Not You

Not You
36. Kandang Singa



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Satu bulan kemudian ....


Edinburgh, Skotlandia, Januari 2022.


Hari-hari yang dilalui Vlora selama sebulan di kediaman Tuan Muda Alexander, memang tidaklah mudah. Setiap hari selalu diwarnai dengan kekesalan akan tingkah lelaki itu.


Namun, waktu berhasil mengubah semuanya menjadi hal yang biasa saja. Setiap hari tanpa pekerjaan aneh yang diberikan lelaki bossy itu padanya. Banyak pelayan di sana, tetapi semua hal yang berhubungan dengan lelaki itu, selalu ia inginkan campur tangan Vlora.


Perdebatan selalu terjadi karena bantahan dan omelan dari Vlora. Semakin ia kesal, semakin lelaki itu terus menyiksanya.


Pelanggaran ke sekian kalinya ....


Ancaman yang sudah lumrah bagi Vlora dan ia akan selalu menyambung kalimat ancaman itu dengan cepat.


Dan waktu aku di neraka ini diperpanjang lagi. I know, i see ....


Seperti itu setiap harinya. Akan tetapi, ada sisi baik tuan muda itu yang disyukuri Vlora. Putranya diberi kesempatan untuk tetap bersekolah. Vlora merasa lelahnya di rumah megah itu tidak terbuang percuma.


Selama sebulan tinggal di kawasan Newington ini, Vlora belum juga bertemu dengan sahabat baiknya, Jihan. Mereka hanya bisa saling menyapa lewat panggilan suara maupun panggilan video.


Beberapa kali, Vlora juga menerima panggilan dari Hariss, mantan kekasihnya. Lelaki itu bahkan kerap tertangkap mata Vlora, sedang berdiri di depan gerbang besar, kediaman Tuan Muda Alexander.


Entahlah, setiap mengingat atau melihat lelaki itu, seberkas ketakutan selalu menghampirinya. Namun, hal lain yang Vlora syukuri adalah siapapun tidak diizinkan masuk di kediaman mewah tersebut.


Kenapa kau selalu menghindariku? Apa kau belum move on, atau ada hal lain?


Vlora mengingat ucapan Hariss waktu di telepon tempo hari. Lelaki itu begitu gusar karena Vlora yang selalu mencoba menjauhinya, hingga suatu hari Vlora mendapat teguran dari tuan muda pemilik rumah tempatnya tinggal.


"Ada hubungan apa kau dengan lelaki itu?" tanya tuan muda.


"Tidak ada!" jawab Vlora singkat.


Wanita itu tengah berjibaku dengan alat masak di dapur. Ia dimintakan membuat sarapan untuk tuan muda.


"Bisakah kau berbicara dengan baik?" Tidak suka dengan cara Vlora menjawab, karena wanita itu terkesan tidak peduli dan mengacuhkannya.


"Tidakkah Anda melihat saya sedang sibuk?" balas Vlora yang selalu saja punya sejuta alasan.


Kesal dengan tingkah Vlora yang seolah tidak mengindahkannya, lelaki itu mendekat lalu meraih spatula dari tangan Vlora dan melemparnya ke sembarang arah.


"Are you crazy?" hardik Vlora yang ikutan kesal.


"Kau sedang berbicara dengan Tuan Muda Alexander. Di mana sopan santunmu?" Lelaki itu berbicara dengan geram.


"Apa Anda kurang kerjaan, Tuan Muda Alexander yang terhormat? Aku disuruh masak yah masak. Dan kupikir, jawabanku tidak ada yang salah. Jawaban mana lagi yang mau Anda dengar, Tuan Muda yang terhormat? Hubunganku dengan laki-laki itu? Aku pikir tidak penting bagi orang sesibuk dan sepenting Anda untuk mencari tahu urusan pelayan sepertiku."


Tajam suara serta sorot mata Vlora membuat lelaki di hadapannya tidak bisa lagi untuk berkata-kata. Vlora kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan tuan muda itu kembali ke kamarnya dengan hati yang sedikit dipenuhi emosi.


...*****...


"Ada apa, Mom?" tanya seorang lelaki pada ibunya.


"Kenapa kakakmu jarang pulang sekarang? Sudah sebulan ini dia betah di Newington. Kenapa?"


Seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Nyonya besar Alexander, tengah termenung di ruang makan. Wanita tua yang masih saja cantik di usianya yan tak lagi muda itu tampak gundah.


Sarapan di depannya tidak mampu menggugah selera ibu tiga orang anak tersebut.


"Iya, Mom. Hil jadi rindu. Kenapa juga kakak tidak mengizinkan kita menemuinya di sana?" Putri bungsu Alexander itu pun merasakan yang sama dengan ibunya.


Berbeda lagi dengan seorang pria yang juga tengah duduk dan menikmati sarapan di sana.


"Bagaimana tidak betah, Mom? Di sana ada tawanan seorang wanita cantik," ucap lelaki itu sembari menyeruput secangkir cokelat hangat.


"Really?" tanya nyonya besar dan Hil bersamaan.


Dua wanita berbeda generasi itu begitu kaget dengan apa yang mereka dengar. Ada sebuah harapan besar yang tampak jelas di wajah keduanya.


"Aku akan ke sana untuk memastikan walaupun dilarang sama kakak." Hil bergegas bangkit dari duduknya.


"Apa kamu tidak sedang membohongi mommy?" tanya wanita tua itu memastikan


Lelaki yang masih setia memegang cangkir ditangannya itu menggeleng.


"Mom tidak percaya sama aku? Aku bahkan mengenal wanita itu, sangat mengenalnya," ucap lelaki itu.


"Siapa dia? Punya hubungan apa mereka? Kenapa jadi tawanan kakakmu?" Ia lantas memberondong putranya dengan pertanyaan. "Pasti kamu sudah ke sana kan? Kenapa tidak mengajak mom? Sudah belajar pelit seperti kakakmu yah."


Lelaki itu tergelak mendengar omelan ibunya. "Memang aku ke sana, tapi tidak bisa masuk juga dan hanya bisa memastikan dari luar saja. Tidak perlu mengajak mommy ke sana, karena wanita itu yang akan aku ajak ke sini jika sudah waktunya." ucapnya panjang lebar.


"Benarkah? Kau membuat mom penasaran siapa wanita yang dengan mudahnya masuk ke kandang singa itu. Katakan siapa dia?" Wanita tua itu mendekatkan wajahnya.


"Dia ...."


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Like & Komen 📌...


...____________________...