
Will dan Audrey mendadak merasa canggung dengan pertemuan tak terduga ini.
"Kau sedang apa disini, Will?" Tanya Audrey akhirnya berusaha memecah kecanggungan.
Meskipun wanita itu terlihat salah tingkah.
"Mencari Teresa," jawab Will to the point.
Audrey langsung terdiam saat mendengar Will menyebut nama Teresa.
"Kau pernah bertemu dengannya, Audrey?" Tanya Will tiba-tiba yang sontak kembali membuat Audrey salah tingkah.
"Ti-tidak!" Jawab Audrey sedikit tergagap. Wanita itu berusaha untuk menguasai dirinya sendiri yang merasa gugup karena terpaksa berbohong pada Will.
Tapi Audrey sudah berjanji pada Teresa.
"Bukankah Teresa tinggal di rumahmu selama ini? Dia istrimu, Will!" Audrey tertawa kaku.
"Teresa pergi dari rumah dua tahun terakhir karena kontrak pernikahan kami sudah berakhir," jawab Will sedikit lirih.
"Kalian menikah kontrak?" Tanya Audrey dengan raut wajah tak percaya.
"Ya."
"Aku berusaha menjelaskannya padamu waktu itu. Tapi kau tidak mau mendengar dan langsung pulang begitu saja ke rumah orang tuamu," wajah Will menunjukkan sebuah penyesalan.
"Jadi kenapa mendadak kau mencari Teresa jika memang kontrak pernikahan kalian sudah berakhir?" Audrey memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Karena Timmy membutuhkan Teresa sekarang!" Nada bicara Will terdengar frustasi.
"Timmy? Apa itu anakmu dan Teresa?" Tebak Audrey seraya menghela nafas kasar.
"Ya," Will mengendikkan kedua bahunya.
"Timmy didiagnosa dokter mengidap Leukemia. Semua pengobatan dan terapi sudah dijalani tapi kemajuannya tak seberapa. Satu-satunya jalan yang bisa mempercepat kesembuhan Timmy hanyalah transplantasi sumsum tulang belakang."
"Kau ayahnya Timmy! Bukankah seharusnya itu tidak akan sulit?" Tanya Audrey menyela cerita Will.
"Tidak ada kecocokan di antara aku dan Timmy," jawab Will dengan nada lirih.
"Hanya Teresa yang bisa menyelamatkan nyawa Timmy. Dan aku tak tahu keberadaan wanita itu sekarang," Will kembali berucap dengan frustsi.
Pria itu juga menyugar rambutnya dengan kasar
"Teresa, kau sedang apa disini?"
"Audrey, maafkan aku!" Teresa memeluk erat Audrey dan hendak bersujud di kaki Audrey. Namun Audrey mencegahnya dengan cepat.
"Kau bekerja disini?" Tanya Audrey lagi karena melihat celemek waitress yang dikenakan Teresa.
"Hanya menggantikan temanku. Karena dia sedang sakit. Sambil aku mencari pekerjaan lain," jawab Teresa seraya menyeka airmatanya.
"Ayo duduk dulu!" Audrey membimbing Teresa untuk duduk di sudut resto.
"Kau tidak tinggal di rumah Will? Bukankah kau dan Will-"
"Kami sudah berpisah!" Jawab Teresa cepat sebelum Audrey menyelesaikan kalimatnya.
"Maaf atas semua perilaku burukku yang sudah membuat rumah tanggamu bersama Will jadi hancur, Audrey!" Ucap Teresa lagi dengan penuh penyesalan.
"Tapi kenapa kau berpisah dari Will? Bukankah kau sudah berhasil memberikan cucu untuk keluarga Atmadja?" Tanya Audrey tak paham.
"Mereka butuh seorang cucu dan aku butuh uang. Jadi aku langsung pergi setelah memberikan anakku pada mereka. Aku harus merawat Dareen," tutur Teresa menjelaskan pada Audrey.
"Dareen? Abangmu yang pernah kau ceritakan waktu itu?" Tanya Audrey menerka-nerka.
Teresa langsung mengangguk samar.
"Bagaimana kondisinya sekarang? Dia sudah membaik?" Tanya Audrey lagi merasa penasaran.
