Remember Me Please, Hubby!

Remember Me Please, Hubby!
MUAL



Kyle sudah selesai membereskan meja kerjanya dan bersiap pulang ke rumah. Bersiap mengurung dirinya di dalam kamar lagi dan menyesali semua kebodohannya serta rasa bersalahnya pada Audrey.


Ya, hanya saat di kantor ini Kyle bisa sedikit melupakan kerinduannya pada Audrey. Namun saat Kyle kembali ke rumah ataupun ke apartemennya, bayangan Audrey akan kembali menari-nari di kepalanya.


Kyle benar-benar merindukan istrinya tersebut.


Dan ini sudah satu bulan sejak menghilangnya Audrey.


Dan itu artinya, sudah sebulan juga sejak Kyle mencari-cari keberadaan Audey yang seakan hilang ditelan bumi. Sekeras apapun Kyle mencari, tetap tak ada titik terang mengenai keberadaan Audrey.


Kau dimana, Audrey!


Cepatlah kembali!


Aku merindukanmu!


Aku sangat merindukanmu.


"Kyle, kau sudah mau pulang?" Teguran Daniel segera membuyarkan lamunan Kyle.


"Ya!" Jawab Kyle cepat meskipun sedikit tergagap.


"Kau sudah bertanya pada Thalia tempat membeli peach tadi?" Kyle balik bertanya pada Daniel.


"Astaga! Aku lupa!" Daniel menepuk keningnya sendiri karena melupakan pesan Kyle yang sedang ngidam buah peach.


Kyle hanya berdecak dan lanjut mengayunkan langkahnya keluar dari ruang kerjanya.


"Aku akan mampir ke rumah Ayah dan Bunda. Masakan Bunda biasanya begitu lezat dan mampu membangkitkan selera makan," ungkap Kyle yang kini berjalan bersisian bersama Daniel menyusuri lorong menuju ke arah lift.


"Aku boleh ikut kau ke rumah Bundamu?" Tanya Daniel pura-pura serius.


"Aku akan melapor pada Thalia kalau Daniel tak mau lagi makan masakan Thalia dan memilih makan di rumah orang," Kyle mengancam Daniel dan sedikit berkelakar.


"Kau akan membuatku tidur di teras semalaman, Bung!" Jawab Daniel yang pura-pura bersungut.


"Baguslah! Setidaknya kau akan bisa merasakan rasanya diriku yang tidur sendiri setiap malam selama sebulan terakhir," sahut Kyle seraya tersenyum kecut.


Daniel menepuk punggung Kyle dan kini dua pria itu sudah berada di dalam lift yang akan mengantar mereka turun ke lantai paling bawah gedung.


"Audrey pasti akan pulang tak lama lagi, Kyle! Lalu hubungan kalian akan membaik lagi," ucap Daniel yang langsung diaminkan oleh Kyle.


Ponsel Daniel berdering.


"Ibu negara sudah telepon. Sebaiknya aku bergegas pulang sekarang," pamit Daniel bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


"Jangan lupa untuk bertanya pada Thalia dimana membeli buah peach tadi!" Pesan Kyle setengah berteriak karena Daniel yang sudah dengan cepat meninggalkan Kyle yang masih berjalan dengan santai.


"Oke! Akan kukirimkan lokasinya nanti kalau sudah ketemu jawabannya!" Janji Daniel yang ikut-ikutan berteriak sebelum pria itu menghilang di pintu utama gedung kantor Arthur Company.


Kyle berjalan santai menghampiri mobilnya yang masih berada di halaman parkir. Tanpa berlama-lama, Kyle langsung memacu kuda besi tersebut ke arah rumah Ayah Satria yang sudah cukup lama tak Kyle sambangi.


****


Setelah berjibaku dengan aspal hitam dan polusi asap selama hampir dua puluh menit, Kyle akhirnya tiba di rumah Ayah Satria. Dan kebetulan Emily dan Aileen juga sedang berada di rumah ayah kandung Kyle tersebut.


"Kyle! Lama tidak datang kesini," sapa Bunda Naya saat Kyle baru turun dari dalam mobil.


"Sibuk di kantor, Bund!" Jawab Kyle mencari alasan.


"Sudah ada kabar tentang keberadaan Kak Audrey?" Tanya Emily yang sudah ikut-ikutan menghampiri Kyle dan meninggalkan Aileen di atas kursi teras.


Masih Emily yang sembrono.


"Belum ada!" Jawab Kyle seraya setengah berlari dan menghampiri Aileen yang hampir jatuh terjungkal.


"Emily!" Bunda Naya menggeram pada sang putri yang sembrono.


"Maaf, Bund!" Ucap Emily seraya meringis.


Kyle yang kini sudah menggendong Aileen, tak berhenti menghirup aroma dari tubuh bayi berusia satu tahun tersebut.


Kenapa wangi khas bayi Aileen mendadak menjadi candu begini?


"Abang kenapa, sih?" Tanya Emily yang merasa heran dengan sikap janggal Kyle.


"Nggak kenapa-kenapa. Ini wanginya Aileen enak sekali. Kamu pakein parfum apa?" Tanya Kyle penasaran.


"Cuma minyak telon juga. Abang lebay!" Jaeab Emily seraya mencibir Kyle.


