
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Langit di Newington telah diselimuti gelap, angin yang berembus terasa bagai jarum-jarum halus yang menusuk sebagian tubuh Vlora. Lelah, satu kata yang mewakilkan segenap rasa ibu satu anak itu.
Tak henti-hentinya Ia mengutuk Tuan Muda Alexander yang telah menyiksanya hari itu. Vlora tahu bahwa lelaki itu sengaja membuat dirinya kesusahan untuk tujuan kepuasan diri. Puas mempermainkan emosi dan kesabaran Vlora dengan alasan balas dendam.
Wanita itu kini tengah berada di kamar, berbaring mengistirahatkan tubuh lelahnya sejenak. Sebenarnya, Vlora tidak begitu lelah, hanya saja karena tubuhnya yang belum begitu vit pasca sakit kemarin.
"Mommy!" panggil Given sembari mengetuk pintu kamar ibunya.
Meskipun lelah, mendengar suara itu serasa semangat dan kekuatan berlaksa-laksa menghampirinya kembali. Ia lalu meminta Given masuk dan menemaninya.
"Are you ok, Mom?" tanya bocah enam tahun itu.
"Tentu saja, Sayang!" ucap Vlora dengan senyuman penuh semangat.
"You look so tired, Mom!" Bocah itu mendekat dan duduk di sebelah ibunya. "Memangnya, apa yang Mommy kerjakan?" tanya Giv penasaran.
Vlora bangun lalu duduk bersandar pada headboard, kemudian menatap putranya dengan senyum haru.
"Kerja biasa kayak di rumah kita, Sayang." Menjawab sambil tangannya terangkat hendak mengelus kepala sang putra. Akan tetapi, ditepis pelan oleh bocah itu.
"No, Mom! Jangan katakan lagi rumah kita! Bukan, bukan, dia sudah mengusir Giv dan Mommy!" ucap anak lelaki berwajah tampan itu dengan tegas.
Vlora terbelalak mendengarnya. "Kamu dengar semuanya, Giv!" tanya Vlora dan bocah itu mengangguk.
"Giv marah, Giv benci sama dia, Mom!" ucap anak itu jujur apa adanya.
Vlora menggelengkan kepalanya lalu mendekati sang putra. "Giv tidak boleh berbicara seperti itu yah! Dia daddy kamu. Tidak boleh benci sama daddy. Dosa, Sayang," ucap Vlora dengan lembut.
Bocah itu langsung berdiri dari duduknya dan menjauh dari sang ibu.
"No! Kata Mommy dia bukan daddy-nya Giv 'kan? Giv lebih senang dengarnya. Giv juga tidak ingin punya daddy seperti dia!"
"Given!" bentak Vlora seketika.
Anak lelaki itu terperanjat dengan teriakan ibunya, ia pun langsung berlari keluar kamar. Vlora yang tersadar akan tindakannya barusan, pun segera bangkit dan menyusul sang putra.
"Giv! Sayang, maafkan mommy!" ucap Vlora sembari terus berlari mengejar putranya.
Langkah Vlora yang nampak lelah, tidak cukup mampu untuk mengejar langkah Given yang telah menghilang dengan cepat. Ia berhenti di ruang tengah bangunan megah tersebut. Wanita itu bingung hendak mengikuti jalan yang mana.
Banyak pintu yang terhubung ke beberapa ruangan di sana dan sangat membingungkan bagi Vlora. Tidak tahu arah yang pasti, Vlora memilih keluar melewati pintu utama. Ia pikir mungkin Given berlari ke sana, nyatanya tidak.
"Ah, kebodohan apa yang sudah aku lakukan?" Wanita itu memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Giv, Given!" panggil Vlora sambil terus berjalan menuju pintu gerbang.
Belum juga sampai di depan sana, bunyi deru mesin mobil dan sorotan cahaya menghentikan langkahnya. Vlora tetap diam di tempat hingga mobil tersebut mendekat dan berhenti tepat di depannya.
Vlora mengembuskan nafas kesal meliahat seseorang yang keluar dari mobil.
"Tidak perlu sampai di gerbang juga, Nona! Cukup di depan rumah besar saja," ucap siapa lagi kalau bukan Zack alias Vulgopus.
Vlora refleks berdecak. "Siapa juga yang mau capek-capek menunggu tuanmu sampai di sini?"
Perkataan Vlora membuat seseorang di dalam mobil sana begitu marah. Namun, kalimat selanjutnya dari Vlora seketika meredamkan emosinya kembali.
"Ke mana dia?" Itu bukan suara Zack.
Vlora memutar tubuhnya dan memasang senyum palsu. "Selamat malam, selamat datang, Tuan!" ucap Vlora sedikit menunduk. Lelaki itu keluar dari mobil lalu menghampiri Vlora.
"Ke mana dia?" tanya tuan muda sekali lagi. Tampaknya, ia tidak peduli dengan salam ataupun sambutan Vlora. "Aku tanya di mana dia?" Suaranya meninggi membuat Vlora tersentak.
"A-ku tidak tahu, tiba-tiba saja dia lari dan ...."
Belum selesai Vlora berucap, lelaki bossy itu telah berlari meninggalkannya.
Kenapa? Kenapa terlihat khawatir? ....
...****...
Di sebuah taman yang tidak begitu terang dengan pencahayaan lampu temaram, seorang bocah duduk di sana beralaskan rumput hijau. Wajahnya disembunyikan di antara kedua lututnya.
Dalam hening, sebuah tepukan kecil di pundak, berhasil membuyarkan sedihnya.
"Uncle?"
Ia mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang kini berada di belakangnya.
"Kau bersedih lagi?" Bukannya menjawab, malah balik bertanya. "Laki-laki pantang bersedih, ingat itu! Kembali ke kamarmu dan jangan membuat ibumu khawatir!"
Ternyata, Tuan Muda Alexander itu tahu di mana tujuan Given. Pertama kali dibawah ke rumah itu, Given pun sedih dan memilih taman ini menjadi wadah untuk berkeluh kesah.
Entah kenapa, mendengar ucapan Vlora tadi, membuat lelaki itu khawatir. Namun, rasa itu seketika lenyap saat melihat bocah itu ada di tempat yang sudah ia duga.
Lelaki tampan itu lalu mengajak Given menemui ibunya dan Given pun menurut. Sampai di dalam, Vlora tercengang melihat kedekatan putranya dengan lelaki menyebalkan itu.
Given meminta maaf pada ibunya sekilas, kemudian segera berlalu menuju kamarnya.
"Kau ... maksudnya Anda tahu di mana dia?" Raut serta nadanya selalu penuh curiga.
Tidak peduli dengan pertanyaan wanita di hadapannya, tuan muda itu berlalu ke kamarnya.
"Sesama lelaki tentu tau," ucapnya singkat sambil terus melangkah. "Dan sekarang, pekerjaanmu berlanjut. Siapkan baju tidurku, dua menit dari sekarang!" titahnya.
Mati saja kau tuan muda kepa*rat?
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...Jangan lupa like dan komen 📌...
...__________________________...
...Oh yah, gaesssss ... mampir juga di novel terbaruku yah. Baru 2 bab kok 😅 bantu ramaikan dan dukung yah 🙏❤️...
Kemarin judul dan covernya sih ini, tapi ... AG ganti lagi jadi yang ini 👇
Jadi, kalo cari 1 nya gak ditemukan, cari lagi pake satunya 😅 Terima kasih sebelumnya 🙏🙏