Not You

Not You
7. Friend's Advice



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


"Satu saja pertanyaan aku, Ra. Kamu cinta gak sama dia?" tanya Jihan.


Dua orang wanita dewasa itu, kini tengah duduk di ruang kerja Jihan, sedangkan Given asik menonton serial kartun kesayangannya, di ruang tengah.


Sudah hampir sejam, Vlora mengeluarkan segala beban yang menindihnya. Ia menceritakan semua yang terjadi sebelum kedatangan Jihan ke rumahnya.


Sebagai sahabat, tentu saja Jihan marah mendengar itu. Meskipun selama ini ia tahu dengan kebiasaan buruk Tristan, tetapi itu tidak akan menjadi masalah selama sahabatnya baik-baik saja.


Namun, untuk kali ini, Jihan benar-benar marah dengan apa yang dilakukan suami dari sahabatnya. Ia sungguh tidak menyangka dengan sikap lelaki itu sekarang. Lelaki yang dahulu begitu memuja sahabatnya, kini bahkan berani merendahkan dan membandingkan sang sahabat dengan kebanyakan wanita di luar sana.


"Jawab jujur, Ra. Apa kamu benar-benar mencintai dia?" Jihan mengulangi pertanyaannya.


Kelopak mata Vlora terpejam erat, dengan helaan napas panjang dan dalam. Wanita itu tengah berusaha tenang, di tengah gejolak hati dan pikiran yang kacau balau.


Wanita cantik dengan rambut hitam legam sebahu itu, menunduk lemah. Kedua tangan terangkat menutup wajah gundahnya. Pertanyaan dari Jihan seperti sebuah jebakan yang mengekang.


"Gak bisa jawab?" Lagi, Jihan bertanya. Wajah judes itu menyorot Vlora dengan tajam.


"A-aku, yah ... aku cinta. Kalo gak, mana mungkin aku bertahan sejauh ini?" Vlora mengangkat wajahnya kembali, tetapi ia tidak ingin membalas tatapan sang sahabat.


Satu sudut bibir Jihan terangkat. "Yakin?" tanyanya lagi.


Kali ini Vlora menoleh, lalu membalas tatapan sahabatnya dengan sedikit kesal.


"Yakin dong. Kamu kenapa sih?" Kekesalan Vlora membuat Jihan semakin tersenyum lebar.


Wanita cantik itu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengitari sofa kecil yang di duduki Vlora.


"Mata kamu gak menyiratkan apa-apa, Beb." Jihan berhenti tepat di hadapannya, lalu sedikit membungkuk demi menatap wajah cantik sang sahabat yang tampak tak keruan.


"Mata kamu menjelaskan hal berbeda dari apa yang kamu ucapkan, Beb. Mulut kamu bisa membohongi hati, bagitu juga sebaliknya. Hati kamu bisa saja mengkhianati dirimu." Jihan pun lebih membungkuk lalu akhir memilih duduk di depan sahabatnya.


"Mulut dan hati bisa saling menyakiti dan mengkhianati. Saat hatimu tidak mencintai, tetapi kadang situasi memaksa mulut tuk mengatakan cinta. Sama juga dengan hati. Kadang cinta setengah mati, menginginkan seseorang, tapi mulut malah berdusta dengan sebuah penyangkalan." Jihan melanjutkan ucapannya.


"Tapi tidak dengan mata, Beb. Dia akan selalu menunjukkan apa yang kamu rasakan tanpa perlu sebuah penjelasan dan pengakuan." Jihan menatap lekat wajah tirus sang sahabat. Ucapannya selalu berhasil membungkam Vlora.


"Aku yakin bahwa selama ini bukanlah rasa cinta, Ra. Kamu hanya merasa betah karena ketergantungan sama dia." Lagi, Jihan berucap.


Jihan bangkit dan kembali ke tempat duduknya. "No, no, no! Kamu gak nyaman sama sekali, Beb. Kamu hanya betah, dan rasa betah itu sementara saja. Seperti sekarang, kamu udah gak betah kan?" tanya Jihan untuk kesekian kalinya.


Lagi-lagi Vlora tidak bisa menampik perkataan sahabatnya itu. Diamnya malah semakin mengartikan banyak hal bagi Jihan.


"Aku kalo di posisi kamu, gak pake lama, Beb. Minta cerai sejak awal, dan cusss ... langsung pulang ke Jakarta." Dan ucapan Jihan kali ini, membuat Vlora terbelalak.


"Kamu ngajarin aku buat minta cerai? Kamu sadar, Ji? Hei, dalam hubungan ini, bukan saja tentang aku dan dia, ada Given di antara kami. Aku gak bisa seegois itu. Akan jadi apa anakku nanti? Jangan ngadi-ngadi kamu!" Vlora menggelengkan kepalanya kuat disertai lambaian tangan yang menunjukkan penolakan.


Ia lalu membenturkan punggung secara kasar pada sandaran sofa, sambil memijit pelipisnya perlahan. Ucapan-ucapan Jihan berlalu lalang dalam pikirannya, membuat seisi kepala wanita itu berasa ingin meledak.


"Apa yang kamu dapatkan dan harapkan dari hubungan ini?" Jihan terkekeh pelan. "Dengar ini baik-baik, Nyonya Vlora! Jangan mengharapkan apapun dari orang yang memiliki riwayat selingkuh, karena kamu hanya akan mendapat pengkhianatan dan sakit hati. And you know that, suamimu itu memilik riwayat selingkuh parah stadium akhir, dan sudah tidak bisa disembuhkan lagi, okay?" Berkacak pinggang di hadapan sahabatnya.


Vlora baru saja menengadah hendak mengatakan sesuatu, tetapi terhalangi dering ponsel Jihan yang berbunyi kala itu.


Wanita dengan tinggi semampai itu menepi sejenak lalu menjawab teleponnya. Tiba-tiba ia kembali dengan raut bahagia.


"Beb, aku harus pergi. Ada pesanan penting dari seseorang yang spesial banget. Kamu di sini aja dulu, tenangin diri, aku mau ngajak Given." Jihan pun bergegas keluar dari ruangannya dan memanggil Given.


"Siapa?" gumam Vlora bertanya-tanya.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Like dan komen jangan lupa!...


...Ada vote? sabilah, sumbangin 🤭...


...________________________________...


...Ada rekomendasi novel punya teman AG pagi nih. Kalau sempat, mampir yah 😍...



Velia Selkova pergi ke negara lain untuk memulai kehidupan baru setelah dikhianati suaminya. Tak pernah disangka setelah tiba di negara tersebut dia mendapat musibah yang membuatnya menjadi seorang ketua mafia.


Terjun ke dunia gelap selama beberapa tahun membuatnya menemukan fakta yang mengejutkan tentang masa lalunya. Velia memutuskan kembali ke negaranya untuk mengungkap kebenarannya.


Deon Alexander yang terkenal sangat perfectsionis dan gila kerja memiliki saingan di yang tidak bisa dikalahkannya dengan mudah karena memiliki klan mafia yang cukup kuat. Pertemuannya dengan Velia Selkova membuat Deon Alexander ingin membuat kesepakatan.