
Malam semakin merangkak.
Audrey yang tadi masih berceloteh bersama Kyle mendadak tak lagi bersuara saat kepala wanita itu sudah bersandar di pundak Kyle, dan matanya terpejam. Kyle mendekap tubuh Audrey lalu berbaring bersama istrinya tersebut di bawah naungan langit malam.
Kerlap-kerlip bintang menghiasi pekatnya langit malam ini.
Kyle merapatkan dekapannya pada Audrey, dan membiarkan kepala istrinya tersebut menumpu pada lengannya. Sesekali, Kyle mengecup puncak kepala Audrey dan tersenyum sendiri.
"Kyle," gumam Audrey yang kembali membuka matanya karena terpaan angin pantai yang sedikit menusuk kulit.
"Hmmm! Aku kira kau sudah tidur dan melupakan janjimu untuk ke dermaga," kekeh Kyle yang ternyata belum tidur.
"Udaranya dingin. Apa kau yakin akan berenang di dermaga malam ini?" Audrey mendadak merasa ragu.
Segera Kyle berguling dan menindih tubuh Audrey.
"Kau sudah berjanji kepadaku," ucap Kyle menatap tegas pada Audrey.
Wajah keduanya kini begitu dekat dan Audrey bjsa merasakan hembusan hangat nafas Kyle di wajahnya.
Kyle mengecup singkat bibir Audrey.
"Baiklah jika kau memaksa. Bisa kita pergi sekarang?" Audrey memberi isyarat pada Kyle agar menyingkir dari atas tubuhnya.
Kyle segera menyingkir dan membantu Audrey untuk bangun.
"Sebaiknya kita membawa handuk atau selimut," usul Audrey yang sudah berlari ke arah rumah untuk mengambil handuk.
Kyle masih menunggu di depan api unggun yang kini sudah mulai padam. Hanya tersisa bara di tumpukan kayu yang juga nyaris habis.
Audrey sudah kembali membawa dua handuk di tangannya. Wanita itu berjalan melewati Kyle dan langsung menuju ke arah dermaga. Kyle segera bangkit berdiri dan setengah berlari menyusul Audrey.
Setelah berjalan selama lima menit, Audrey dan Kyle akhirnya tiba di dermaga.
Air laut terlihat tenang malam ini. Audrey berjongkok sebentar dan mengamati permukaan air laut malam ini.
Wanita itu membayangkan dirinya dan Kyle yang melompat bersamaan ke dalam air lalu saling menggigil karena air laut yang begitu dingin beberapa bulan silam.
"Apa tujuan sebenarnya kita berenang malam-malam di dermaga? Dan siapa yang punya ide konyol itu?" Tanya Kyle yang sudah ikut berjongkok di samping Audrey.
"Kau!" Jawab Audrey seraya menunjuk ke dada Kyle.
"Aku?" Kyle menatap penuh tanya ke arah Audrey.
"Kau mengatakan, kalau pasangan suami istri berenang di dermaga saat tengah malam maka pasangan itu akan panjang umur dan hubungan pernikahannya akan bisa langgeng," tutur Audrey menjelaskan pada Kyle.
"Darimana aku mendapatkan teori aneh itu?" Tanya Kyle seraya tergelak.
"Dari sebuah artikel yang kau baca di kantor. Itu yang kau katakan kepadaku saat itu," jawab Audrey yang juga ikut tergelak.
"Baiklah mari kita coba agar kita sama-sama panjang umur," Kyle baru saja akan melepas kausnya, saat Audrey dengan cepat mencegah.
"Kita tidak melepas baju sendiri-sendiri, Kyle! Kita saling melepaskan baju pasangan kita," ucap Audrey yang segera membuat Kyle mengangguk paham.
"Baiklah, tidak masalah! Aku sudah sering menelanjangimu. Bukan begitu?" Kyle menghampiri Audrey dengan santai lalu meraih ujung dress tipis yang dikenakan Audrey dan menanggalkannya dengan cepat melewati kepala Audrey.
Audrey bergantian melepas kaus Kyle dan celana pria itu, menyisakan underwear, sama seperti halnya Audrey yang juga hanya mengenakan underwear dan sebuah bra.
"Airnya pasti dingin sekali," gumam Audrey seraya menggigit bibir bawahnya.
"Ayo kita coba!" Tanpa aba-aba, Kyle langsung meraih tubuh Audrey dan membawanya terjun ke dalam air. Dinginnya air laut langsung menembus ke dalam kulit Audrey dan Kyle.
Audrey mengusap wajahnya beberapa kali dan langsung menggigil.
Kyle hanya tergelak dan segera mendekap erat tubuh Audrey yang menggigil.
"Kau benar! Sensasinya sangat berbeda dengan kolam yang ada di rumah Dad," bisik Kyle yang semakin merapatkan dekapannya pada Audrey.
"Ayo kita naik, Kyle!" Ajak Audrey yang sudah menggigil.
