Not You

Not You
30. Newington



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


Vlora yang mendengar cerita dua orang berbeda genre di hadapannya, seketika langsung ingin ke tempat acara itu. Tubuh kurusnya yang masih sakit dan lemah, mendadak kuat dan sehat.


Sungguh, the power of cinta seorang ibu. Vlora bergegas meraih jaket dan hendak keluar dari apartemen Jihan, menuju tempat di mana anaknya berada. Namun, Jihan dan Hariss berusaha menahannya.


"Sabar, Ra. Sabar!" Jihan mencegah langkahnya. "Orangnya tidak akan membiarkan kamu menemui Given dengan mudah. Dia bukan orang sembarangan, Ra. Aku pun tadi tidak bisa menemui orang itu, hanya dia yang bisa," tunjuk Jihan pada Hariss.


"Hariss sudah berbicara dengan orang itu, dan dia berjanji akan mengembalikan Given setelah kamu mau menemuinya besok. Tidak untuk malam ini," lanjut Jihan lagi.


Vlora tidak menerima semua itu dan tetap ngotot ingin ke sana.


"Kenapa harus besok? Kenapa tidak malam ini saja? Aku tidak ingin membuang waktu. Dia ingin menemui aku kan? Ya sudah, aku ke sana sekarang!" tegas Jihan dan kembali bergegas ingin ke sana.


"Kamu bisa tenang dulu gak? Aku bisa memastikan anakmu tidak akan kenapa-kenapa. Dia baik-baik saja, Ra. Trust me," kata Hariss menenangkan.


Vlora memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat lelaki yang tengah berdiri di hadapannya saat itu.


"Tidurlah, ini sudah larut! Kamu sedang sakit kan? Istirahatkan tubuhmu untuk hari esok. Aku akan menjemput dan mengantarkanmu menemui penculik itu," ucap Hariss lagi.


"Tidak perlu!" sahut Vlora dan langsung bergegas ke kamar.


Brakkk!


Hentaman pintu itu tidak lantas membuat Hariss dan Jihan kaget, tetapi malah sebaliknya. Dua orang itu tersenyum dengan tawa yang tertahan.


"Gak tahan pengen peluk, Ji. Dosa gak yah?" tanya Hariss iseng.


Sebuah pukulan kecil mendarat di pundak lelaki itu. "Sembarangan kalo ngomong. Dosa lah, orang dia belum resmi cerai juga. Hold on, Bro!" kata Jihan.


Hariss terkekeh kecil dan mengangguk. "At least, aku masih punya kesempatan kedua untuk mendapatkan hatinya lagi. Aku pamit, Ji. Kamu juga harus istirahat dan thank you for tonight," ucap Hariss lalu berpamitan.


Sepulangnya lelaki itu, Jihan dikagetkan dengan kehadiran Vlora. Ia baru saja kembali dari depan setelah mengantarkan Hariss, kini berhadapan dengan sahabatny lagi.


Vlora berdiri sambil menyilangkan tangan di depan dada, sorot matanya penuh intimidasi.


"Loh, belum tidur, Beb?" Jihan agak kaget.


"Jelaskan!" Satu kata itu sudah sangat cukup dimengerti oleh Jihan.


"Di kamar saja yah, aku capek banget soalnya. Biar sambil rebahan." Jihan langsung melangkah menuju kamar dan disusul Vlora.


Jihan mulai bercerita sembari berganti pakaiannya. Setelah itu, ia melanjutkan sambil membersihkan make up di wajahnya, kemudian yang terakhir, ia menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang, dengan masih terus bercerita.


Vlora duduk dengan manis bersandar pada headboard dan mendengarkan dengan seksama.


"Dan betapa bereng*seknya kamu menceritakan semua permasalahan rumah tanggaku." Sebuah bantal mendarat sempurna di wajah Jihan.


Wanita cantik yang tengah kelelahan itu, tergelak puas.


"But do you know? Ternyata si Rebecca itu bohong. Hariss gak ada hubungan apa-apa sama dia. Anak itu juga bukan anaknya," ucap Jihan penuh semangat.


Vlora berdecak. "Topik kita tidak sampai ke sana. Aku tidak ingin mendengar soal dia dan siapapun. Aku hanya ingin mendengar tentang anakku."


Vlora menurunkan tubuhnya dan menelusup dalam selimut, menutup wajahnya yang terasa panas.


