
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Tidak ada perpisahan manis bagi mereka yang dengan tulus menyayangi. Seperti yang dirasakan Jihan saat ini. Belum juga sehari, ia sudah merasa hampa tanpa adanya Vlora dan Given.
Bagi Jihan, ini setara dengan patah hati. Keinginan untuk bertemu dan menghabiskan banyak waktu bersama dua makhluk itu, pupus.
Saat Vlora masih di rumahnya sendiri sudah sulit untuk mereka bertemu. Jihan harus mencari waktu di tengah-tengah kesibukannya. Sekarang malah dilarang bertemu sama sekali oleh Tuan Muda Alexander itu.
Jihan akan sangat merasa kehilangan dan hampa selama enam bulan ke depan.
Take care, beb. Aku harus menabung rindu selama enam bulan. Berat tauuuu ....
Jihan membatin dengan manik yang mengembun, sembari melihat taksi yang ditumpangi sahabatnya menjauh, lalu perlahan menghilang dari matanya.
"Are you ok?" tanya Hariss yang melihat kesedihan di mata Jihan.
"Sedikit tidak baik sepertinya," jawab Jihan begitu pelan.
Wanita itu lalu berbalik dan berjalan masuk ke apartemennya, tanpa berucap apa-apa lagi pada mantan kekasih sahabatnya itu.
Hariss sendiri memaklumi mood kedua perempuan itu. Ia lalu berjalan menuju mobilnya dan segera melesat dari sana.
...*****...
"Mom, beneran kita mau tinggal di rumah uncle tampan?" tanya Given yang mendengar percakapan ibunya tadi.
Vlora mengangguk barat. "Iya, Sayang. Tapi tidak akan lama, hanya sementara saja," jawab Vlora dengan senyum yang sangat manis.
"Asik! Giv senang dengernya, Mom," ucap bocah itu raut bahagia.
Vlora ikut senang melihat itu. "Iya, Sayang. Tenang saja, mommy akan mencari cara supaya kita tidak perlu berlama-lama di sana." Vlora berencana dini.
"Yah ... kenapa, Mom? Lama-lama juga tidak apa-apa. Given senang di sana." Ucapan anak itu sungguh sangat menyentak Vlora.
"Astaga, Giv! Mommy pikir kamu senang karena kita tidak perlu lama-lama di sana, sama seperti mommy. Eh, kamu malah beda lagi pikirannya. Kenapa sih? Kok, Giv jadi senang sama orang jahat?" Vlora tidak habis pikir.
"Kata siapa uncle tampan jahat? Uncle-nya baik, Mom. Giv diperlakukan sangat baik sama uncle dan semua orang di sana. Uncle memang menyebalkan karena tidak banyak ngomong, tapi dia baik." Given bertutur pada sang ibu.
Tidak, sayang. Tidak! Kamu masih kecil jadi dengan liciknya dia memanfaatkan kamu, tapi sesungguhnya dia itu monster. Astaga, aku harus menjauhkan Given darinya.
Vlora membatin dengan mata terpejam menahan geram. Belum juga enam bulan, awalnya saja sudah seburuk ini, pikir wanita ceking itu.
Taksi yang ditumpangi ibu dan anak itu, tiba di Newington. Vlora menarik napas dalam-dalam sebelum mobil benar-benar berhenti di depan gerbang istana Tuan Muda Alexander.
Si cantik dan si ganteng itu keluar dari mobil setelah membayar 25 pound kepada si pengemudi. Keduanya lalu melangkah masuk dengan Given yang berlari girang, sedangkan Vlora tersiksa batin setengah mati.
Jauh di depan sana, mata Vlora sudah melihat Zack tengah berdiri sigap dengan kedua tangan yang tersembunyi di belakang.
Look, seperti tidak punya kerjaan saja. Heran deh ....
Vlora memutar bola matanya malas. Ia terus berjalan dengan pura-pura tidak melihat lelaki itu.
"Anda sudah terlambat dua puluh menit, Nona!" Ucapan itu seketika menghentikan langkah Vlora.
"Ah, selamat siang, Tuan Zack. Maaf atas keterlambatannya, yang penting kan sudah kembali." Vlora tersenyum paksa.
Dua puluh menit saja dipersoalkan. Diktator alay!
"Sedang apa Anda di sini, Tuan? Menunggu saya? Oh, terima kasih, saya tersanjung sekali." Vlora bertingkah gemas.
