
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
"Kamu? Hai!" sapa Hariss dengan ramah.
Namun, dapat ia lihat dengan jelas bahwa lelaki di depannya tampak kaget melihatnya di sana.
"Se-selamat malam, Tuan." Ia membalas sapaan Hariss dengan gugup. "A-Anda di sini?" tanyanya seolah ingin terlihat biasa saja, kegugupan itu masihlah natural.
Ada apa dengannya? Hariss membatin penuh tanya melihat sikap tidak biasa lelaki itu.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Ternyata kamu orang-orang kepercayaan kakakku." Hariss tampak ingin memulai berbincang dengan hangat.
Namun, tidak dengan lelaki itu. Semakin Hariss berucap, semakin ia terlihat gugup dan tidak nyaman. Tiba-tiba saja ia bangkit dari duduknya.
"I-ia, Tuan. Maaf saya permisi. A-ada yang harus saya selesaikan," ucapnya masih saja kaku.
Ia pun hendak melangkah pergi, tetapi Hariss dengan cepat menahan pundaknya.
"Sebentar." Laki-laki itu pun menghentikan langkahnya.
Sambil menunduk dia berkata, "Maaf, Tuan. Saya buru-buru."
Begitu katanya dan kali ini tampak lebih tenang. Kembali ia hendak melangkah. Namun, lagi-lagi Hariss menahannya.
"Aku hanya ingin berterima kasih sekali lagi atas bantuanmu waktu itu pada putraku." Beberapa tepukan kecil Hariss berikan di pundak lelaki itu.
Dia yang tadinya berusaha hingga sudah sedikit tenang, kembali menegang dengan ucapan Hariss.
"Ah ... i-iiiya, Tuan. Sama-sama, sa-saya permisi." Setelah berkata dengan kegugupan yang semakin tak terkendali, lelaki itu pun segera berlalu dari hadapan Hariss.
Kening Hariss mengerut melihat tingkah aneh lelaki itu. Tampak sekali ia terlihat ketakutan dengan cara bicara yang gagap dan langkah yang terburu-buru.
Kenapa? Ada apa dengannya? Aneh sekali, aku kan hanya mau berterima kasih atas pertolongannya waktu itu. Kalau bukan karena dia, mungkin Given ....
Sejenak Hariss tampak berpikir, kemudian ia seolah teringat akan sesuatu.
"Waktu itu dia mencoba menutupi identitasnya sebagai pendonor. Apa dia melakukan itu atas perintah kakak?" gumam Hae tampak berpikir keras.
"Berarti ...."
Hariss langsung beranjak dari duduknya dan segera melangkah cepat menuju pintu keluar. Ia menoleh ke sana kemari begitu tiba di luar.
Ia bahkan berlari ke sudut-sudut bangunan klub itu hendak mencari sosok aneh tadi. Namun, tak juga ia jumpai. Hujan deras malam itu pun membuat pergerakan Hariss tak begitu leluasa.
"Sh*it! Cepat sekali dia menghilang," kesal Hariss.
Ia masih berdiri di depan sana dengan pikiran yang bertambah kacau. Namun, tiba-tiba saja cahaya mobil yang menyorot dari arah depan, menarik atensinya.
Dengan cepat ia menghidupkan mobil dan menginjak pedal gas lalu segera melesat dari sana, mengikuti mobil yang juga baru saja keluar itu.
Dapat Hariss liat dengan jelas bahwa mobil itu sengaja melaju dan ingin menghindarinya. Tidak ingin kehilangan jejak, Hariss pun menaikan kecepatan mobilnya hingga di atas rata-rata.
"Kenapa dia ingin sekali menghindar?" Jiwa liar Hariss pun seolah bangkit. Ia pun menjalankan mobilnya dengan gila.
Beberapa detik kemudian, satu sudut bibir Hariss terangkat begitu mobilnya mulai bersisian dengan mobil tadi. Dengan kaca mobil yang agak sedikit turun, Hariss menoleh ke samping dan tersenyum melihat pengemudi mobil di sana.
Begitu Hariss berhasil melewati mobil itu dalam beberapa jarak, dengan cepat dan sekali gerak, ia membanting setir ke kiri dan berhenti tepat di depan mobil itu. Mobil itu pun mengerem mendadak.
Hariss segera turun dan berjalan dalam derasnya guyuran hujan menuju mobil itu. Tanpa susah payah ia mengetuk, pengemudi yang merupakan lelaki aneh tadi di klub, langsung membuka pintu dan Hariss pun masuk lalu duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau begitu ketakutan? Apa ada yang kau sembunyikan?" tanya Hariss to the point.
"Mmm, ti-tidak ada, Tuan. Sa-saya hanya kedinginan," jawabnya membuat Hariss semakin ingin mengorek sesuatu.
"Tadi kau tampak biasa saja sebelum aku menyapamu." Hariss membenarkan duduknya menatap ke depan.
"Mau memberi tahu sesuatu atau ... perlu aku memaksa?" tawar Hariss dengan tenang.
"Mmm, be-beri tahu apa, Tuan? Sa-saya tidak mengerti," ucapnya terbata.
"Apa kakakku yang memberi tahu soal donor darah waktu itu? Kau mendapat informasi itu darinya, bukan?" tanya Hariss penuh intimidasi.
Lelaki itu semakin tercekat dan Hariss bisa menangkap itu.
"Kenapa kau ketakutan? Aturannya, jika pun kau mengetahui itu semua dari kakakku, bahkan melakukan semua itu atas perintahnya, tidak ada masalah sama sekali. Aku dan keluargaku akan sangat berterimakasih untuk itu. Kau tidak perlu menyembunyikan identitasmu waktu itu dan tidak perlu takut seperti saat ini." Hariss berbalik dan menatap tajam lelaki di sampingnya.
"Apa jangan-jangan ... bukan kau pendonor itu?" Hariss mendekat dan langsung meraih kerah bajunya.
"Katakan, siapa orang itu?"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...___________________...
...***...
...Jangan lupa like dan komen yah 📌...
...###...
Sambil menunggu bab selanjutnya, mampir di karya temanku juga yuk!!!!