
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Vlora cukup shock mendengar perkataan lelaki itu. Apa yang ia takuti selama ini, benar-benar ia hadapi sekarang. Wanita cantik itu bingung harus menyikapinya dengan cara apa.
Harapan bahwa tempat inilah yang akan menjadi pelarian terakhir, benar-benar terwujud. Namun tujuannya berbeda. Ia malah berakhir dalam perangkap dua lelaki menyebalkan itu.
"Aku mohon, Zack! Jangan lakukan itu! Kau yang memberitahukan keberadaan kami padanya kan? Kau asisten brengsek! Kau tidak punya hati!" maki Vlora pada lelaki itu.
Membayangkan sang putra yang akan direbut paksa oleh keluarga berkuasa itu, Vlora sudah lebih dulu takut setengah mati.
"Makanya itu, jangan hanya mengurusi hidup atasanmu yang gila itu! Sana menikah biar kamu tahu rasanya jadi orang tua dan dipisahkan dari anak itu seperti apa!" pekik Vlora masih terus mencaci maki lelaki di depannya.
Lelaki bernama Zack yang dijuluki Vlora diktator alay, begitu marah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jika awal-awal mereka bertemu, Zack masih sedikit berani mengancam atau memarahinya. Tidak lagi dengan sekarang.
Apapun statusnya saat ini, dia tetaplah wanita yang telah melahirkan seorang penerus Alexander, bahkan mungkin akan menikah dengan tuan muda kedua dari keluarga terpandang itu.
"Silahkan masuk ke kamar Anda, Nona! Sepertinya Anda lelah," ucap Zack cukup dingin.
"What? Kau sedang memerintah diriku?" Vlora tergelak. "Heh, ini rumahku! Aku yang pegang kendali dan aku yang berkuasa di sini! Ngerti?" hardik Vlora.
Ketakutan awal tadi, mendadak berlari entah ke mana. Bawelnya perempuan satu itu kembali on.
"Tuan rumah tidak punya sopan santun," gumam Zack, tetapi masih bisa didengar oleh Vlora.
"Apa kau bilang? Lebih keras lagi coba? Tidak salah?" Vlora tergelak sekali lagi. "Hei, tamu tidak punya akhlak! Kau dan atasanmu datang ke rumahku seperti perampok, dan berharap aku bersikap baik? Sianida mau? Dengan senang hati aku buatkan," ucap Vlora sambil melangkah ke dapur.
Belum juga sampai di dapur, langkahnya sudah terhenti dengan sesosok tinggi tegap yang menghalangi jalannya.
"Kau ingin meracuniku? Kejam sekali kau, Adik ipar," ucap lelaki yang tidak lain dan tidak bukan adalah tuan muda Alexander pertama.
Perkataan itu seperti sebuah sentilan yang mendarat tepat di dada Vlora. Apalagi matanya dengan sengaja menatap sepasang mata elang itu, Vlora merasa seolah tersayat.
"Tidak pernah terbayangkan sama sekali, akan memiliki adik ipar yang cantik tapi kejam dan bar-bar seperti ini," kata tuan muda itu lagi.
Lama keduanya saling menatap dalam diam hingga Vlora memutuskan untuk melangkah mundur. Namun, tubuhnya bukan menjauh malah semakin mendekat, bahkan semakin merapat dengan sosok tinggi tegap di hadapannya.
Harum tubuh yang tak lagi asing dan tatapan itu, memberi debaran aneh di dada ibu satu anak itu.
"Bisakah membuatkanku makan malam yang lezat? Hampir seharian aku bertamu tanpa jamuan apapun. Buatkan sesuatu untukku, Adik ipar," ucap sang tuan muda dengan sorot berbeda di mata Vlora.
"Ka-kau tidak takut aku meracunimu?" Vlora balik bertanya meski gugup tengah merajainya.
Segaris senyum kecil tersungging di wajah tampannya. "Lakukan saja jika memang kau ingin dan kau sanggup. Do it, Sweety!" ucapnya pelan hampir berbisik.
...***...
15 menit berlalu dan meja makan kecil milik Vlora, telah di penuhi beberapa menu makan malam yang sederhana.
"Tentu saja," ucap Vlora apa adanya.
"Em, maaf, Tuan! Tapi ...."
Apa yang mau diucapkan asisten Zack, tertahan begitu melihat tuannya menyendok satu suapan penuh makanan ke dalam mulutnya. Zack terbelalak melihat itu, sementara yang makan terlihat santai sekali, malah seolah menikmatinya.
"Kau tidak mau makan?" Vlora melihat ke arah lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Maaf, saya tidak mau mati sekarang." Singkat, padat, dan tidak jelas.
Gelak tawa antara Vlora dan tuan muda, beradu memenuhi rumah kecil dan sederhana itu.
Kenapa mereka jadi kompak?
Asisten setia tuan muda, bingung sendiri melihat tingkah dua manusia itu. Setelah menghabiskan acara makan malamnya di waktu yang hampir larut, lelaki itu bangkit berdiri menghampiri Vlora.
"Terima kasih!"
Hanya itu yang dia ucapkan dan segera berlalu dari hadapan Vlora, meninggalkan wanita itu dalam keterkejutan.
"Hah? Apa tadi? Terima kasih? Sungguh dia mengatakan itu?" gumam Vlora tak percaya.
"Sepertinya dia bukan Tuan Muda Hae, tapi Tuan Muda Hariss. Apa mereka sedang bertukar jiwa?" Si asisten ikut bergumam.
Sementara itu, di dalam kamar milik Given, lelaki itu tengah duduk di bibir ranjang, menatap bocah tampan yang ia rindukan beberapa waktu ini.
"Kenapa rasanya tidak rela yah?" gumamnya merasa kacau.
Lelaki itu baru saja menghubungi adik dan keluarga besar Alexander bahwa ia telah menemukan penerus keluarga mereka. Rencananya dalam beberapa hari ke depan, mereka akan mendatangi ibu Pertiwi dan memboyong Given bersama Vlora.
Ini kabar bahagia bagi Alexander, tetapi entah mengapa sebagian besar hatinya tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan itu.
Katakanlah aku gila ... aku memang gila ....
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...___________________...
...Jangan lupa like dan komen 📌...
...*...
...*...
...*...
Jangan lupa juga, mampir di karya teman AG yang satu ini yah .... 😍