidak!" Kyle sudah berada di atas Audrey, menahan tubuhnya sendiri dengan dua tangan, dan mendekatkan wajahnya ke arah Audrey.
"Kau bau!" Audrey mendorong wajah Kyle agar menjauh.
Pria itu hanya tergelak dan segera kembali berdiri, melepas kemeja serta celana panjangnya.
"Aku tunggu di dalam, Sayang!" Ucap Kyle tanpa menoleh ke arah Audrey.
Suami Audrey itu sudah menghilang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Mendadak Audrey merasa gugup dan bingung harus melakukan apa sekarang saat seruan dari Kyle kembali terdengar dari dalam kamar mandi.
"Audrey Sayang! Air hangatnya sudah siap!"
Audrey menarik nafas berulang kali dan segera melepaskan gaunnya, lalu menyusul Kyle masuk ke dalam kamar mandi.
Baru saja Audrey masuk, Kyle sudah menyambutnya dan segera melepaskan baju dalam yang masih dikenakan oleh Audrey. Kini dua tubuh itu tak lagi berpenghalang.
Kyle membimbing Audrey untuk masuk ke dalam bathtube, lalu Kyle juga ikut masuk, dan duduk di belakang Audrey. Menyusuri setiap jengkal tubuh seputih pualam milik Audrey.
Jemari Kyle begitu lincah bergerak, mengusap, dan membelai setiap titik sensitif dari tubuh Audrey dan tentu saja hal itu sukses membuat Audrey merasa melayang.
"Kyle," Audrey sudah berbalik dan kini mengalungkan kedua lengannya di leher Kyle.
"Bagaimana?" Kyle mengecup singkat bibir Audrey.
Namun yang terjadi selanjutnya, Audrey justru menarik kepala Kyle dan mengulangi ciuman singkat mereka tadi menjadi ciuman yang dalam dan panas. Audrey benar-benar agresif dan terus mencecap bibir Kyle.
"Ayo kita sudahi, Sayang!" Rayu Audrey yang semakin merapatkan tubuhnya ke arah Kyle.
"Kau bergairah?" Goda Kyle yang sepertinya senang sekali dengan tingkah agresif Audrey.
"Ayo, Kyle!" Audrey memegang milik Kyle yang sebenarnya memang sudah menegang sejak tadi. Istri Kyle itu melempar tatapan nakal ke arah Kyle dan terus memijit dengan lembut milik Kyle di bawah sana.
"Audrey," Kyle tak tinggal diam. Saat Audrey sibuk dengan miliknya, tangan Kyle bergerak cepat menangkup kedua buah dada Audrey hingga sang empunya memekik kaget.
"Kyle!"
"Ujungnya juga menggiurkan," Kyle menjilati puncak dada Audrey, dan sengaja memainkannya hingga Audrey merasa kegelian.
"Kyle, hentikan!" Audrey menangkup wajah Kyle dan meminta pria itu berhenti untuk bermain-main dengan kedua buah dadanya.
"Tidak bisa berhenti!" Kyle menatap ke dalam manik mata Audrey.
Lidah dan mulutnya berhenti, kini ganti tangannya yang bermain-main.
"Ayo kita sudahi, aku punya kejutan untukmu!" Rayu Audrey yang masih menangkup wajah Kyle.
Kini Audrey tak hanya sekedar menangkupnya, namun juga mengecup bibir Kyle yang tentu saja langsung disambut oleh pria itu dengan agresif.
"Kejutan apa?" Tanya Kyle di sela-sela ciumannya bersama Audrey.
"Kau akan menyukainya nanti." Jawaban Audrey membuat Kyle semakin penasaran.
Kyle langsung bangkit berdiri, meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan juga tubuh Audrey. Pria itu lanjut menggendong Audrey keluar dari kamar mandi.
