
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Vlora berlari keluar kamar hendak mencari putranya, tetapi sampai di ruang makan, tidak ada lagi dua manusia berbeda generasi itu di sana.
Jantung Vlora menggila dengan ketakutan yang semakin besar. Ia berlari lagi menuju pintu utama dan pemandangan di sana sungguh membuat Vlora seolah ingin membeku.
"Giv!" teriak Vlora dengan sangat kencang.
Baik Given maupun tuan muda sama-sama berhenti dan berbalik menatap wanita yang tampak ketakutan itu.
Vlora cepat-cepat menghampiri anaknya dan hendak membawanya masuk, tetapi suara dari arah gerbang besar membuat langkahnya terpaku.
"Ra! Kenapa kamu tega membohongi dan menutupi ini semua dari aku? Kenapa aku tidak diizinkan untuk mengetahui tentang putraku!" teriak Hariss tidak mau tahu dan terus berusaha untuk masuk.
Vlora langsung menutup kedua kuping anaknya agar tidak mendengar perkataan Hariss. Melihat Vlora yang seolah tidak berdaya, tuan muda pemilik rumah itu memerintahkan salah seorang pengawal yang ada di sana membawa Given untuk masuk ke dalam.
"Ra! Vlora! Izinkan aku menemuinya!"
Lagi-lagi Hariss berteriak tetapi Vlora tidak ada respon sama sekali. Wanita itu mematung di tempatnya dengan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Sedetik kemudian langkah Vlora mulai bergerak hendak masuk menyusul putranya, tetapi kembali suara Hariss mencegahnya.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin aku menemuinya dengan baik-baik, kita bisa bertemu di pengadilan nanti!"
"Tidak!"
Vlora refleks berbalik dan menampik ucapan mantan kekasihnya.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Siapapun tidak berhak atasnya selain aku!" tegas Vlora dengan tatapan yang tajam.
"Kamu tidak bisa jahat kayak gini sama aku, Ra! Aku tidak tahu sama sekali waktu itu. Aku minta maaf, Honey!" ucap Hariss begitu lembut.
Bukan hal yang baru di telinga Vlora, atau sekedar bualan untuk meluluhkannya. Namun, tutur lembut lelaki itulah yang bertahun-tahun lalu membuat Vlora jatuh hati kepadanya.
Kali ini pun sama, suara itu masih mampu meluluhkan dirinya, bahkan masih besar menggetarkan detak jantungnya.
Lama Vlora menatap laki-laki di hadapannya yang terhalang gerbang dan beberapa pengawal di sana, hingga akhirnya ia kembali berbalik memunggungi mantan kekasihnya itu.
Tuan muda yang menyaksikan itu semua, entah mengapa menjadi emosi dan marah. Apalagi saat mata elangnya menatap dalam manik hitam Vlora, ada genangan yang tertumpuk di sana.
"Pergilah! Jangan membuatku marah!" Suara berat sang pemilik rumah terdengar geram.
Vlora mengangkat pandangan menatap lelaki bossy di sampingnya dalam diam yang penuh tanya.
"Aku tidak akan pergi sebelum Vlora mengizinkan aku menemui putraku!" ucap Hariss dengan tegas.
Vlora menoleh ke sembarang arah dan memejamkan mata. Hatinya takut untuk lemah, maka dari itu ia memutuskan untuk melangkah pergi.
"Pergilah dan kejar apapun yang kau mau, Riss! Lupakan kalau kita pernah punya hubungan. Anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya!" putus Vlora tanpa berbalik lagi.
"Jadi kau mau mengatakan bahwa kau juga telah melupakan kejadian di malam itu?" Pertanyaan telak yang membuat Vlora seolah tremor dan tidak bisa mengelak.
Sang pemilik rumah yang melihat Vlora bungkam tertampar fakta, merasa iba. Ia lantas memerintahkan anak buahnya memulangkan sang adik dengan paksa di kediaman besar Alexander.
...*****...
Kini Vlora bersama putranya tengah berdua di kamar. Wanita itu terus terdiam, tidak mempunyai jawaban untuk setiap pertanyaan putranya. Bocah itu terus menanyakan tentang Hariss.
"Bolehkah Giv menunggu sampai mommy siap menceritakan ini? Mommy juga menunggu waktu sampai Giv besar nanti. Tidak sekarang, Sayang!" ucap Vlora dengan pelan.
Anak lelaki berwajah tampan itu menatap ibunya untuk beberapa saat, hingga akhirnya ia mengangguk. Ia pun berpamitan pada sang ibu lalu segara berlalu ke kamarnya.
Setelah kepergian sang putra, Vlora mengambil kembali pigura yang tadi sempat disimpannya. Ditatapnya gambar diri seorang bocah yang sama persis dengan putranya, bagai pinang dibelah dua.
"Siapa sebenarnya orang ini?"
Misteri sesosok anak kecil dalam foto tersebut, tidak mampu terpecahkan oleh opini Vlora sama sekali. Jalan seolah gelap, tidak ada titik terang secuil pun.
Vlora bergegas melepas foto itu dari bingkainya, lalu menyimpan dalam tas kecil miliknya.
Waktu senja kembali menyapa dan Vlora bergegas membersihkan diri. Ia berencana ke apartemen sahabatnya sore itu. Walaupun harapan mendapat izin itu begitu tipis, ia akan tetap mencobanya.
Selesai bersiap, ia pun memastikan keadaan putra semata wayangnya. Selanjutnya yang ia lakukan adalah menemui tuan muda.
Baru saja menyampaikan niatnya, ia sudah mendapat tatapan tajam dari lelaki itu. Akan tetapi, pada akhirnya izin itu ia dapatkan. Vlora cukup lega, apalagi perjalanannya kali ini tanpa pengawal seperti hari pertama ia meminta izin.
Alasannya, Tuan Muda Alexander itu yakin, bahwa kejadian tadi di depan gerbang, tidaklah mungkin lolos dari incaran paparasi. Jangan sampai ibu dan anak itu dikejar-kejar para pembuntut.
Vlora dan Given dibiarkan pergi sendirian tanpa Zack sekalipun. Tidak dipungkiri, tuan muda itu sedikit khawatir.
Semoga tidak ada yang mengikutinya ....
Lelaki itu memandangi kepergian Vlora dan anaknya dengan gelisah.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...📌 LIKE & KOMEN 📌...
...______________________...