"Dia meninggal pekan lalu," jawab Teresa dengan nada datar.
"Setidaknya, dia tak merasa sakit lagi sekarang," Teresa memasang senyum menyedihkan.
"Teresa, aku turut berduka," Audrey menggenggam tangan Teresa.
"Aku hanya ingin menata hidupku sekarang, Audrey! Aku merasa kehilangan arah. Aku ingin mengambil kembali putraku, tapi rasanya mustahil karena aku yang sudah meninggalkannya bersama keluarga Atmadja dan menukarnya dengan uang untuk pengobatan Dareen," Teresa menangis tergugu.
"Kau ibu kandungnya, Teresa! Kau masih punya hak penuh atas putramu," hibur Audrey berusaha memberikan jalan keluar untuk Teresa.
Tapi rasanya mustahil juga mengingat betapa kerasnya keluarga Atmadja. Apalagi itu adalah cucu kesayangan mereka yang benar-benar mereka nantikan dan idam-idamkan.
Pewaris di keluarga Atmadja!
Jadi mereka pasti akan sangat menjaganya.
"Kau punya kenalan yang mungkin punya lowongan pekerjaan, Audrey? Aku ingin bekerja sementara ini sambil menenangkan pikiranku," Teresa sudah berhasil menguasai dirinya dan menyeka sisa airmata di wajahnya.
"Tolong bantu aku, Audrey!" Pinta Teresa sekali lagi seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya terlihat memohon hingga membuat Audrey menjadi iba.
"Info terakhir yang aku dengar, Abang Teresa di rawat di rumah sakit ini jadi aku mencari Teresa kemari karena aku pikir Teresa pasti sedang menjaga Abangnya sekarang. Tapi ternyata Abang Teresa sudah-"
"Sudah meninggal," gumam Audrey menyambung kakimat Will.
"Bagaimana kau bisa tahu, Audrey?" Will kembali merasa curiga pada Audrey.
"Aku tahu dimana Teresa, Will,"
"Dimana?" Sergah Will tak sabar.
"Di Lombok. Aku memberinya pekerjaan di resort milik keluargaku. Dan aku sebenarnya juga sudah berjanji untuk tak memberikan info tentang keberadaannya pada siapapun. Tapi mendengar ceritamu soal Timmy...."
Audrey menggigit hibur bawahnya merasakan nalurinya sebagai seorang ibu meskipun kini janin di kandungan Audrey masih sangat kecil.
Tapi apapun alasannya, anak tetaplah hal yang paling berharga di muka bumi ini.
Audrey bergegas membuka tasnya untuk mencari kertas untuk menuliskan alamat resortnya, saat kartu periksa kehamilan yang sejak tadi ia pegang tak sengaja terjatuh. Will memungut kertas itu dengan cepat dan membaca sekilas tulisan di atasnya.
"Kau hamil, Audrey?" Tanya Will seraya mengembalikan kartu periksa milik Audrey.
"Ya," jawab Audrey dengan raut datar dan langsung menerima kartu berwarna pink itu dari tangan Will dengan cepat.
Will langsung mematung seakan menyadari sebuah hal atau mungkin sebuah kesalahan.
Sementara Audrey yang sudah selesai menulis alamat resortnya, segera memberikannya pada Will.
"Jemputlah Teresa dan selamatkan putramu!"
Namun Will masih mematung.
"Aku pulang dulu, Will! Semoga kau cepat bertemu Teresa dan Timmy bisa segera sembuh," pungkas Audrey yang memilih untuk segera berlalu dari hadapan Will yang masih mematung.
.
.
.
Cerita lengkap Will dan Teresa akan ada judulnya tersendiri dan akan jadi side story dari karya yang ini. Sementara belum rilis karena masih menunggu Emily tamat. Konfliknya bakalan ruwet jadi othor nggak saranin kalian buat membacanya. Itu nanti cuma pelengkap (kayak soto aja pakai pelengkap segala 😅)
Othor juga nggak bakal promoin judulnya kemana-mana.
Silahkan cari sendiri yang merasa kepo 😂
Sekian penjelasannya.
Kita ketemu babang Kyle di next episode biar kalian mencak-mencak.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.