
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
"What the fu*ck!"
Jihan tersentak mendengar penuturan sahabatnya. Setelah membantu menyiapkan keperluan Vlora untuk mandi dan berganti pakaian, wanita penuh obsesi itu kemudian memaksanya bercerita.
"Breng*sek! Dia pikir dia siapa?" murka Jihan. Wanita cantik itu menggebrak meja kecil yang ada di hadapannya.
Saat ini, keduanya tengah berada di dalam kamar, duduk pada dua buah sofa single milik Jihan yang tersedia di sana.
Vlora hanya bisa menunduk memejamkan mata dengan telinga yang setia terbuka, mendengar amukan dari sang sahabat.
"Sudah lupa dia dulu ngemis-ngemis, mohon-mohon buat nikahin kamu? Sekarang dengan entengnya dia bilang pisah dan langsung mengusir dengan cuaca seperti ini? Di mana hati nuraninya? Apa sudah habis dimakan anj*ing? Dasar baji*ngan, kepa*rat!" Jihan begitu marah dan tiada henti mengumpat Tristan.
"Kamu juga sih, coba dari dulu minta diceraikan, at least gak setragis ini. Ini sih kamu direndahkan sekali, Ra. Dan aku tidak terima kamu diperlakukan seperti ini," protes Jihan pada sahabatnya.
"Kalau dia gak mikirin kamu, setidaknya mikirin Given dong. Setega itu terhadap anak sendiri, sampai anak hilang pun tidak digubris sama sekali? What the hell? Ayah durhaka sepanjang abad di belahan benua biru ini." Tidak puas, wanita itu kembali mengutuk suami dari sahabatnya.
"Gak bisa, pokoknya aku tidak terima!" Lagi-lagi wanita barbar itu menggebrak meja. Setelah itu, ia segara bangkit dari duduknya.
"Mau kemana, Ji?" tanya Vlora.
Wanita malang itu mendadak was-was melihat sahabatnya yang berdiri dan menuju lemari pakaian.
"Aku harus ke sana sekarang juga dan buat perhitungan sama dia," jawab Jihan sambil meraih sebuah jaket kulit dari dalam lemari.
Vlora lantas ikut bangkit dan menahan gerakan sahabatnya. Si cantik dengan wajah pucat pasi itu menggeleng lemah dengan sorot memohon.
"No, kali ini jangan halangi aku! Aku harus memberinya pelajaran biar dia tahu diri, kalau dia lebih hina dan lebih rendah di mata dunia." Jihan begitu berapi-api dalam setiap kalimatnya.
"Jangan, Ji! Please!" mohon Vlora dengan sungguh.
Jihan menoleh ke arahnya dengan kesal. "Kamu kenapa sih? Santai saja dipermalukan seperti itu? Punya harga diri dong jadi perempuan."
Tidak peduli, Jihan lekas mengenakan jaket dan hendak pergi, tetapi suara Vlora menahannya.
"Dengan kamu pergi ke sana, bukannya memperbaiki harga diriku tetapi sebaliknya, hanya semakin mempermalukan aku, Ji." Ucapannya membuat Jihan berbalik saat itu juga.
"Maksud kamu apa?" Sebelahnya kening Jihan terangkat.
"Bukan dia yang salah, tapi aku." Vlora menunduk tidak mampu untuk meneruskan ucapannya lebih jauh lagi.
"Kamu ...." Jihan refleks menjeda perkataan, kala dering ponselnya memekik.
Ia melirik Vlora sekilas, lalu bergegas meraih ponselnya dan menerima panggilan yang entah dari siapa. Tampak, tulisan 'unknown number' yang tertera pada layar.
📲 "Halo, selamat malam!"
📲 "...."
📲 "Iya benar, saya sendiri."
📲 "...."
📲 "...."
📲 "Baiklah, saya ke sana sekarang."
Panggilan telepon itu pun berakhir dengan Jihan yang dipenuhi kebingungan besar.
"Mau pergi? Pergilah!" Vlora tahu jika sahabatnya itu hendak pergi ke tempat lain setelah mendapat telepon tadi.
Ia bernafas sedikit lega, karena Jihan tidak jadi pergi ke rumah Tristan, juga tidak lagi bertanya lanjut tentang alasannya. Vlora masih ingin merahasiakan hal yang membuat Tristan kecewa terhadapnya.
Ia masih butuh waktu untuk itu. Jangan sampai reaksi Jihan sama seperti Tristan yang akhirnya kecewa dan marah terhadapnya.
Lama Jihan menatapnya, hingga wanita itu memintanya untuk ikut bersama.
"Gak, kamu saja. Aku mau istirahat saja, Ji." Vlora menolak ajakan sahabatnya.
"No! Aku tidak akan membiarkanmu sendirian dengan kondisi kamu seperti ini. Ayo, ikut!"
Tanpa menunggu persetujuan Vlora, Jihan segera menarik tangannya dan memaksanya ikut bersama. Vlora yang sudah menggenakan baju hangat berlapis milik Jihan, tidak perlu lagi untuk menggunakan jaket.
Keduanya segera masuk ke mobil, lalu melesat menuju tempat yang disebutkan seseorang di seberang telepon tadi.
"Mau ke mana ini, Ji? Aku ... aku tidak tenang belum mendapat kabar apa-apa dari kepolisian," ucap Vlora penuh khawatir.
"Tenang dan berdoalah! Aku yakin Given tidak kenapa-kenapa. Dia anak yang kuat dan cerdas," ucap Jihan menenangkan.
Namun, apapun itu, tidak lantas membuat ibu satu anak itu tenang dan berhenti barang sejenak dari gelisahnya. Ibu mana yang akan baik-baik saja tanpa kabar seorang anak? Ke sekolah beberapa jam saja susah sangat merindukan, apalagi tidak tahu di mana rimbanya seperti ini.
Tiga puluh menit menempuh perjalanan, keduanya lalu tiba di sebuah tempat.
"Di sini?" tanya Vlora dan Jihan mengangguk.
"Siapa yang mau kamu temui, Ji? tanyanya lagi dan Jihan hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.
Vlora tidak bertanya dan hanya mengikuti langkah sahabatnya. Tanpa mereka sadari, beberapa radius dari tempat mereka pijaki, ada seseorang yang memantau mereka.
"How pitty you are ....?"
Kekehan kecil terdengar dari mulut seseorang yang tengah duduk di balik kemudi.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Jangan lupa jejaknya yah ❤️...
...___________________________...