
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Ketegangan tengah terjadi di antara dua kakak beradik itu. Sepanjang sejarah, ini untuk pertama kalinya Hae merah pada adiknya. Tentu saja semua orang yang berada di sana dan menyaksikan itu, tidak akan mudah untuk percaya.
"Maksud Kakak apa?" tanya Hariss dengan bingung.
Sementara itu, Hae masih saja mencengkeram kerah baju adiknya. Tatapannya tajam berkilat penuh amarah.
"Tidak usah berlagak bodoh!" maki Hae. "Kenapa sampai dia harus dilarikan kemari kalau bukan karena ulahmu?" cengkeramannya semakin kuat.
"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan? Kakak pikir aku menyakitinya? Omong kosong apa itu? Aku bukanlah orang yang tempramen seperti Kakak!" sarkas Hariss yang juga mulai terbawa emosi.
Perkataan Hariss serta merta menyulut emosi Hae yang sedari tadi sudahlah terpupuk. Ia hendak melayangkan sebuah pukulan untuk sang adik, tapi ayahnya sudah lebih dulu menahan.
"Haedar!" sentak tuan besar.
"Kalian ini kenapa, hah? Kenapa harus bertengkar? Apa kalian sudah kehilangan akal? Minimal jika ingin beradu kekuatan, bukan di sini tempatnya!" ucap Tuan Besar Alexander dengan geram.
Nyonya Glad pun tidak ketinggalan ikut berdiri dan melerai pertengkaran kecil yang terjadi.
"Ada apa, Hae? Kenapa kau datang-datang dan marah pada adikmu?" tanya Nyonya Glad dengan nada pelan.
Hae melepas cengkramanya dengan kasar hingga tubuh tegap Hariss sedikit bergeser ke belakang. Namun, mata elang itu masih menatap sang adik dengan tajam.
"Apa yang terjadi dengan Vlora, Mom?" tanya Hae pada ibunya. Akan tetapi, mata itu tak jua berpindah menatap sang adik dengan marah yang menggunung.
Kenapa? Kenapa kakak datang-datang menanyakan tentangmu dengan terlihat begitu marah? Apa dia menyimpan perasaan untukmu, Ra?
Batin Hariss bertanya-tanya, tidak begitu menghiraukan tatapan kakaknya. Di samping itu, Nyonya Glad lagi-lagi menjatuhkan air mata begitu mendengar pertanyaan dari putra sulungnya.
"Kenapa Mommy menangis? Ada apa sebenarnya? Tolong jawab aku, Mom!" ucap Hariss yang kali ini memegang tangan ibunya.
Nyonya Glad semakin tertunduk dan sesenggukan. Hal itu justru semakin membuat Hae rasanya ingin meledak-ledak membayangkan hal buruk yang terjadi pada Vlora.
Sementara itu, Hariss pun masih dengan prasangka-prasangkanya tentang sikap sang kakak yang berbeda dari biasanya.
Hal serupa pun tengah dilakukan Tuan Besar Alexander. Lelaki paruh baya yang masih tampak gagah dengan sedikit uban di kepalanya itu, tampak tengah menduga-duga hal yang mungkin memang tidak disadari oleh yang lain karena saking cemas dan hanya fokus pada Vlora.
Pasti ada sesuatu yang tidak disadari Gladis dari hal ini. Dan anak itu, dia pasti punya sesuatu yang menjadi kunci selain gelang yang didapatkan mommy-nya. Jika hanya gelang, dari mana Gladis bisa mengetahui bahwa Vlora itu putrinya? Zack! Ya, dia ... dia yang akan menjawab ini.
"Mom, can you hear me ?" Sekali lagi Hae bertanya pada ibunya.
Nyonya Glad mengangguk. "Maafkan mommy, Sayang. Ini bukan salah siapa-siapa, apalagi adikmu. Bukan! Ini salah mommy. Mommy salah karena telah merahasiakan sesuatu yang besar dari kalian. Mommy minta maaf," ucap Nyonya Glad di sela-sela isakannya.
"Rahasia?" Kening Hae mengkerut dengan mata yang memicing.
"Rahasia apa, Mom? Please, jangan bikin aku bertambah bingung, Mom!" pinta Hae pada ibunya.
"I-ini tentang Vlora," ucap wanita paruh baya itu agak terbata.
Sesungguhnya, ia takut akan kemarahan putra sulungnya itu. Dengan adanya Vlora di rumah besar saja sudah membuatnya marah dan tidak ingin kembali ke kediaman itu. Kehadiran Vlora seolah menjauhkan Hae dari keluarganya.
Bagaimana jika dia mengetahui bahwa Vlora adalah anak lain dari ibunya? Nyonya Glad tidak sanggup tuk membayangkan semarah apa dia nantinya dan hal gila apa lagi yang akan dia lakukan? Sungguh Nyonya Glad sangat mengkhawatirkan hal itu.
Hae tentu berbeda dengan Hariss adiknya. Jika Hariss yang marah, Nyonya Glad tidak begitu khawatir akan hal itu karena Hariss terkenal dengan sikap yang lebih banyak mengalah dan memilih untuk lebih mengerti.
"Tentang Vlora?" tanya Hae memastikan lagi. "Ada apa dengannya?"
"Ma-maksudnya tentang Vlora dan mommy. Dia itu ... dia ... ternyata adalah pu–"
"Daddy!"
Suara seorang anak kecil yang menggema di sepanjang lorong emergency itu, mendadak menghentikan ucapan Nyonya Glad.
Hae menoleh dan detik itu juga jantungnya bergetar hebat, kala dia melihat bocah itu untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu lalu ia menghindar.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...###...
...Jangan lupa like dan komen yah 😍...
..._______________________________...
...###...
Oh, iya. Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir juga di karya teman AG yang satu ini yah 😍