
...~ Happy Reading ~...
..._____________________...
...***...
Dia yang hendak menjalankan mobilnya saat itu, seketika terurung kala melihat tiga buah mobil lain yang tak lagi asing, diizinkan masuk ke pelataran kediamannya oleh penjaga gerbang.
"Oh, sh*it!" Ia memukul setir mobil sambil berdecak kesal.
Lelaki yang tidak lain adalah Tuan Muda Alexander pertama, segera keluar dari mobil dan menemui keluarga besarnya yang bertandang mendadak.
"Mau ke mana kamu?" tanya lelaki paruh baya yang tidak lain adalah ayahnya.
Founder ALXΒ³H Group itu, tampak baru saja turun dari mobil didampingi oleh sang istri. Mobil berikutnya, terlihat seorang pria tampan dan juga seorang gadis nan cantik, keluar dari sana.
Tuan Muda pertama yang sering dipanggil keluarganya dengan nama Hae, tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Ia lebih dulu menoleh dan menatap adik laki-lakinya dengan tatapan datar.
"Aku mau ke tempat ibu dan anak itu berada, Dad." Menjawab pertanyaan ayahnya dengan pandangan yang tidak berpindah dari Hariss.
Hariss tampak sedikit terkejut dengan ucapan sang kakak. "Maksud Kakak, Vlora dan Giv?"
Mendapat anggukan kecil dari kakaknya, Hariss mendadak khawatir.
"Ke mana mereka, Kak? Kenapa Kakak mengizinkannya? Situasi sedang tidak baik, Kak!" Hariss semakin gusar. "Pasti ke tempatnya Jihan."
Lelaki tampan dengan wajah kalem itu hendak masuk kembali ke mobilnya dan pergi, tetapi suara sang kakak menghentikannya.
"Tunggu Hariss! Aku ikut! Kata Zack dia sudah keluar dari sana bersama sahabatnya." Dan perkataan itu tidak hanya mengagetkan Hariss, tetapi juga semua anggota keluarga Alexander.
Tidak ingin membuang waktu, Hariss segera masuk ke mobilnya lalu segera melesat dari kediaman sang kakak.
"Maksud kamu apa, Hae? Mommy tidak mengerti semua ini! Jangan bilang ...." Wanita paruh baya nan cantik itu bahkan tidak mampu meneruskan ucapannya sendiri.
"Sepertinya begitu, Mom!" Jawaban yang sangat tidak diharapkan.
"Cari dan temukan, Kak! Kerahkan semua anak buah Kakak dan orang-orang kepercayaan Daddy untuk menemukan mereka, Kak!" Suara adik perempuannya baru terdengar.
Gadis cantik itu begitu senang kala mendengar bahwa Given adalah keponakannya. Pertama kali bertemu bocah lelaki itu bulan-bulan yang lalu, Hil langsung menyukainya. Gadis itu merasakan seperti ada sesuatu di antara mereka.
Tidak hanya Hil, tetapi Nyonya Glad pun senang dengan kehadiran bocah itu pertama kali di kediaman The Grange. Wajah tampan bocah itu memang tidak lagi asing di matanya.
Mengetahui bahwa Given-lah yang ditawan bersama ibunya oleh sang putra sulung, wanita paruh baya nan cantik itu marah, tetapi juga bahagia. Marahnya karena mereka dijadikan pelayan, tetapi bahagia karena ternyata takdir membawa Given masuk ke dalam keluarganya.
Namun, Nyonya Glad pun masih dipenuhi rasa penasaran akan wajah cantik ibu dari bocah yang didaulat sebagai cucu pertamanya. Sekilas melihat di layar televisi tadi, raut cantik itu begitu familiar.
Harapan untuk mendatangi Newington dan bertatap muka dengan wanita itu, mendadak sirna.
"Lakukan, Hae! Mommy mau bertemu cucu mommy." Nyonya Glad sangat berharap.
Lelaki tampan dengan wajah jarang senyuman itu, mengangguk dan menenangkan ibu serta adik bungsunya. Ia pun kini tidak lagi menyusul adik laki-lakinya, Hariss.
Atas saran sang ayah, Hae hanya perlu menghubungi orang-orang kepercayaan mereka dan memerintahkan untuk menemukan Vlora dan Given secepatnya.
...*****...
Seluruh anggota keluarga Alexander, masih berada di Newington. Semuanya masih menunggu laporan tentang keberadaan Vlora dan Given yang entah menghilang ke mana.
Hariss benar ... harusnya aku tidak mengizinkanmu tadi!
Hae yang sudah dua jam lebih menunggu kabar berita, tampak begitu gusar. Entahlah, tetapi rasa takut kehilangan, tiba-tiba saja menyelimuti hati lelaki introvert itu.
"Kamu kenapa, Hae?" tanya Nyonya Glad.
Dalam kekhawatirannya, wanita itu menangkap lagat yang berbeda dari putra sulungnya.
"Ah, tidak kenapa-kenapa, Mom!" sangkalnya tegas.
"Mom lihat, khawatirmu terlalu berlebihan, Sayang. Kenapa?"
Pertanyaan itu membuat putra sulungnya membuang pandangan ke tempat lain. Jelas sekali bahwa tuan muda itu berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Kau menyukainya?" Lagi tanya sang ibu, tetapi tidak jua ada jawaban dari putranya. "Hargai perasaan adikmu! Mom tidak mau kalian bertengkar hanya karena wanita!" tandas wanita paruh baya itu.
Seperti sebuah pukulan telak yang menyadarkannya, lelaki itu hanya menunduk dengan mata yang terpejam.
Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Tapi saat ini, aku hanya ingin melihatnya ada di sini.
Hae membuang nafasnya dengan berat.
...*****...
Di tempat lain dalam sebuah ruangan kecil dengan pencahayaan yang temaram, terdengar percakapan antara dua wanita, sedikit membunuh hening yang mendominasi.
"Kamu yakin mereka tidak akan mencari kita?"
"Itu pasti saja, Ji. Tapi aku berharap, semesta berbaik hati dan berkonspirasi membantuku kali ini, agar tidak dipertemukan dengan keluarga itu."
Seorang wanita berbicara dengan suara pelan hampir berbisik, sambil menangkupkan kedua tangannya. Ketakutan terus saja membuntuti setiap langkahnya.
"Mom, kita mau kemana? Kenapa belum pulang ke rumah-" Suara seorang bocah yang tiba-tiba saja melengking, membuat ibunya dengan cepat membekap mulutnya.
"Stttt!"
...π·π·π·...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Warning!!!...
...π LIKE & KOMEN π...
..._____________________...