Kyle baru saja menurunkan Audrey dari gendongannya saat tiba-tiba Audrey sudah mendorong tubuh suaminya itu ke atas tempat tidur. Kyle semakin kaget saat Audrey sudah membuka handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya, dan langsung menggenggam miliknya yang masih setengah terbangun.
"Sayang, bisakah kau melakukannya dengan lembut?" Protes Kyle segera terhenti tatkala Audrey mulai memasukkan milik Kyle ke dalam mulutnya.
Oh, ya ampun!
Audrey menatap sejenak pada Kyle, sebelum melanjutkan aktivitasnya memainkan milik Kyle yang kini masih berada di dalam mulut Audrey. Kyle tentu saja jadi tak tahan untuk tidak meracau dengan sikap agresif Audrey tersebut.
"Audrey!" Kyle semain tak terkendali, saat Audrey mempercepat gerakan menghisapnya.
Kyle benar-benar tak tahan lagi. Pria itu menghentikan dengan paksa apa yang dilakukan oleh Audrey, dan dengan cepat membaringkan Audrey di atas tempat tidur.
"Kyle, pelan-pelan!" Pekikan Audrey rupanya tak di dengar oleh Kyle karena pria itu langsung melesakkan miliknya ke dalam milik Audrey begitu saja.
"Auuuw!" Audrey sedikit merintih saat merasakan hujaman dari milik Kyle yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil.
Rasanya mengganjal sekali.
"Apa rasanya masih sakit?" Tanya Kyle khawatir.
"Tidak! Aku hanya kaget," jawab Audrey yang wajahnya kini bersemu merah.
Audrey memainkan jarinya di dada bidang Kyle.
"Cepatlah bergerak, Kyle! Kenapa kau hanya diam saja?" Audrey menangkup gemas wajah Kyle yang kini tergelak.
Kyle memulai pergerakannya bersamaan dengan Audrey yang segera meraup bibir suaminya tersebut dan mencecapnya dengan agresif.
Tentu saja hal itu membuat Kyle semakin bersemangat.
Kyle menyukai Audrey yang tak malu-malu dan sangat pandai merayunya.
Ouh!
Kyle memang sudah tergila-gila pada istri agresifnya ini.
Kyle mempercepat gerakannya saat ia merasakan milik Audrey yang semakin terasa menjepit dan menyedot-nyedot miliknya.
Audrey menarik turun kepala Kyle dan langsung mencecap bibur Kyle dengan liar, bersamaan dengan Kyle yang mencapai pelepasannya. Seperti Audrey juga merasakan hal yang sama.
"I love you, Kyle!" Bisik Audrey yang langsung membuat bibir Kyle melengkungkan senyuman.
"I love you too, Audrey sayang!" Kyle mengecup kening Audrey cukup lama sebelum tubuh pria itu berguling ke samping, dan segera mendekap Audrey dengan erat.
"Audrey!" Teguran Kyle lagi-lagi menyentak lamunan Audrey tentang malam pertamanya bersama Kyle di apartemen ini.
"Audrey, aku lapar!" Keluh Kyle seraya memegangi perutnya.
"Kau tadi baru saja makan beef steak, Kyle!" Ujar Audrey merasa heran.
Cepat sekali Kyle lapar.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku ingin makan camilan atau apa saja untuk ganjal perut. Aku tidak bisa tidur kalau perutku keroncongan," tutur Kyle yang langsung membuat Audrey mengangguk.
Sejak dulu Kyle memang tidak bisa tidur kalau pria itu lapar dan belum bercinta dengan Audrey.
"Aku akan ke minimarket di seberang jalan dan mencari camilan untukmu," Audrey meletakkan handbag-nya di sofa ruang tengah dan mengambil dompet.
"Aku temani!" Ucap Kyle cepat yang langsung berjalan ke arah pintu utama apartemen.
Audrey hanya tersenyum tipis dan segera mengikuti langkah Kyle yang sudah terlebih dahulu keluar menuju ke lift.
.
.
.
Adegan MP yang kemarin othor skip udah othor tulis disini ya.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.