Benarkah? Akh, tidak! Tidak, Vlora. Kau sudah melupakannya. Jangan mengharapkan apapun! Tapi ... kenapa dia datang di saat rumah tanggaku di ujung kehancuran?


"Apa aku kurang ada masalah? Aku memang kurang kerjaan, tapi banyak masalah. So, no time to think about him." Vlora langsung memunggungi sahabatnya.


"Aku lebih memikirkan siapa penculik itu saat ini? Maunya apa dariku? Katamu, dia bukan orang biasa, pasti orang kaya. Kira-kira, apa lagi yang dia mau dari orang missQueen seperti aku? Tebusan? Hah, nonsense banget." Vlora menurunkan kembali selimut yang menutupi wajahnya.


Benar, pikiran si cantik bertubuh kurus itu, tengah berlarian dan menduga-duga siapa orang yang telah menculik anaknya.


"Apapun itu, baik kamu maupun aku, kita ... tidak akan bisa sendirian tanpa Hariss. Aku sangat yakin jika dia bisa membantu." Ucapan Jihan selalu membuat Vlora jengkel.


"Kenapa sih dia bisa ada di sini? Kenapa juga harus datang sekarang?" Pada akhirnya ia pun sedikit kepo.


"Lah mana aku tahu, Baby. Kali aja emang jodoh. Jodoh yang tertunda." Wanita cantik itu seketika tergelak lagi.


Vlora semakin kesal dan tidak ingin bercerita lagi. Ia segara membenamkan tubuhnya di dalam selimut, dan siap mengarungi malam. Beharap pagi segara datang dan ia bisa melihat putranya.


...*****...


Waktu yang ditentukan si penculik itu pun tiba. Jihan dan Vlora di jemput Hariss untuk menemui orang itu. Namun, Jihan menolak dengan alasan pekerjaan, dan tinggalah Vlora bersama dengan Hariss.


Jihan memang sengaja melakukan semua itu, dan Vlora yang sudah mencium kelakuan sahabatnya, menahan geram setengah mati. Mau tidak mau, ia terpaksa pergi berdua saja dengan Hariss.


"Kau masih marah padaku?" tanya Hariss saat keduanya dalam perjalanan.


"Tidak! Tapi tolong, jangan tanyakan apapun, juga jangan mengatakan apapun! Aku sudah melupakan semuanya." Vlora membuang pandangannya ke luar jendela, tidak membiarkan Hariss untuk menatapnya sedetik pun.


Lebih dari tiga puluh menit berkendara, keduanya tiba di sebuah rumah yang begitu besar dan indah. Sebuah hunian mewah yang terletak di selatan pusat Edinburgh, yang dikenal dengan sebutan Newington.


"Apa aku harus menemanimu masuk ke dalam sana?" tanya Hariss, tetapi Vlora dengan cepat menolak.


Wanita itu keluar dari mobil dan melangkah masuk dengan pasti. Tidak ada sedikit pun ragu dalam tiap langkahnya, karena perasaan rindu ingin bertemu sang putra, teramatlah besar.


Banyaknya penjaga dan pengawal yang berjajar di sekitar rumah megah itu, tidak membuat Vlora gentar. Baginya, Given semakin dekat dan ingin segera ia meraih bocah itu, tanpa peduli dengan aral di depan mata.


"Selamat siang, Nona. Mari ikut saya! Tuan sudah menunggu di dalam," ucap seorang dari sekian banyak pengawal.


Vlora mengikutinya hingga tiba di sebuah ruangan yang dikelilingi dengan kaca. Ia sedikit gugup, begitu melihat sesosok pria bertubuh kekar yang tengah berdiri memunggunginya.


Nyali wanita itu semakin menciut kala ia menengok ke samping dan belakang, pengawal yang tadi mengantarnya tidak lagi ada.


Sh*it! Menghilang tanpa jejak lagi.


Ia membatin dengan gerutuan, lalu ragu-ragu menyapa orang yang sepertinya sudah mengetahui kehadirannya, tetapi tidak ingin menyapa lebih dulu.


"Selamat siang, Tuan!"


Hampir saja Vlora ambruk, ketika sosok itu berbalik dan menatap dirinya.


"Ka-kamu?"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Lemesin jempolnya yah 😍...


...__________________________...