Not You

Not You
24. Don't Care Anymore



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Keluar dari rumahku sekarang juga!" tegas Tristan.


Vlora tersentak saat itu juga, karena ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukan apa-apa, bukan sedang mengharapkan apapun dari lelaki itu. Akan tetapi, Vlora mengira ia akan diizinkan beristirahat malam ini saja, lalu bisa pergi besoknya.


Mengingat hujan lebat yang mengguyur kota dengan julukan 'Athena of Britania' tersebut, membuat Vlora tidak yakin dan tidak habis pikir dengan ucapan tegas lelaki di hadapannya.


Setega itu kah? ....


Vlora membatin sambil terus menatap wajah Tristan yang sungguh-sungguh serius dengan ucapannya.


"Jangan membuatku mengulang perkataan!" Peringatan pertama.


Vlora bingung harus bagaimana dan seperti apa, mudah baginya untuk melakukan itu. Akan tetapi, ada Given yang ia pikirkan. Bagaimana harus membawa anak kecil itu di tengah kondisi alam yang tidak bersahabat seperti saat ini?


Ini merupakan musim dingin di kota seribu kastil tersebut. Musim dingin yang berlangsung selama 3,9 bulan lamanya, dengan suhu tertinggi harian rata-rata di bawah 9°C.


Vlora bukan mengkhawatirkan dirinya, tetapi Given yang ia pikirkan.


"Are you deaf? Aku bilang keluar!" teriak Tristan sekali lagi.


"Ta-tapi di-di luar hujan, Tristan. Dan a-aku ...."


"Kau pikir aku peduli?" tanya lelaki itu secepat kilat, menghentikan ucapan Vlora yang terbata-bata.


Ia pun mendekat dan lagi-lagi menangkup pipi tirus Vlora, memperlakukan wanita yang dulunya sangat ia puja dengan tidak berperasaan.


"I don't care anymore, Bit*ch!" ucapnya lagi, dan kali ini Vlora benar-benar merasa terhina. Sangat terhina, bahkan tampak rendah di mata laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


Vlora tersenyum dalam perih, menatap lekat netra lelaki yang sudah lebih dari tiga bulan ini, tidak lagi menyentuh tubuhnya. Lelaki yang beberapa saat lalu, mengatakan kata cerai padanya.


"Fine, aku pergi. Terima kasih untuk julukan indah yang sudah kau berikan mulai dari peliharaan, lalu naik setingkat lagi di atasnya menjadi bit*ch. Aku suka dengan sebutan yang kau kukuhkan ini. Thank you so much!" ucap Vlora dengan senyum penuh luka.


Sedetik kemudian, ia memutuskan tatapannya dan langsung melangkah hendak pergi. Namun baru satu jengkal melewati tubuh tegap sang suami, suara laki-laki itu membuat langkahnya tertahan sejenak.


Tanpa perlu berbalik, Vlora berdiri dengan diam dan mendengarkan apa yang dikatakan laki-laki itu.


"Pastikan tidak ada satu benda pun yang kau ambil dan kau bawa dari rumah ini. Karena anak itu bukanlah anakku, aku tarik lagi ucapan yang tadi. Tidak ada sepeser pun yang akan aku berikan pada kalian. Pergilah dengan apa yang melekat pada tubuhmu saja!" Ucapan yang begitu datar dengan nada yang sangat pelan, tetapi mampu meluluhlantakkan harga diri Vlora.


Wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berusaha untuk tetap tersenyum pada kejamnya kenyataan pahit.


"Tenang saja, aku pun tidak berniat untuk mengemis harta benda yang kau miliki. Perlu kau ingat, bahkan semut saja bisa mencari makan untuk hidup, apalagi aku." Setelah mengucapakan itu, Vlora pun meneruskan langkahnya.


Belum lagi tangannya meraih gagang pintu, suara benda yang terjatuh, terdengar dari luar kamar. Vlora tersentak dan mempercepat geraknya meraih pintu lalu membukanya.


Perasaan wanita itu mendadak lebih kacau dari yang ia rasakan tadi, bahkan rasanya lebih tidak menyenangkan dari luka baru yang masih menganga itu.


Satu nama dan sosok yang sudah bertautan permanen dengan hati dan pikirannya.


Begitu ia berhasil membuka pintu, netra indah itu langsung tertuju pada pintu kamar anaknya. Betapa ia terkejut, kala pintu kamar sang anak terbuka lebar.


Vlora hendak berlari ke sana, tetapi suara benda-benda yang terpelanting dari arah bawah sana, menyita atensi dan langsung menariknya.


Ia pun bergegas berlari menuruni anakan tangga itu satu persatu dengan cepat. Ketakutan dan phobia terhadap gelap dan kesendirian, tidak lagi dipikirkannya.


"Giv!" panggil Vlora kala ia melihat bayangan seorang anak kecil yang melintas melewati perapian di ruang keluarga.


"Given!" pekik Vlora saat pintu utama terbuka dan sosok itu menghilang dari sana.


Ingin segara ia berlari tuk mengejar, tetapi Vlora ragu dan kembali menoleh memastikan sesuatu di lantai atas. Dalam kebingungannya, Vlora dikagetkan dengan sayup-sayup suara teriakan minta tolong dari arah luar, dan ia sangat mengenal suara merdu itu.


"Giv? Given!"


Perempuan itu segera berlari keluar untuk mencari arah sumber suara. Betapa kagetnya ia melihat tubuh kecil anaknya yang terpapar sinar lampu jalanan dan terkena guyuran air hujan, tengah di bawah lari dua orang pria berbadan kekar.


"Hei, tunggu!"


Wanita itu segara menerobos di tengah derasnya hujan dan terpaan angin, tanpa menggunakan baju tebal untuk melindungi tubuh cekingnya.


"Mommy!"


"Giv ...! Hei, kembalikan anakku!"


Teriakan Vlora dan anaknya saling bersahutan di tengah meriahnya pesta alam semesta.


Vlora tertinggal jauh di belakang, sementara dua orang di depan sana, sudah membawa Given masuk dalam sebuah mobil hitam dan melesat meninggalkan Vlora.


"Giv!"


Vlora masih berusaha mengejar meski ia sadari itu sia-sia belaka. Tidak mampu lagi menahan dingin dan lelah, wanita malang itu jatuh tersungkur dan menatap kepergian anaknya yang semakin menjauh dalam tangis.


Tangannya terangkat seolah ingin meraih mobil yang telah membawa pergi anaknya, tatapi semua sia-sia. Vlora menangis menjerit di tengah derasnya hujan malam itu.


"Given ...."


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Biasakan jempol, jadilah pembaca yang aktif!!!!...


...________________...