
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Hariss membawa Vlora ke kamarnya. Begitu tiba di sana, keduanya saling berdiam diri untuk beberapa saat, hingga Vlora memutuskan mengakhiri keheningan yang tercipta.
"Riss, aku rasa ... aku dan Given gak bisa tinggal di sini dulu sampai kita menikah nanti." Ucapan Vlora seketika menyentak hati Hariss.
Dia yang sedari tadi berdiri jauh dari Vlora, dengan pandangan keluar menembus kaca jendela kamarnya, seketika menoleh pada Vlora.
"Why?" tanya Hariss dengan kening mengerut.
"A-aku ... aku ...." Vlora tergagap dan tidak tahu apa yang harus dia katakan. "Hariss, aku–"
"Apa ini karena ada kak Hae?" Hariss menatapnya dengan lekat. Vlora hanya menunduk tanpa jawaban, seolah tidak mampu untuk berucap.
"Tidak perlu khawatir dengan kehadirannya, toh dia bukan lagi tuanmu. Kamu tidak perlu takut atau pun tunduk terhadapnya. Lagian dia tidak berlama-lama di sini, paling sebentar juga sudah pulang. Dia hanya datang menjenguk mommy. Tenanglah," jelas Hariss panjang lebar.
Bukan takut, Riss. Tapi entahlah, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Batin Vlora begitu gelisah.
Hariss mendekat ke arah Vlora yang tengah duduk di bibir ranjang king size miliknya. Menekukkan satu kaki, lalu bersimpuh di hadapan wanita yang sedari dulu bertakhta di hatinya.
"Aku mohon tetaplah di sini, Ra. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan kalian. Dan aku harap mulai detik ini, anggaplah dia seperti kakakmu juga, bukan seperti tuanmu. Sebentar lagi dia akan menjadi kakak iparmu bukan?" Hariss masih memberi pengertian dengan sudut pandangnya sendiri, tetapi berbeda dengan Vlora yang tampak begitu gelisah.
Ada gundah yang tidak diperlihatkannya, juga ada rasa tak menentu tiap kali dia bertemu Hae. Selama sebulan kembali ke Edinburgh, Vlora begitu bersyukur tidak bertemu dengan lelaki introvert itu. Namun, pertemuan tidak terduga hari ini, sukses menggelisahkan jiwanya. Anehnya, dia sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.
"Ra, Ra ... hei, apa yang kamu pikirkan?" Hariss mengagetkan Vlora yang tampak larut dalam pikirannya sendiri.
"Ah, tidak ada." Vlora tersenyum kikuk. Ia lalu melirik jam kecil pada pergelangan tangannya. "Sepertinya Giv sudah bisa dijemput," imbuhnya mengalihkan kecanggungan yang mendadak ia ciptakan sendiri.
...***...
Masih di kediaman besar Alexander, di depan bangunan megah bergaya Victoria itu, Hae sedang termangu di dalam mobil miliknya. Lelaki tampan itu tengah berpikir keras soal sang ibu yang kembali dari kediamannya di Newington pagi tadi, tiba-tiba pingsan.
Rasa bersalah karena mengacuhkan ibunya pagi tadi semakin bertambah, saat sang ibu menolak untuk menemuinya.
"Ada apa dengan mommy. Tidak seperti biasanya dia marah dan tidak ingin menemuiku. Aku sangat mengenal mommy."
Benar, Nyonya Glad adalah sosok yang sangat lemah lembut tidak pernah sekalipun marah terhadap putra-putrinya. Ia adalah sosok penyayang dan pengertian. Seperti apapun kesalahan atau kenakalan anak-anaknya, ia selalu memaafkan dengan cintanya. Oleh karena itu, Hae dan kedua adiknya sangat menyayanginya.
.
Hae memejamkan matanya dengan kuat, mengusir bayangan Vlora yang berada di sisi adiknya. Perih bercampur kesal, kala ia menatap tangan wanita cantik itu digenggam sang adik dan dibawa masuk ke kamarnya. Saat itu, Hae baru saja keluar dari kamar ibunya karena sang ibu menolak untuk bertemu siapa pun.
"Aarrghh, sh*it!" Hae tidak dapat menahan kekesalannya.
Bukan, bukan kesal atau marah pada sang adik, apalagi pada Vlora. Hae hanya marah pada dirinya sendiri yang menaruh rasa pada ibu satu anak itu.
"Jalan, Zack!" perintah Hae pada asistennya. "Tolong pantau terus keadaan mommy dan kabarkan selalu padaku," imbuhnya.
...***...
Dua hari kemudian ....
Keluarga Alexander kini disibukkan dengan persiapan pernikahan Hariss dan Vlora yang tinggal beberapa hari lagi. Di saat yang lain tampak sibuk, Nyonya Glad malah berdiam diri di kamar, tetapi dengan sebuah misi yang tidak diketahui yang lain.
Nyonya besar Alexander itu menutup buku yang ia baca, begitu sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Dengan jantung yang berdebar, ia lalu membuka pesan tersebut. Sebuah pesan gambar yang seketika membuat wanita paruh baya itu banjir air mata.
"Yuki ...."
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...___________________...
...###...
...Halo semuanya 👋 Jangan lupa untuk like dan komen yah ❤️...
Sambil menunggu episode selanjutnya, mampir dulu di karya teman AG, yuukk! 😍
Blurb : Kehamilan merupakan sebuah impian besar bagi semua wanita yang sudah berumah tangga. Begitu pun dengan Arumi. Wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di Jakarta. Ia memiliki impian agar bisa hamil. Namun, apa daya selama 5 tahun pernikahan, Tuhan belum juga memberikan amanah padanya.
Hanya karena belum hamil, Mahesa dan kedua mertua Arumi mendukung sang anak untuk berselingkuh.
Di saat kisruh rumah tangga semakin memanas, Arumi harus menerima perlakuan kasar dari rekan sejawatnya, bernama Rayyan. Akibat sering bertemu, tumbuh cinta di antara mereka.
Akankah Arumi mempertahankan rumah tangganya bersama Mahesa atau malah memilih Rayyan untuk dijadikan pelabuhan terakhir?
Kisah ini menguras emosi tetapi juga mengandung kebucinan yang hakiki. Ikuti terus kisahnya di dalam cerita ini!