
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
Pada waktu yang sama tetapi di tempat yang berbeda, sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap, tengah melaju menuju bandara. Dia yang duduk tenang di dalam sana, telah memastikan waktu seharusnya agar tidak berpapasan dengan kedatangan sang adik.
"Kenapa harus balik sekarang, Darling? Bukankah kau baru saja datang beberapa hari?" Seorang wanita di sampingnya berbicara dengan nada manja.
Pria yang sedari tadi terdiam di sana, memicingkan matanya tiba-tiba.
"Kau mengintai kehidupanku?" Menatap wanita di sampingnya dengan datar? "Jangan mengusikku lagi, Caroline! Aku bahkan belum memaafkan kesalahanmu," imbuhnya begitu dingin.
Ia pun mengalihkan pandangannya, kembali menatap lurus ke depan, mengacuhkan wanita di samping yang sibuk mendekatinya.
"Sampai kapan, Hae? Aku sungguh menyesal dengan semua kebodohanku. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar mendapat maafmu?" Caroline hendak meraih tangan Hae, tetapi langsung ditepis.
"Bersikaplah dengan benar dan berusahalah untuk mendapatkan maaf dari mommy dan keluargaku. Mungkin dengan begitu aku akan me ...."
"Sh*it! Kau gila?" pekik Hae dengan kesal.
Ucapannya tiba-tiba saja terhenti saat mobil mengerem secara mendadak. Sementara itu, wanita di sampingnya sedikit shock dan meringis karena terbentur jok bagian depan.
Sang sopir yang merupakan asisten Hae, juga masih terdiam dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia sendiri pun tampak shock.
"Ada apa denganmu, Bodoh?" tanya Hae marah.
Belum juga asistennya menjawab, suara-suara berisik klakson mobil yang mendadak macet di belakang, menyadarkan sang asisten dari lamunannya.
Segera dengan gerakan kaku dan gemetaran, ia menjalankan kembali mobilnya dan mencari tempat aman untuk menepi.
"Kenapa malah berhenti? Sebentar lagi kita sudah harus berangkat, Bodoh!" ucap Hae begitu geram dengan asistennya.
"Apa lagi yang kau tunggu? Ayo, jalan!" perintah Hae dengan tak sabar.
"Maaf, Tuan! Tapi sepertinya kita tidak bisa meneruskan perjalanan hari ini," ucap Zack sembari mencengkeram setir mobil kuat.
Kening Hae mengerut. "Why?" tanyanya.
"A-anak itu, Tuan." Zack gugup.
Hae mengembuskan nafasnya kasar. "Sudah berapa kali aku katakan? Kau masih saja melawanku?" Suara Hae meninggi, membuat wanita di sampingnya sampai terperanjat.
"Bu-bukan begitu, Tuan ...."
"Kau jangan membuatku marah, Zack! Jalankan mobilnya sekarang juga!" teriak Hae penuh amarah.
Kenapa dia begitu sangat marah?
Wanita di sampingnya membatin. Ia bingung melihat Hae yang tampak begitu marah. Sementara itu, untuk pertama kalinya, Zack membantah atasannya. Lelaki itu memantapkan keberaniannya lalu menoleh ke arah Hae.
"Anak itu mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di tangani di rumah sakit, Tuan!" beber Zack seketika membuat Hae tersentak tak percaya.
"Apa yang kau katakan, Breng*sek? Kau menyumpahinya?" Lagi-lagi Hae berteriak marah sambil menendang kursi pengemudi di depannya.
Sejujurnya, ada kekhawatiran yang mulai menyergap lelaki berwajah tampan itu.
"Tidak, Tuan! Saya barusan mendapat pesan dari Tuan Muda Hariss," ucap Zack dengan tegas.
Detik berikutnya, Hae langsung membuka pintu mobil dan berlari keluar dari dalam sana. Zack tak tinggal diam. Ia pun segera menyusul tuannya.
Keduanya dengan brutal menghentikan dan memaksa seorang driver gojek yang kebetulan melintas di sana. Meminjamkan motornya dengan bayaran yang tidak sedikit.
Meskipun bingung, driver gojek itu lalu menyarahkan kunci motor pada keduanya. Meraka pun melesat dengan segera menuju rumah sakit yang diberitahukan Hariss.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Hae mengutuk kedua pengawal yang ia percayakan untuk menjaga anak itu.
"Lebih cepat lagi, Zack Breng*sek!" teriak Hae yang mendadak frustasi. Tak urung beberapa kali pukulan mendarat di punggung Zack.
Sementara itu, Caroline yang ditinggalkan begitu saja tampak murka.
"Sia*lan! Arrrgghh!" Ia menjambak rambutnya sendiri saking emosi.
...***...
Di rumah sakit, Vlora baru saja terbangun dari pingsannya dan ia begitu shock mendengar penuturan dokter yang disampaikan oleh Hariss.
Dia dalam bahaya karena kehilangan banyak darah dan harus segera dilakukan transfusi darah.
Vlora menangis dan berteriak histeris ingin melihat kondisi anaknya. Hariss yang sigap di sampingnya, mendepak dan menenangkan wanita yang ia cintai itu.
"Aku di sini, Ra. Dia putraku dan aku orang pertama yang akan memberikan darahku sebanyak mungkin yang dia butuhkan," ucap Hariss sembari mengelus punggung Vlora yang berguncang hebat.
Pemandangan di depan ruang IGD saat itu, rupanya menorehkan luka di hati seseorang dari kejauhan.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...***...
...Jangan lupa like dan komen 📌...
...___________________...
...✨...
...✨...
...✨...
Sambil menunggu past selanjutnya, mampir di sini dulu yuk