Entah ada apa dengan wanita ceking itu, meskipun asing, tetapi baik Vlora maupun Given merasa seolah pulang ke rumah sendiri. Tidak dipungkiri ia kesal dan tidak suka berada di sana, tetapi tanpa ia sadari, neraka itu telah mengembalikan dirinya yang dulu.
Wanita gi*la. Waktu di kafe malam itu, seperti orang kehilangan harapan hidup, sekarang malah jadi gi*la.
"Ini kamar Anda, Nona." Zack memberitahu.
"Hm, apa tidak terlalu mewah untuk ukuran pelayan, Tuan?" tanya Vlora dengan mata yang menyapu setiap sudut ruangan yang cukup besar itu.
"Keberatan Anda nanti bisa disampaikan pada tuan muda. Dan satu lagi, jangan panggil saya dengan sebutan tuan. Cukup Zack saja!" ucap lelaki dingin itu dengan tegas.
"Baiklah, Tuan, eh sorry. Maksudnya ... Zack. Dan apa yang harus aku lakukan sekarang, Zack?" tanya Vlora lagi.
"Anda boleh istirahat sampai tuan muda selesai dengan urusannya. Tuan yang akan memberikan tugas untuk Anda." Zack pun undur diri dan keluar dari kamar Vlora.
Selepas kepergian asisten Tuan Muda Alexander itu, Vlora lalu menelusuri setiap sudut kamar barunya. Ia kemudian berjalan ke arah jendela dan melihat Given yang tengah bermain di taman dengan seorang pria, yang diyakininya salah satu anak buah Tuan Alexander.
Meskipun tidak suka dengan situasi ini, tetapi melihat sang putra yang bahagia, Vlora cukup tenang dengan hal itu.
Lelah dan efek masih sedikit kurang vit, Vlora akhirnya memilih merebahkan tubuh lelahnya. Tanpa diduga, wanita ceking itu pun terlelap.
Raja siang yang terselubung awan mendung, hampir saja tiba di garis akhir perjalanannya. Tidak terasa, senja telah menyapa, menorehkan semburat kelabu di tapal batas cakrawala.
Saking lelahnya Vlora tidak sadar hari sudah petang. Ketukan pada pintu kamar berulang kali, tidak kunjung jua mempan membangunkannya. Alhasil Given sendiri yang membangunnya.
"Mom, Mommy," panggil bocah itu sangat pelan.
Vlora menggeliat dan baru tersadar. Begitu ia membuka mata dan melihat putranya, Vlora langsung tersenyum.
"Ah, maafkan mommy, Sayang. Mommy ketiduran," ucap Vlora dengan suara khas bangun tidur.
"Tidak apa-apa, Mom. Tapi Mommy sepertinya harus minta maaf sama uncle, karena sedari tadi uncle sudah menunggu Mommy."
Vlora tersentak dan langsung bangun lalu segera turun dari tempat tidur.
"Astaga, mommy pikir kita di rumah, Sayang!"
Tanpa membenahi rambut ataupun memerhatikan penampilannya, Vlora segera berlari ke arah pintu hendak keluar, tetapi ....
Brukkk!
"Auh," ringis Vlora sembari memegang keningnya.
Dilihatnya Tuan muda tampan itu sudah berdiri di hadapannya, dengan wajah datar.
"Pelanggaran pertama! Catat, Zack!" seru lelaki itu.
"Baik, Tuan!" Diktator alay menyahut dan melaksanakan perintah tuannya.
"A-apa? Hei, a-aku kan tidak sengaja. Kau ... maksudnya Anda jangan berlaku curang, Tuan!" protes Vlora tidak terima.
"Zack, pelanggaran kedua!" Lagi, tuan muda itu berseru.
Vlora mengembuskan napasnya dengan kasar lalu meminta maaf. Hal yang dia ingat dari setiap poin dalam lembaran yang ia tandatangani yaitu, jika terjadi pelanggaran, masa tahanannya di rumah besar itu diperpanjang. Tentu Vlora tidak ingin itu terjadi.
"Apa tugas pertama saya, Tuan!" tanya Vlora dengan wajah tertunduk pasrah.
Lelaki tampan di hadapannya menyeringai.
Let's play the game ....
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...📌📌 Kondisikan jempol yah 😝 📌📌...
...___________________________________...