
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Setelah kejadian tadi, Vlora tidak kembali lagi ke hotel. Keesokan harinya, ia berangkat kerja pagi-pagi sekali seperti biasanya.
Begitu tiba, hal pertama yang ia lakukan adalah, menemui atasannya, manager room service. Kedatangan Vlora selalu disambut baik oleh lelaki yang tampak lebih tua dari dirinya.
Namun, apa yang diberikan Vlora, membuat lelaki itu kaget dan marah.
"Apa-apaan kamu, Yura? Masalahnya apa?" Menatap Vlora dengan tidak suka.
Ibu satu anak itu menunduk dengan wajah sendu. "Maafkan saya, Pak. Tidak ada masalah apa-apa, malah saya senang bekerja di sini. Semua orang di sini baik sama saya. Tapi saya tidak bisa lagi bekerja di sini, Pak. Saya minta maaf dari Bapak dan semua staf di sini," ucap Vlora apa adanya.
"Kau punya masalah pribadi?" tanya sang manager.
Vlora mengangguk kecil. "Dengan berat hati dan sangat terpaksa saya mengambil keputusan ini, Pak! Maafkan saya," ucap Vlora dengan sangat menyesal.
Hari itu juga, Vlora berpamitan dengan semua karyawan terkhususnya di bagian room service. Semua mereka sangatlah keberatan dengan keputusan Vlora.
"Kenapa harus resign, Ra? Apa mba jahat sama kamu? Kemarin kamu ngilang aja mba gak marah. Kenapa sekarang kamu tega ninggalin mba dan yang lain? Kami senang dengan kehadiran kamu sebulan lebih ini," protes si order taker.
Lagi-lagi Vlora hanya menjawab masalah pribadi. Satu-satu dari mereka memeluk Vlora sebagai tanda perpisahan.
"Jika masalahmu sudah selesai, kembalilah! Mba akan menjadi orang pertama yang menerimamu, meski tidak ada lowongan."
Vlora terkekeh haru mendengar ucapan order taker itu. Ia mengangguk dan segera berpamitan lalu pergi dari sana.
Baru beberapa saat kepergian Vlora, dering telepon membuyarkan lamunan semua mereka yang masih menyayangkan keputusan Vlora.
☎️ "Good morning, room service, this is Melinda. How may i help you?"
☎️ "..."
Tidak sampai apa-apa, telepon itu segera berakhir. Wanita bernama melinda itu menatap gagang telepon dengan heran.
"Baru saja dia pergi, sudah ada yang mencarinya lagi. Kenapa semua orang pada mencarinya sih?"
Wanita itu mengingat, kemarin setelah pulangnya Vlora, ada seorang pria yang menanyakan tentang Vlora padanya.
"Jangan-jangan ... tau ah."
***
Vlora bergegas membereskan barang-barangnya dan bertolak dari tempat yang ia diami saat itu bersama sang putra. Sementara Jihan bingung haruskah ia ikut memindahkan lokasi butik yang baru saja dibuka keduanya?
"Aku harap, ini adalah pelarian terakhirku. Semoga tidak ada lagi yang menemukan kita," ucap Vlora.
Keduanya kini dalam perjalanan ke sebuah tempat tinggal yang cukup jauh dari butik maupun sekolah Given.
Vlora sudah nekat pulang pergi dengan jarak jauh, daripada dekat tetapi mengancam ketentramannya. Sehari full, wanita cantik itu sibuk membereskan barang-barangnya setalah acara pindah rumah. Sebuah rumah sederhana agak jauh dari pusat kota.
Ini harus menjadi pelarian terakhir. Ya, terkahir ... semoga takdir yang menjembatani pertemuan tidak sengaja dengan orang-orang itu, sudah terputus di di perjalanan kemarin.
...***...
Sebuah pesawat pribadi baru saja lepas landas di area khusus bandar udara internasional Soekarno-Hatta.
Seorang lelaki tampan turun dari pesawat dengan beberapa orang yang setia di belakangnya. Dari jauh ia sudah bisa melihat seseorang yang sigap menunggu kedatangannya di bawah sana.
"Selama datang, Tuan!" sambut orang itu sedikit menunduk. "Anda terlihat begitu kelelahan, Tuan."
Jelas sekali bahwa perjalanan yang bukan merupakan jarak dekat. Lelaki itu mempersilahkan tuannya masuk ke mobil yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Di mana dia, Zack?"
"Anda ingin menemuinya sekarang, Tuan?" Lelaki itu bertanya balik.
"Kenapa harus ditunda? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Satu sudut bibirnya terangkat.
"Baiklah, Tuan."
Lelaki itu lalu mengendarai mobil menuju sebuah lokasi yang sudah ada dalam pantauannya dalam dua hari terakhir.
Matahari merangkak cepat dan pasti, hari senja kembali menyapa. Dua orang ibu dan anak, terlihat baru saja keluar dari sebuah ruko berlantai 2. Sebuah taksi berhenti tepat di depan mereka, kemudian keduanya masuk ke dalam taksi itu dan melesat meninggalkan ruko.
Karana jarak yang cukup jauh, tepat jam 7 malam, keduanya baru tiba. Begitu turun dari taksi, sang ibu. menggandeng tangan anaknya memasuki sebuah lorong kecil yang cukup panjang ke dalam. Dengan bantuan cahaya ponsel di tangan, keduanya menyusuri lorong itu dengan pasti.
Namun, sesekali sang ibu menoleh ke belakang, merasa seperti ada yang mengikuti mereka. Langkahnya semakin dipercepat.
"Jangan buru-buru, Mom! Hati-hati," ucap sang anak.
Ibunya tidak membalas dan semakin mempercepat langkah. Begitu sampai di depan rumah, ia kaget mendapati keadaan rumah yang tampak gelap. Semua lampu padam.
"Bukannya lampu depan selalu menyala?" tanya bingung.
"Iya, Mom! Lampu itu kan tidak pernah Mommy matikan. Apa mati lampu hanya di rumah kita?" Sang anak ikut bertanya.
Perasaan wanita itu tiba-tiba gelisah. Cepat-cepat ia merogoh kunci rumah dan hendak masuk memeriksa ke dalam, mungkin saja ada yang gangguan.
Begitu pintu berhasil di buka dan keduanya masuk dengan masih menggunakan cahaya ponsel, saat itu juga semua lampu menyala serempak.
"Selamat malam, Nona Vlora!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...____________________...
...Jangan lupa tinggalkan jejaknya 📌...
...✨✨✨...
AG juga merekomendasikan karya taman sesama penulis nih. Mampir kalau berkenan 😍