"Sebentar lagi," Kyle masih mendekap tubuh Audrey yang kini terasa dingin.
Perlahan-lahan, Kyle membimbing tubuh Audrey untuk menepi dan naik kembali ke atas dermaga.
Audrey segera meraih handuk yang tadi ia bawa dan membalut tubuhnya serta tubuh Kyle, lalu mereka berdua tertawa bersamaan di atas dermaga.
"Jari-jariku terasa beku dan mati rasa," ucap Audrey seraya menunjukkan jari-jari tangannya pada Kyle.
Kyle langsung menggenggam erat jemari Audrey tersebut dan meniupnya beberapa kali. Kyle dan Audrey juga sudah saling mendekap, saat keduanya merasakan gerimis kecil yang sepertinya jatuh dari langit.
"Ayo pulang sebelum hujan semakin deras, Kyle!" Audrey menyambar bajunya dan juga baju Kyle lalu segera berlari menuju ke arah rumah.
Kyle menyusul langkah Audrey dengan cepat dan menyambar tubuh yahg terbalut handuk tersebut, lalu menggendongnya di punggung.
Audrey dan Kyle baru tiba di teras, saat hujan tiba-tiba mengguyur dengan sangat deras dan angin mulai bertiup kencang lagi. Kyle dan Audrey kembali tertawa bersama, sebelum akhirnya dua sejoli tersebut saling berpagutan di teras rumah.
Suasana semakin tak terkendali, dan Kyle dengan cepat menarik Audrey untuk masuk ke dalam rumah. Mereka melanjutkan ciuman mereka di teras tadi, dengan kedua tangan yang bergerak cepat untuk menanggalkan sisa baju dalam yang masih basah di tubuh mereka masing-masing.
Kyle terus mendominasi dan pria itu mendorong Audrey hingga menubruk ranjang. Kyle menatap sejenak pada manik mata hazel milik Audrey yang kini sedang menatapnya dengan penuh cinta.
Apa?
Tangan Audrey mengusap lembut wajah Kyle dan tatapan mata istrinya tersebut belum berubah. Bibir Audrey juga melengkungkan sebuah senyuman tipis yang membuat Kyle tidak tahan untuk tidak balas tersenyum pada istrinya tersebut.
Audrey mengecup lembut bibir bawah Kyle, dan bisa Kyle rasakan kehangatan dari tatapan Audrey yang menyergap masuk ke dalam relung hatinya.
Perasaan apa ini?
"Sayang," bisik Audrey yang tangannya masih mengusap lembut wajah Kyle dan bibir merekah Audrey yang masih mengecup bibir Kyle sesekali.
Ucapkan lagi, Audrey!
"Sayang," bisik Audrey sekali lagi yang rasanya langsung membuat Kyle ingin terbang.
Kyle suka suara lembut mendesah Audrey.
"Kyle," bisik Audrey sekali lagi, saat bibir menggiurkan itu ganti menciumi wajah Kyle.
Mencium dahi, lalu alis, mata, hidung, pipi. Setiap bagian wajah Kyle, semuanya mendapatkan kecupan lembut dari Audrey.
"Kyle, kau sudah kembali?" Tanya Audrey dengan senyuman indah yang terukir di bibirnya yang benar-benar membuat Kyle menjadi terpana.
Kembali?
Kembali kemana?
Entahlah, Kyle tidak tahu.
Karena yang Kyle tahu sekarang adalah Kyle yang sepertinya sedang jatuh cinta pada Audrey.
Kyle masih menatap Audrey dengan tatapan hangat penuh cinta, saat miliknya menyentak masuk ke dalam milik Audrey.
Wanita itu melenguh dan menggigit bibir bawahnya.
Apa Kyle terlalu kasar tadi?
Oh, sebaiknya Kyle bergerak perlahan agar Audrey ikut menikmati permainan ini dan tidak tersiksa dengan permainan kasar Kyle.
Segera Kyle mengecup bibir Audrey yang memerah karena gigitan dari Audrey sendiri. Perlahan tetapi pasti, Audrey mulai membalas kecupan bibir Kyle dan tubuh istri Kyle itu yang juga sudah mulai bergerak mengimbangi gerakan Kyle yang kali ini begitu teratur tanpa tergesa sedikitpun.
Audrey dan Kyle sama-sama menikmatinya.
Dua tubuh yang tak berpenghalang itu terus bergerak, hingga akhirnya keduanya mengejang bersamaan dan mencapai pelepasannya masing-masing.
"I love you, Audrey!"
"I love you so much!"
Kyle mengecup singkat bibir Audrey, lalu kening Audrey, dan pria itupun segera berguling ke sisi tubuh Audrey, mebdekap erat tubuh polos sang istri dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Audrey masih terdiam dan bibirnya melengkungkan senyuman tipis.
Akhirnya Audrey menemukannya.
Audrey sudah menemukan kembali tatapan penuh cinta dari Kyle.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.