
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Di bandara internasional Soekarno-Hatta siang itu, sebuah pesawat komersial baru saja lepas landas. Semua penumpang mulai bergegas turun satu per satu setelah pintu pesawat terbuka.
Seorang lelaki tampan turun dari sana dengan perasaan bahagia. Senyum tak pernah luntur dari wajahnya.
"Ra, i am coming!" ucap lelaki yang tidak lain adalah Hariss.
Ya, tuan muda Alexander yang satu ini, sangat berbeda dengan kakaknya. Kepribadiannya yang humble dan senang berbaur dengan siapa saja, membuat status Tuan Muda Alexander tidak pernah nampak di mata orang lain.
Jika kakaknya bepergian selalu menggunakan pesawat pribadi, tidak dengan dirinya yang suka menggunakan layanan komersial. Dia senang berbaur dengan banyak orang, tidak seperti sang kakak yang malah anti dengan hal-hal seperti itu.
Melakukan perjalanan kemanapun, selalu tanpa asisten dan pengawal. Sangat jauh berbeda dengan kakaknya yang selalu terlihat formal dengan pengawalan dan sebagainya. Ribet, begitu kata tuan muda Alexander yang kedua ini.
Lelaki itu lalu berjalan keluar hendak mencari taksi. Namun, ternyata sisah ada yang menjemputnya.
"Silahkan masuk, Tuan." Dia yang bertugas sebagai sopir siang itu, mempersilakan Hariss untuk masuk.
Sesudah itu, ia menutup pintu mobil lalu kembali masuk dan menjalankan mobil tersebut.
"Terima kasih!" ucap Hariss seperti gaya khasnya selama ini. Tidak lupa dengan ucapan sederhana tetapi sangat berarti.
"Lain kali jangan seperti ini lagi! Aku bisa sendiri, tidak perlu repot-repot!" ucapnya lagi.
"Maaf, Tuan! Tapi ini perintah tuan Hae." Sang sopir membela diri.
"Ya, ya .... aku tahu itu!"
Mobil lalu melaju membelah jalanan kota Jakarta yang selalu saja padat dengan kesibukan lalu lintas.
...***...
Di tempat lain, masih pada jam yang sama. Vlora tiba-tiba saja gelisah saat menyadari bahwa sudah lewat dari waktu pulangnya Given.
Berulang kali ia bolak-balik menatap jam di pergelangan tangannya. Waktu terus bergulir hingga pukul 2 siang, tetapi 2 pengawal yang dikirimkan Hae belum juga mengantar anaknya.
Ingin sekali Vlora menelpon lelaki itu untuk menanyakan, tetapi ia segan melakukannya. Nomor ponsel 2 orang tadi pun, tidak sempat ia mintai.
Tidak dapat menahan gelisahnya, Vlora bangkit berdiri dan hendak keluar ruangan ingin menyusul ke sekolah. Dengan gerakan terburu-buru dan tidak fokus, tangannya menyentuh gelas yang terletak di pinggiran meja.
Suara pecahan itu mengagetkan Jihan yang tengah fokus dengan pekerjaannya, sedangkan Vlora, perasaannya semakin bertambah kacau.
Pada saat yang bersamaan, dering ponsel Vlora berbunyi. Tadinya ia hendak membersihkan serpihan beling di bawah sana, jadi terurung. Cepat-cepat ia pun menerima penggilan dari nomor tak dikenal.
📲 "Halo, selamat siang."
📲 "..."
Detik berikutnya, ponsel di tangan Vlora terlepas dan ia pun jatuh pingsan. Jihan panik melihat apa yang terjadi.
Wanita single itu lalu mengambil ponsel Vlora dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.
Jihan pun mendadak shock mendengar ucapan pria di ujung telepon sana.
📲 "Tolong jaga dia sebaik mungkin! Saya segera ke sana."
Jihan mematikan telepon, lalu ia meminta bantuan seorag tukang parkir agar mengangkat tubuh Vlora dan membawanya ke mobil, karena ia belum memiliki karyawan pria.
"Terima kasih, Pak!" ucap Jihan pada lelaki dengan tampilan sedikit lusuh yang sudah menolongnya.
Ia menitipkan butik pada seorang karyawan wanita dan segera mengendari mobil menuju rumah sakit.
Sementara itu, di tempat Hariss, ia yang baru saja tiba di hotel hendak menemui kakaknya, tertahan. Ucapan sang sopir yang juga merupakan salah satu pengawal kakaknya, mengalihkan semua atensi Hariss saat itu.
Ia langsung memerintah pengawal itu kembali mengantarkannya menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan, ia terus menghubungi nomor ponsel kakaknya tetapi tidak bisa tersambung.
"Sh*it!" Hariss mengumpat kesal. "Kebut, Pak! Kebut!" perintahnya.
Beberapa menit, mobil yang ditumpangi Hariss tiba di rumah sakit. Pria itu segera berlari masuk seperti orang gila.
"Di mana dia? Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Hariss dengan nada meninggi, pada 2 pengawal yang sedang berdiri di depan pintu ruang IGD.
"Hariss?"
Belum juga mendapat jawaban dari 2 orang di hadapannya, fokusnya teralihkan pada suara yang memanggilnya.
"Jihan?" Hariss langsung mendekat dan ia kaget mendapati Vlora yang sedang terbaring di brankar dorong.
Jihan menepuk pelan pundak lelaki itu begitu melihat kepanikan dan kekhawatiran di wajahnya.
"Dia hanya pingsan, Riss. Yang harus kita khawatirkan itu ...."
"Permisi! Orang tua pasien ada?"
Pintu ruang IGD terbuka dan seorang dokter keluar dari sana, menghentikan ucapan Jihan.
"Saya, Dokter!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...***...
...Jangan lupa Lika dan komen 📌...
...✨...
...✨...
...✨...
Sambil nungguin bab selanjutnya, mampir dulu di bacaan satu ini yuk 😍