
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Jihan begitu tidak percaya melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya, bahkan menyapanya dengan sapaan yang sangat familiar.
Seorang lelaki tampan yang setahunya, dulu memilih meneruskan pendidikan di Harvard University, kenapa sekarang bisa berdiri di hadapannya?
Dari negeri seribu pulau, mampir di negeri Paman Sam, hingga kini memijaki negeri seribu kastil. Amazing! Sebuah perjalan yang luar biasa.
"Hariss?" tanya Jihan memastikan.
Lelaki itu tersenyum dengan senyuman yang khas dan tidak salah lagi di mata Jihan.
"What the ... ngapain kamu di sini? Mi-mimpi apa aku ketemu mantan ... ops, sorry!" Jihan yang begitu excited, hampir saja keceplosan. Ia pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Lagi-lagi, lelaki berwajah tampan itu tersenyum simpul, sedangkan Jihan kembali celingukan mencari-cari objek lain di sekitar sana, tetapi bukan Given yang ia maksud.
"Ada apa?" tanya lelaki bernama Hariss. Ia bingung melihat Jihan yang seolah mencari-cari sesuatu.
"Ah, kamu sendirian?" Bukannya menjawab, malah bertanya. Wanita itu hanya ingin memastikan sesuatu.
"Yeah, as you can see," ucap Hariss seraya mengedikan bahunya.
"Are you married?" tanya Jihan lagi dengan raut penasaran.
"Not yet!" jawab Hariss disertai gelengan.
"Rebecca?" Jihan sedikit mengeringkan kepalanya dengan mata yang memicing.
"Masih percaya juga kalo aku sama dia? Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu. Dari dulu sampai sekarang masih betah sendiri," tutur Hariss.
Jadi, wanita itu mengada-ada, manas-manasin Vlora? Sungguh kasihan. Tapi .....
Jihan tertawa miris dalam hati.
"Why? Lalu ... anak itu?" Ia heran dan tidak habis pikir, kenapa lelaki yang terbilang sempurna itu belum juga memiliki pasangan, sementara ada yang mengaku memiliki anak dengannya.
Hariss terkekeh kemudian menunduk. "Sampai detik ini belum nemu yang seperti dia. She still the one that i want," ucap Hariss dengan sungguh. "Dan mengenai anak itu, percayalah, Rebecca hanya memanipulasi. Aku tahu semuanya," tutur Hariss.
Bola mata Jihan membulat sempurna dengan mulut yang terbuka, tetapi ditutup oleh kedua tangannya.
"Serius, Ris? Ka-kamu ...." Saking tidak percaya, Jihan tidak mampu meneruskan perkataannya lagi. "Udah hampir tujuh tahun loh ini, Ris. Dan kamu ... kamu gamon? A-ku tidak percaya ini," imbuhnya heran.
Ada perasaan senang yang tiba-tiba saja membuncah di hati wanita cantik itu. Otaknya mendadak memikirkan hal-hal yang diluar batas. Diam-diam, wanita penuh obsesi itu tertawa bahagia dalam hati.
Maafkan aku, beb. Tapi ini yang aku harapkan! Aku harus melakukan hal yang mungkin tidak kamu sukai.
"Dia apa kabar?" Pertanyaan itu membuat kedua sudut bibir Jihan terangkat.
"Kau merindukannya?" tanya Jihan dengan senyum semakin mengembang.
Hariss terkekeh. "Selalu dan aku tidak bisa menyangkalinya," jawab lelaki itu apa adanya.
Jihan ikut tertawa. "Kau tidak menanyakan statusnya?"
"Itu pun tidak berpengaruh mengurangi rasaku padanya. Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi. Apa boleh?" Raut serta nada lelaki itu terdengar bercanda, tetapi jauh di dalam hati, ia sangat berharap.
"As you wish," jawab Jihan dengan senang hati. "Tapi ... ada syaratnya," imbuh wanita itu lagi.
"Katakan ...."
...*****...
Keduanya membunuh waktu dengan mengobrol banyak hingga dua puluh menit berlalu, akhirnya tiba juga di basemen apartemen. Meraka menuju lift yang mengantarkan keduanya sampai di unit apartemen milik Jihan.
Wanita cantik itu menekan beberapa angka yang melekat pada pintu, lalu masuk terlebih dahulu dan disusul Hariss.
"Ra, Vlora!" panggil Jihan tetapi tidak ada sahutan. Ia pun masuk ke kamar dan memeriksa keberadaan sahabatnya.
Jihan menempelkan telinganya pada pintu kamar mandi. Ia bernafas lega begitu mendengar gemericik air dari dalam sana.
Syukurlah, kukira udah kabur ....
Jihan keluar dan menemui tamu yang dibawanya bertandang pada waktu yang tidak seharusnya.
"Pasti sudah tidur yah?" tanya Hariss saat Jihan kembali dengan secangkir minuman.
"Dia lagi ...."
"Ji, Jihan!" Panggilan itu membuat Jihan menggantung kalimatnya.
Ia hendak berbalik melihat ke arah kamar, ternyata sosok wanita cantik dengan tubuh kurus berbalut baju hangat, sudah berdiri di belakangnya.
"Udah pul ...." Vlora terpaku. Seluruh tubuhnya mendadak membeku melihat adanya orang lain yang ikut pulang bersama Jihan.
Jantung Vlora berdegup kencang dan tiba-tiba saja kakinya lemas. Tubuh kurus itu hampir saja ambruk, tetapi secepat kilat Hariss meraihnya.
"Don't touch me!" seru Vlora yang menghempas tangan Haris yang masih memegangnya.
Saat ia hendak berlalu dari sana, lagi-lagi lelaki itu mencegah langkahnya.
"We need to talk," kata Hariss.
"Lepaskan! Tidak ada yang perlu dibicarakan." Vlora meronta, tetapi Hariss tak kunjung mau melepaskannya.
Vlora menatap Jihan dengan tajam. Tampak kemarahan dan kekecewaan tersirat di manik indahnya.
"Ra, dengerin dulu. Aku punya alasan bawa Hariss ke sini." Jihan mencoba memberi pengertian.
"Cukup, Jihan! Aku kecewa sama kamu." Vlora kembali meronta hingga Haris melepaskan tangannya.
"Aku yang salah, Ra. Aku minta maaf karena kedatangan aku membuat kalian jadi bertengkar. Kalau begitu aku pamit, selamat beristirahat!"
Langkah Hariss baru saja berpindah, suara Jihan dengan lantang menahannya.
"Aku belum mengizinkan kamu pergi, Ris. Aku butuh bantuan kamu buat dapatkan Given."
Perkataan itu membuat Vlora terperanjat dan semakin marah.
"Tidak! Aku tidak mengizinkannya. Jangan coba-coba kau mencampuri urusanku!" pekik Jihan dengan tegas dan penuh emosi.
"Dia akan ikut campur karena dia yang sudah berhasil menemui penculik itu." Lagi-lagi Vlora terperanjat. Ia memandangi Jihan dengan tidak percaya.
"Dan asal kamu tahu, tadi ada Given di sana, di tempat acara itu, tetapi dia dikelilingi pengawal yang tidak sedikit. Kau tidak akan percaya jika ...."
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Jejaknya yah gaes,...
...Jangan lupa 😍...
..._______________________...