"Bunda masak apa? Ayah juga kemana? Kok nggak kelihatan?" Tanya Kyle bertubi-tubi.


"Ayah dapat tugas jaga sampai malam. Mungkin nanti jam sembilan baru pulang," jelas Bunda Naya.


"Suami kamu kemana?" Kyle ganti bertanya pada Emily karena tak melihat Galen.


"Jadi tadi kesini sendiri sama Aileen?" Tanya Kyle menunjukkan raut wajah khawatir.


"Yaelah! Cuma 200 meter, Bang! Rumah Bunda dari rumah Galen. Emily sekalian ngajak Aileen jalan-jalan sore tadi, pake kereta!" Emily mengendikkan dagunya ke arah kereta bayi Aileen yang ada di sudut teras.


"Mungkin Kyle masih lupa kalau rumah mertua kamu cuma di depan kompleks, Em!" Tukas Bunda menengahi perdebatan Kyle dan Emily.


"Enak dong, kalau ribut tinggal lari pulang ke rumah Bunda," goda Kyle pada Emily.


Dan Emily hanya mencibir.


"Tadi katanya mau makan, Kyle? Tanya-tanya Bunda masak apa," Bunda Naya kembali mengingatkan Kyle tentang pertanyaannya di awal tadi.


"Oh, iya. Bunda masak apa? Kyle sedikit kehilangan nafsu makan belakangan ini," tanya Kyle mengulangi pertanyaannya pada Bunda Naya.


"Cuma capcay sama ayam goreng tepung. Atau kamu mau Bunda masakin yang lain?" Tawar Bunda Naya.


"Kyle makan pakai capcay saja, Bund! Capcay Bunda biasanya enak dan bikin nambah," ucap Kyle sedikit memuji.


"Ayo masuk!" Ajak Bunda Naya selanjutnya.


Emily hendak mengambil Aileen dari gendongan Kyle namun Kyle menolaknya dan terus mengajak bayi satu tahun tersebut masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke meja makan.


Bunda Naya baru membuka tudung saji, saat selera makan Kyle tiba-tiba menguap pergi.


Ya ampun!


Mana perut Kyle keroncongan sekarang.


Tapi Kyle mendadak merasa eneg dan sedikit mual mencium aroma capcay buatan Bunda. Ini sebenarnya apa yang salah dengan Kyle?


"Sini Aileen biar Bunda yang gendong. Kamu makan dulu!" Titah bunda Naya seraya mengambil Aileen dari tangan Kyle dan ganti menyodorkan sepiring nasi pada Kyle.


Dan lagi-lagi, nasi yang menggunung di piring malah menimbulkan sensasi mual pada Kyle.


Dasar sialan!


"Kok wajah kamu pucat begitu, Kyle? Kamu kenapa?" Tanya Bunda Naya bingung.


"Kyle ke toilet dulu, Bund!" Pamit Kyle yang sudah melesat cepat ke arah toilet yang bersebelahan dengan dapur. Tak berselang lama, terdengar suara Kyle yang muntah-muntah dari dalam toilet dapur.


"Abang Kyle kenapa, Bund?" Tanya Emily yang sudah menyusul masuk ke dalam rumah.


"Bunda juga nggak tahu! Ini, kamu pegang Aileen dulu! Bunda mau memeriksa Kyle!" Bunda menyerahkan Aileen pada Emily dan wanita paruh baya itu ddngan cepat menyusul Kyle. Namun Kyle sudah keluar dari kamar mandi ddnagn wajah memerahnya saat Bunda datang.


"Kyle, kamu sakit?" Tanya Bunda Naya khawatir.


"Enggak, Bund! Kyle cuma mual-mual saja sejak pagi setiap melihat makanan," jawab Kyle yang denagn cepat menyambar tisue yang disodorkan oleh bUnda untuk mengusap wajahnya.


"Jadi kamu bewum makan sejak pagi?" Tanya Bunda Naya menyelidik.


"Makan buah saja, Bund! Cuma itu yang bikin nggak mual," jawab Kyle yang sudah kembali lagi ke ruang makan dan pria itu menutup makanan di atas meja dengan tudung saji.


"Udah kayak orang ngidam aja, Bang!" Ejek Emily sedikit terkekeh.


Dan Kyle hanya berdecak.


Kyle saja tidak hamil, masa iya Kyle ngidam.


Ada-ada saja teori ngawur Emily!


"Mungkin kamu sering telat makan, jadi asam lambung naik," Bunda Naya masih mencoba menerka-nerka.


"Kyle sudah ke dokter, Bund! Asam lambung Kyle normal dan tidak ada penyakit maagh juga. Udah dikasih obat antimual juga sama dokter tapi nggak berpengaruh apa-apa," cerita Kyle sedikit frustasi.


"Yaudah, jadinya sekarang mau dimasakin apa? Perut kamu harus diisi makanan, Kyle!" Bunda Naya membuka kulkas dan merasa bingung harus memasak apa untuk Kyle.


Dan disaat bersamaan, Kyle melihat tempat es krim warna magenta kombinasi putih di dalam kulkas Bunda Naya.


"Kyle boleh makan es krim itu saja tidak, Bund?" Tanya Kyle yang langsung membuat Bunda Naya dan Emily mengernyit heran.


Sejak kapan Kyle tertarik pada es krim rasa greentea?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.