Not You

Not You
60. Unknown Number



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Gelap perlahan-lahan menyelimuti langit kota Jakarta. Hiruk pikuk kota metropolitan itu tidak mampu mengusir gelisah di hati seorang Vlora. Wanita cantik itu kini tengah dalam perjalanan pulang ke rumah.


Hal yang menggelisahkan si cantik itu tidak lain hanya karena putranya. Apalagi memang yang bisa membuatnya galau?


"Udah, tenang saja. Aku yakin dia bakal aman kok sama mereka. Lo harus ingat, dia bukan saja anak Lo, tapi dia juga calon penerus Alexander. Udah pasti lah dijaga dengan baik." Jihan menenangkan sahabatnya.


Iya juga yah, kok gua lupa sih.


Vlora tampak sedikit berpikir. "Gak, gak!" pekiknya tiba-tiba.


"Lo kenapa? Kek orang lagi kesurupan aja," gerutu Jihan yang sedikit kaget. "Kalo gua jantung dan gak bisa nyetir gimana?"


Namun, Vlora tampak tak peduli. Ia terus saja berbicara dengan keras.


"Justru karena dia penerus mereka, gua jadi takut, Ji. Keluarga itu pasti punya saingan bisnis dan sekelompok orang yang tidak menyukai mereka. Pasti, ya pasti ada. Horang kaya kan begitu, hidupnya terlihat enak tapi nyatanya gak tenang," cerocos ibu muda itu lagi.


"Aku lebih memilih anakku terlahir seperti semula tanpa adanya keluarga itu," wajahnya tiba-tiba berubah sendu.


Jihan yang diam sedari tadi dan masih fokus menyetir, melirik sekilas ke arah sahabatnya sambil menggelengkan kepala.


"Makanya, jangan banyak nonton drakor! Jadi halu kan," ucap Jihan pada akhirnya. "Btw, kalau Hariss datang ... apa kalian akan menikah?" tanyanya kemudian.


Vlora langsung terdiam. Perasaannya mendadak kacau. Pikirannya yang tadi hanya tertuju pada sang putra, kini menjadi bercabang. Ibu satu anak itu bimbang dengan perasaannya sendiri.


"Jadi? Mau aku temani atau ...."


"Gak usah! Sana pulang," usir Vlora begitu Jihan baru saja menepikan mobil.


Keduanya kini telah sampai di depan gang kecil yang menuju rumah Vlora. Jihan ingin menemani sahabatnya itu, terapi ditolak. Alhasil, ia pun segara menginjak pedal gas setelah berpesan banyak pada sang sahabat.


Vlora berjalan masuk menyusuri lorong kecil di sana dengan hati yang tak menentu. Sementara itu di tempat lain, sang putra begitu asik menikmati kebersamaan dengan orang lain.


"Sedang apa yah mereka?" Vlora memikirkan sang putra.


Ia meraih ponsel dan hendak menelpon, tetapi ia sadar tidak memiliki nomor telepon dua lelaki menyebalkan yang sekarang sedang bersama sang putra.


"Aisssh, gak punya nomor lagi." Menepuk jidatnya. Baru saja selesai berkata, ponsel yang ada di genggamannya berdering membuatnya kaget.


"Siapa ini?" Menatap layar ponsel yang tertera tulisan unknown number.


Dering itu terus berbunyi hingga beberapa kali. Vlora membiarkan begitu saja dengan masih setia menatap layar. Merasa seolah orang yang menelponnya punya keperluan penting, ragu-ragu akhirnya ia pun menerima.


📲 "Halo!"


📲 "..."


📲 "..."


📲 "Halo, ini dengan siapa?"


📲 "..."


📲 "Hei, kau tuli apa kau bisu? Kalo tidak bisa bicara gak usah telp ...."


Tawa renyah di seberang sana membuat Vlora mengerutkan keningnya.


📲 "Sedang apa, nona cerewet? Apa kau kesepian?"


Vlora terpaku mendengar suara berat di ujung telepon saat itu. Ia yang tadinya sedikit cerewet, menjadi salah tingkah.


📲 "Aku, aku ... ya aku kesepian tidak sama seperti semalam. E-eh, maksudnya, tidak sama seperti saat ada putraku di sini. Di mana dia? Bawa dia kembali sekarang juga!"


Perintah Vlora terdengar galak, menutupi kegugupannya yang bisa dikatakan akibat sedikit keceplosan. Tanpa orang di seberang sana ketahui, wanita satu itu menunduk sambil menutupi wajah dengan sebelah tangan. Ya dia merasa malu tentu saja.


📲 "Kau yakin tidak merindukanku, adik ipar?"


📲 "Tidak!"


Vlora memekik kesal dan langsung mematikan telepon. Si cantik itu meletakan tangannya di dada dan merasakan debaran indah di dalam sana.


"Gila, gila ... ini gila! Dia yang gila dan ... dan mewabah sampai sini! Arrrgghh!"


Tujuan ingin berbicara dengan sang putra, gagal total. Ia berlari kecil menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya, menetralkan kembali suasana hati yang sempat diobrak-abrik oleh seseorang.


Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi ketukan pada pintu rumahnya. Ia pun cepat-cepat menuju ruang tamu dan membuka pintu.


Ia terkejut setengah mati melihat dia yang berdiri di depan sana. Detik itu juga Vlora menutup kembali pintu rumahnya.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...***...


...Jangan lupa like dan komen 📌...


...✨...


...✨...


...✨...


Mampir juga di karya teman AG yang satu ini yuk 😍