Not You

Not You
37. Tuan Muda Alexander kedua



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...***...


"Dia ... hmm, siapa yah?" Lelaki itu tergelak. Ia tengah menggoda ibu dan saudarinya.


"Ih, Kak ... Hil juga penasaran. Cepat katakan!" titah adik perempuannya.


"Baiklah, Tuan Putri!" Lelaki itu meletakkan cangkir di atas meja, kemudian menatap dua wanita di hadapannya dengan senyum kecil.


"Sebenarnya ... dia wanita yang paling spesial bagiku. Kalau bukan karena pilihan Harvard waktu itu, mungkin dia sudah menjadi bagian dari Alexander," ucapnya terkenang.


"Maksudnya? To the point saja, Kak!" Hil memaksa lagi.


Lelaki itu mengembuskan napasnya dengan berat, kemudian ia berdiri dengan perlahan.


"Dia mantan kekasihku, yang sekarang menjadi tawanan Kak Hae," jawabnya lalu hendak melangkah, tetapi ....


"Apa yang kau katakan? Jadi benar dia bekas pacarmu?" Suara seseorang yang baru saja ia sebut namanya terdengar di sana.


"Hae?"


"Kakak!"


Tiga orang itu kaget melihat siapa yang datang. Hil langsung berlari kecil menuju kakaknya yang sulung dan memeluk lelaki itu.


"I miss you so much, Kak!" ucapnya Hil saat berada dalam pelukan kakaknya.


Lelaki dengan status Tuan Muda Alexander yang pertama itu, pun membalas pelukan adik perempuan satu-satunya. Tidak lupa, sebuah kecupan sayang di kepala gadis cantik itu.


"Kakak juga merindukanmu, Sayang!" ucapnya.


Ia lalu melepaskan pelukannya dan beralih kepada wanita paruh baya yang juga menatapnya penuh rindu.


"Mukanya jangan seperti ini, Sayang! Nanti cantiknya berkurang." Ia menggoda ibunya. Sama seperti Hil, lelaki itu juga memeluk dan mencium sang ibu.


"Katakan pada mommy, wanita siapa yang kau jadikan tawananmu?" tanya sang ibu to the point.


Bukannya menjawab pertanyaan dari sang ibu, lelaki itu malah menoleh lalu menatap adik laki-lakinya.


"Benar dia mantan kekasihmu yang di Jakarta waktu itu?" tanyanya dan mendapat anggukan dari sang adik.


Entah mengapa, sebuah perasaan aneh diam-diam menyusup dalam benaknya. Curiga akan satu hal membuat hati lelaki itu mendadak gelisah.


Tanpa sepatah kata lagi, ia kemudian berbalik dan berlalu pergi meninggalkan ibu dan kedua adiknya di ruang makan. Namun, belum begitu menjauh, suara sang adik menahan langkahnya sebentar.


"Please, Kak, bebaskan dia! Jujur aku tidak sudi Kakak menjadikannya pelayan seperti itu."


Ia berbalik lalu menoleh pada adiknya. "Akan aku pikirkan lagi, tapi sekedar saran, lupakanlah dia! Dan satu lagi, jangan pernah mendatangi Newington!" Peringatan tegas.


Ia pun melanjutkan langkahnya keluar, meninggalkan tiga orang di sana dengan tanda tanya besar di kepala masing-masing.


Batin seorang lelaki tampan yang tidak lain adalah Hariss. Mantan kekasih Vlora ini adalah putra kedua keluarga Alexander. Tidak seperti kakaknya, pria satu ini senang berpenampilan sederhana dan menyimpan nama Alexander.


Tidak heran jika Vlora saja tidak mengetahui fakta ini. Banyak orang selalu bertanya tentang Tuan Muda Alexander yang kedua ini, tetapi Hariss selalu saja menghindar. Oleh karena itu, semasa lulus SMA di Jakarta, ia lebih memilih meneruskan pendidikannya di negeri Paman Sam.


Hal yang selalu dihindari pria tampan satu ini adalah sorot kamera dan wartawan. Baginya, hidup bebas tanpa label Alexander adalah suatu hal yang sangat menyenangkan.


"Maksud kakakmu apa, Hariss? Jangan katakan jika kalian sedang memperebutkan satu wanita!" Sang ibu menyadari hal itu.


Hariss menatap ibunya dengan wajah pias. "Tidak! Sejak awal dia milikku dan tetap akan menjadi milikku! Untuk kali ini saja, Mom, biarkan aku mendapatkan apa yang memang untukku." Menggenggam jemari ibunya.


Ia tahu, kakaknya yang temperamental itu selalu mendapatkan apapun yang ia mau. Tidak ada yang sulit dan mustahil untuk dilakukannya. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, apapun caranya dia akan mendapatkannya. Tidak, Hariss tidak rela untuk kali ini.


Lelaki itu bangkit dan segera berlari mengejar kakaknya. Dari jauh, ia melihat kakaknya baru saja masuk di dalam mobil.


"Tunggu, Kak!" pekik Hariss sambil mengetuk kaca mobil. "Aku akan menebus semua kerugian Kakak dan tolong bebaskan dia," ucapnya saat kaca mobil diturunkan.


"Dia akan tetap jadi pelayanku dalam waktu beberapa bulan lagi sesuai kinerjanya. Itu sudah kesepakatan hitam di atas putih." Kakaknya menjawab santai.


"Tapi Kakak bisa membatalkan semua itu." Hariss tampak gusar.


"Sayangnya kakak senang dengan pelayanannya jadi biarkan saja berjalan hingga waktu kesepakatan itu sendiri berakhir." Satu sudut bibirnya terangkat.


"Apa Kakak menyukainya?" Tidak dapat lagi menahan curiga, Hariss akhirnya melontarkan pertanyaan itu.


Sang kakak membuang pandangannya ke sembarang arah. "Apa akalmu sehat? Kau pikir ini cerita dongeng atau novel, seorang tuan muda menyukai pelayannya? Lelucon macam apa ini?" Lelaki itu tergelak.


"Aku harap begitu, Kak!" ucap Hariss sedikit lega.


Mobil pun akhirnya melesat meninggalkan kediaman utama Alexander. Tuan muda Alexander yang pertama itu melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu di Edinburgh sudah pukul 11.00 AM. Ia memerintahkan asisten Zack untuk menuju sekolahnya Given.


Tuan mau apa menjemput anak itu? Batin Zack penuh tanya.


Aku harus memastikannya sekarang juga! Tuan muda pun membatin.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Tuan muda itu mau ngapain yah 😅...


...Like dan komen jangan lupa 📌...


...____________________...