
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Suasana yang terjadi di kediaman megah bak mahligai siang itu, jauh berbeda dari perspektif Jihan. Dia yang tadinya sempat gerogi bercampur malu, kini terlihat lebih rileks dan biasa saja, tetapi santun dan rasa hormat itu tetap terjaga.
Wanita paruh baya itu begitu bersahaja dan humble, tidak seperti orang kaya kebanyakan. Jihan yang sejak awal sudah mengagumi kecantikan wanita itu lewat layar TV yang sering ia tonton, ataupun lewat berita-berita yang tersebar di jejaring sosial, semakin mengagumi kala bertemu langsung dengan orangnya.
Semua itu bukanlah settingan belaka yang ditunjukkan pada khalayak umum, tidak! Namun, semua itu pure kesahajaannya.
Sudah lebih dari tiga puluh menit, Jihan berbicara dengan wanita paruh baya itu. Beliau meminta Jihan untuk mendesain beberapa pesanan yang harus selesai dalam waktu sebulan lebih. Tentunya dengan bayaran yang fantastis.
Butik Jihan adalah salah satu butik ternama di Edinburgh. Banyak rancangan-rancangannya yang dipakai orang-orang ternama, publik figur, dan kalangan elite lainnya. Tidak heran jika wanita lajang satu ini, memiliki waktu yang sangat minim untuk bersama sahabatnya.
Ia selalu kesusahan mencari dan menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan, untuk bertemu Vlora, sahabatnya. Meski sama-sama tinggal di kota yang sama, cukup sulit bagi keduanya untuk sekedar bertemu dan quality time.
Tanpa terasa, hari sudah hampir petang. Saking asik bercerita dengan wanita yang seumuran ibunya itu, Jihan bahkan sampai melupakan Given. Ia baru tersadar ketika wanita di hadapannya bertanya tentang bocah tampan itu.
"Ngomong-ngomong, si kecil tampan itu putramu?" tanya wanita itu.
Jihan tersenyum dan menggeleng. "Bukan, Nyonya! Dia anak dari sahabat baik saya," jawab Jihan masih full senyum.
Sedetik kemudian ia baru tersadar jika Given sudah tidak ada di sampingnya sedari tadi. Senyum itu seketika sirna tanpa jejak.
"Ma-maaf, Nyonya! Tapi saya harus mencari bocah itu, kalau tidak bisa habis saya dimakan mommy sama daddy-nya," ucap Jihan seraya bangkit berdiri dari tempatnya.
"Tenanglah! Pasti dia sedang bersama Hil," ucap wanita itu menenangkan Jihan yang tampak panik.
Hil? Who is she?
Melihat wajah Jihan yang tampak bingung dipenuhi tanya, wanita itu tersenyum lalu berkata, "Hil adalah seorang peri yang sangat suka pada anak-anak, dan dia sering menebarkan kebaikan bagi anak-anak berwajah manis, lalu mengajak berkeliling dengan kereta kencana."
"What?" Jihan tersentak dan langsung memekik tanpa sadar. "A-apa? Pe-peri? Jangan-jangan ... astaga, bagaiman dia akan kembali, Nyonya? Saya bisa dihukum mati sama orang tuanya." Jihan sudah memelas dengan kedua tangan yang saling bertaut.
Benar katamu, Giv. Tempat ini seperti di negeri dongeng. Oemji, buatlah peri itu mengembalikan Given secepatnya.
Jihan yang polos, percaya begitu saja. Wanita muda itu tampak khawatir setengah mati. Tanpa ragu ia hendak mendekat dan bermohon pada wanita tua itu, untuk segera mengembalikan Giv.
Tertawamu begitu cantik, Nyonya. Tetapi maaf, aku tidak terpukau. Saat ini nyawaku dalam bahaya. Oemji, aku harap ini benaran mimpi. Jika terbangun nanti, Giv sudah kembali dan kita tidak lagi berada di fuc*king fairyland ini.
Jihan mengutuk dalam hati. Ingin rasanya ia berlari kocar-kacir dari hadapan wanita itu. Otak barbar si cantik itu bahkan ragu, jika wanita di hadapannya bukanlah manusia biasa.
Seketika bulu kuduk Jihan meremang. Ia yang tadinya ingin menghampiri wanita itu, mendadak mundur dengan perlahan. Melihat Jihan yang ketakutan, wanita itu menghentikan tawa lalu mengajak Jihan ke ruang makan. Ia ingin menjamu tamunya itu sebelum mereka pulang.
"Tidak, Nyonya! Saya tidak lapar." Menolak keras ajakan wanita itu.
"Tidak boleh ada penolakan!" Wanita itu lalu memberi kode para pelayan agar mengantar Jihan ke ruang makan.
Oemji, help me! Aku tidak mau makan. Pasti makanan-makanan itu hasil sihir semua. Huaaaa, tidak! Aku rela bekerja susah payah dan membeli seporsi haggis, daripada makan makanan yang tidak jelas hasil bim salabim adakadabra ....
"Nyonya, saya ...."
"Ingin menolak? Maka kamu tidak akan kembali ke rumahmu untuk selamanya!" telak.
Jihan seketika membisu dengan hati yang meronta-ronta. Ia pun berjalan dengan pasrah menuju ruang makan.
Tiba di sana, matanya membulat sempurna dengan level panik di atas normal. Bocah yang ia khawatirkan sedari tadi, tengah duduk dan menikmati sajian di sana penuh nikmat, ditemani seorang gadis cantik yang diyakininya sebagai peri.
"Giv! Jangan makan makanan itu!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan like dan komen 😍...
..._________________...
AG mau promoin karya teman AG nih, keren loh. Kalo semapat, mampir yah 😍