Not You

Not You
70. My Dreams Come True



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Semua mereka yang ada di sana, tampak kaget dan bingung melihat dia yang tiba-tiba datang lalu menawarkan pertolongan.


"Ayo, Suster! Tunggu apa lagi? Pasien harus segera ditolong 'kan?" desak pria itu.


Suster itu lalu segera mengajak orang tersebut untuk diperiksakan lagi sampel darahnya, sebelum dilakukan tindakan transfusi. Akan tetapi, baru saja mereka hendak melangkah, suara Hariss lebih dulu menahannya.


"Maaf, Tuan! Tetapi bolehkah saya tau siapa Anda? Dan dari mana Anda tahu jika putra saya sedang membutuhkan pendonor?" tanya Hariss to the point.


Pria itu menoleh sejenak pada Hariss. "Tidak penting siapa saya. Asalkan anak Anda terselamatkan," ucapnya dan berlalu pergi.


"Terima kasih, Tuan!" kata Hariss sedikit meninggi karena tubuh pria itu telah menjauh.


Dia yang hampir masuk bersama sang suster saat itu, berbalik dan sedikit menundukan kepala sebagai jawaban. Hariss membalikkan tubuhnya lalu menatap Vlora dengan banyak tanya yang berkecamuk dalam benaknya.


Masih tetap berdiri, ia menunduk agar bisa lebih dekat menilik wajah cantik Vlora yang tertutup kecemasan dan air mata. Tidak hanya itu, kebingungan pun kita jelas bergelayut di wajah yang terlihat kacau itu.


"Siapa dia?" tanya Hariss.


Vlora menunduk menatap nanar lantai dingin di bawah sana. Ia lalu menggelengkan kepalanya, merespon pertanyaan dari pria yang berdiri tegak di hadapannya saat itu.


Hariss yang tidak puas dengan jawaban Vlora, memilih duduk di hadapan wanita itu.


"Aku tanya sekali lagi, siapa orang itu, Ra?" Lagi Haris bertanya dengan pelan. Tangannya bergerak mengusap tangan Vlora dengan lembut, berharap mendapat jawaban. Nyatanya, masih sama seperti respon pertama, hanyalah gelengan yang ia dapatkan.


Jihan yang sedari tadi hanya berdiam, pun penasaran dan memilih bertanya melepas rasa penasarannya.


"Kamu kenal sama orangnya?" tanya Jihan dan Vlora masih juga menggeleng.


Giliran dia menatap dua manusia di depannya bergantian. "Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak kenal siapa orangnya. Tapi siapapun dia, aku mau berterima kasih atas pertolongannya," ucap Vlora dengan nada rendah.


Hariss mengangguk beberapa kali mengiyakan perkataan Vlora, sedangkan Jihan malah semakin diliputi kecurigaan.


Kenapa tidak ada salah satu dari mereka berdua yang memiliki golongan darah sama dengan Given, malah sama dengan yang lain? Aneh ....


Batin Jihan bertanya-tanya. Wanita lajang itu berpikir keras tetapi tak kunjung menemukan jawabannya. Lain lagi dengan Hariss. Dalam benaknya berulang kali ia meyakinkan diri bahwa Given adalah putranya. Toh, Vlora tidak membantah akan hal itu.


Tidak semua anak selalu memiliki darah yang sama dengan orangtuanya 'kan? Ada juga yang berbeda. Ya, ada.


Jarum jam berputar dengan cepat, tiga jam telah berlalu dan proses transfusi darah pun telah selesai. Meskipun belum sadarkan diri, tetapi kondisi Given perlahan mulai stabil.


"Tidak perlu, Tuan! Saya ikhlas melakukannya dan senang bisa membantu Anda," ucap lelaki itu. Ia lalu meminta diri dan segera berlalu dari sana.


Meski merasa tidak enak hati, Hariss membiarkan orang itu pergi dengan sebuah tekad, ia akan mencari tahu siapa laki-laki itu. Masih ada keraguan dalam hatinya dengan pertolongan tiba-tiba yang ditawarkan lelaki tersebut. Sungguh Hariss penasaran dari mana dia tahu yang mereka butuhkan saat itu.


Tidak lama kemudian, Given pun akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Hariss milih ruangan perawatan VVIP dengan pelayanan terbaik untuk putranya itu.


Waktu menujukkan pukul 8 malam dan Vlora tidak pernah beranjak sedikitpun dari sisi putra semata wayangnya itu. Merasa sudah 2 jam tidak ada Hariss di sana, ibu satu anak itu menoleh dan bertanya pada sahabatnya yang juga masih setia di sana.


"Ji," panggil Vlora pelan.


"Ya, ada yang Lo perlukan, Beb?" tanya Jihan dengan sigap. Ia pun tidak pernah lelah menemani sahabatnya itu.


"Dia kemana?" tanyanya Vlora lagi.


Kening Jihan mengerut. "Siapa? Hariss?" tanya Jihan yang sebenarnya sudah tahu jawabannya.


"Ehm, jadi udah baikan nih. Gak marahan lagi sama mantan?" canda Jihan menghangatkan suasana.


Vlora mendengus. "Dia ayahnya. Mungkin ini cara Tuhan menyadarkan aku karena telah lama memisahkan mereka." Dan ucapan itu dapat didengar langsung oleh dia yang baru saja masuk.


“Akhirnya, my dreams come true.”


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...***...


...Halo semuanya 👋 Maaf banget, karena AG sangat sangat sibuk jadi tidak bisa update dengan maksimal 😌 Ini juga diusahakan banget buat up 🤧...


...JANGAN LUPA LIKE KOMEN yah ❤️...


..._______________________________...


...✨...


...✨...


...✨...


Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir dulu di karya temanku ini yah :