Not You

Not You
55. Salah Mengenali



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Ingin tetap membelakangi agar menghindari lelaki yang memanggilnya, tetapi Vlora sadar bahwa itu sama sekali bukan solusi. Ia akan ditegur atau bahkan ditendang dari hotel, jika tidak melayani tamu dengan baik.


Duh, mana masker ketinggalan lagi. Semoga saja matanya sudah rabun dalam waktu sebulan lalu, ha-ha-ha ....


"Excuse me! Can you hear me?"


Vlora terperanjat dari lamunannya dan refleks berbalik, menghadap pria di depannya dengan tidak sadar.


"Yes, Mr! Anything else you need?" tanya Vlora dengan wajah full senyum.


Oh, sh* it! Kenapa malah berbalik, bodoh!


Ia sedikit menunduk sambil merutuk dalam hati. Kini giliran pria di depannya yang terdiam. Vlora mengangkat pandangannya ingin mengintip, tetapi yang ia dapatkan malah tatapan intimidasi yang sudah tidak lagi asing.


"Halo, Mr! Anything else you need?" Vlora mengulangi pertanyaannya.


Wanita cantik itu sedang berusaha menguasai diri agar terlihat natural dan biasa saja. Wajahnya tidak berhenti untuk memperlihatkan senyum pepsodent, meski di dalam sana, gelisah tengah manyambangi.


"Oh, yeah! Please add to some white beans," jawab lelaki itu sedikit kaku.


Vlora mengiyakan sekaligus berpamitan dari sana. Ia lalu cepat-cepat keluar dan menetralkan detak jantung serta pernafasannya agar normal kembali.


"Huuffftt, huh, hah! Kenapa ada dia di sini? Kenapa? Kenapa? Kenapa pula jadi tamu penting di sini? Ini 'kan di Jakarta, bukan di Edinburgh. Ada apa ini? Kenapa?"


Dia masih berdiri di depan pintu kamar suite room tersebut, tak habis memikirkan keberadaan laki-laki di dalam sana. Sejurus kemudian, Vlora teringat akan satu hal dan saat itu juga ia berlari meninggalkan trolly di depan pintu begitu saja.


Tanpa dia sadari, pria di dalam sana sedang mengintip gerak geriknya. Melihat Vlora yang tiba-tiba berlari, segera ia keluar dan menyusul.


...***...


"Mas, Mas! Bisa tolongin gak? Tolong bawa trolly di depan suite room itu Kemabli ke kitchen yah. Tolong, Mas! Ini darurat!" Vlora menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Begitu room service pria itu mengangguk, Vlora berterima kasih dan segera berlari ke luar tanpa mengganti kostum kerja yang ia kenakan.


Secepat kilat ia menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Saat sudah duduk di dalam mobil, Vlora hendak menelpon Jihan, tetapi ia baru menyadari jika ia meninggalkan ponsel dan tas di loker.


"Astaga, kok bisa lupa sih?" Ia menepuk jidatnya.


Wanita cantik itu lalu meminjam ponsel pada sopir taksi dengan tidak tahu malunya.


"Gak papah 'kan, Pak? Nanti setelah ini aku bayarin lebih biar isi kuota nelpon lagi yah, Pak!" ucap Vlora sembari men-dial beberapa nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.


Berkali-kali panggilan itu tersambung, tetapi seseorang yang dimaksud, tidak jua menjawab teleponnya.


Begitu sampai di tujuan, Vlora segera turun tetapi hanya sebentar. Beberapa menit sesudah itu, ia kembali lagi dan meminta sopir taksi itu segera membawa ia ke tujuan berikutnya.


Hanya beberapa menit saja, ia pun tiba karena tempatnya tidak jauh. Lagi-lagi Vlora berlari pergi setelah membayar ongkos taksi.


Ia tersengal-sengal setalah menaiki tangga pada ruko dengan 2 lantai itu.


Brakkkk!!!


"Vlora! Lo gila heh? Tiap datang selalu kayak angin ribut. Kenapa ngos-ngosan segala? Dikejar hantu siang bolong lo?" cerocos Jihan.


"Ini lebih menyeramkan dari hantu, Ji," balas Vlora masih tersengal-sengal.


Kening Jihan mengerut. "Kenapa lagi? Ada apa? Kenapa gak ganti kostum dulu baru ke sini?" Jihan masih mencecar sahabatnya.


"Haduh, gak ada waktu untuk itu, Ji. Aku rasa keberadaan aku dan Given tidak lagi aman. Mereka di sini, Ji," ucap Vlora lagi dan kali ini duduk tepat di hadapan sahabatnya.


Jihan semakin bingung. "Mereka siapa? Ngomong yang bener dong ah."


"Vulgopus diktator alay itu di sini. Dia sedang menginap di hotel tempat kerjaku, Ji. Aku harus apa sekarang? Aku gimana, Ji?"


"Serius? Dia udah ngeliat lo apa belom?" tanya Jihan dengan wajah serius.


Vlora lalu mengangguk. "Eh, tapi ... tadi dia gak ngomong apa-apa, kek gak kenal gitu."


Vlora mengingat-ingat kejadian beberapa saat lalu. Sementara itu, Jihan menatapnya dengan lekat.


"Lo lupa, kalau Lo bukan lagi Vlora tapi Yura?" ucap Jihan dengan senyum.


Vlora tersadar dan cepat-cepat berdiri di depan cermin besar yang ada di ruang kerja milik keduanya. Ia tersenyum lebar melihat gambar dirinya di dalam sana.


"Iya, dia pasti salah mengenaliku tadi. Tapi kenapa dia di sini? Apa dia tidak sendirian?"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...________________...


...Jangan lupa jejak dukungannya yah 😍😍...


...✨✨✨...


Ada rekomendasi novel punya temanku juga nih. Mampir yah kalo sempat.