Not You

Not You
34. Different Effect



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...***...


Tuan muda Alexander itu menyeringai, kemudian ia menatap jam di pergelangan tangannya.


"Sepuluh menit lagi saya akan keluar. Tugas pertamamu, siapkan air serta perlengkapan mandi, setelah itu siapkan pakaian. And next, berhubung saya selalu makan sebelum berpergian, siapkan makan sesuai selera makan saya. Informasi seputar selera saya, tanyakan pada Zack atau chef. Terakhir, kerjakan semua itu dalam waktu lima menit, dimulai dari sekarang!" ucap lelaki bossy itu dengan tegas.


Selesai berkata, ia pun segera melangkah meninggalkan Vlora dalam keterkejutan yang luar biasa.


"What the fu*ck! Oh, opss ... sorry!" Vlora tersadar, langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Satu tangan lagi terangkat, dengan jari telunjuk dan jari tengah yang teracung.


Mampus, pelanggaran lagi, hiks ....


Vlora menyengir di hadapan asisten Tuan Muda Alexander, memperlihatkan deretan giginya yang putih. Tidak ingin ditindas, wanita ceking itu berlari kecil mengikuti lelaki yang kini menjadi tuannya, di susul sang asisten dari belakang.


"Tunggu, Tuan!" pekik Vlora saat sudah dekat dengan punggung tuannya.


"Auh." Sekali lagi Vlora meringis sembari mengusap keningnya.


Lelaki di depannya sengaja berhenti mendadak, membuat Vlora terlambat menghentikan langkahnya dan terjadilah tabrakan kecil.


"Kau keberatan?" tanya Tuan Muda Alexander. Lelaki tampan itu kini telah berbalik dan berhadapan dengan Vlora.


"Bu-bukan begitu, Tuan. Tapi bagaimana mungkin saya melakukan semuanya dalam waktu sesingkat itu? Pekerjaan sebanyak itu dan ...."


"Kalau begitu saya tambahkan lagi pekerjaannya," ucap lelaki tampan itu dengan santai. Vlora mendadak diam dengan mulut yang terkatup, serta wajah yang tertunduk.


Satu sudut bibir tuan muda terangkat, sesudah itu ia berbalik dan kembali melangkah pergi. Namun, lagi-lagi Vlora mengejarnya.


"Eh, Tu ...." Untuk ketiga kalinya, Vlora mengusap kening karena terbentur punggung lelaki itu.


Entah lelaki itu yang sengaja, atau Vlora yang ceroboh. Namun, yang pasti, hal itu sangatlah tidak menguntungkan bagi Vlora.


"Kenapa kau senang sekali membantah? Kau tahu siapa saya?" tanya tuan muda, dan Vlora mengangguk.


"Kau tahu apa yang paling tidak saya sukai?" tanyanya lagi dan Vlora menggelengkan dengan polos.


Lelaki itu berbalik, kemudian tangannya terangkat dan langsung mendarat di kening Vlora.


"Auh ...." Vlora meringis untuk kesekian kali setelah sentilan cukup keras ia dapatkan.


"Tandanya kau belum baca semua isi perjanjian yang kau tandatangani tadi. Jangan bersuara lagi! Dan ingat, waktumu tersisa 3 menit. Saya harus mandi sekarang!"


Kedua mata Vlora membola dengan mulut yang menganga.


"Sh*it!"


Detik itu juga ia berlari menuju kamar pemilik rumah tersebut. Dua orang pria dingin yang berdiri dan menyaksikan tingkahnya, dibuat tergelak.


"Wanita bodoh," ucap Tuan Muda Alexander di sela-sela tawanya.


Tanggal berapa sekarang yah? Apa aku perlu mencatat ini sebagai sejarah baru?


Zack, asisten pribadi Tuan Muda Alexander itu membatin. Lelaki itu cukup tercengang, sebab kehadiran Vlora dan Given yang belum juga genap sehari, telah membawa efek berbeda bagi tuannya.


Lelaki introvert itu terhitung telah banyak sekali berbicara sejak kehadiran Vlora pagi tadi. Hal yang paling berkesan bagi lelaki yang mendapat julukan Vulgopus dari Vlora itu adalah tawa tuannya.


Sudah sangat lama hal itu tidak pernah ia lihat di wajah tuannya. Namun, hari ini karena kekonyolan seorang wanita asing, hal luar luar biasa itu kembali terlihat.


"Zack," panggil tuannya.


"Iya, Tuan!"


"Hitung mundur dari 3, dia akan kembali lagi dan bertanya."


3, 2, 1 ....


"Kau berani mengancamku?" tanya Tuan muda dengan sebelah kening yang terangkat. "Zack!" panggilnya.


"Baik, Tuan!" jawab asistennya sigap.


"Ah, maafkan aku, Tuan!" Vlora menyambar dengan cepat. Ia tahu bahwa satu pelanggaran lagi akan bertambah.


Si cantik bertubuh kurus itu menoleh ke arah asisten Zack dengan tatapan memelas.


Jangan kau turuti terus perintah tuanmu, Vulgopus! Sesekali menolak 'kan tidak dosa juga, hiks.


Begitulah arti tatapan Vlora lewat suara hatinya. Saat Zack melangkah pergi, kakinya pun otomatis mengikuti. Sampai di kamar tuan muda, Vlora bergegas ke kamar mandi dan melakukan tugas pertamanya.


"Hah, cuman buatkan air untuk mandi dan memilih baju sendiri saja tidak bisa? Aku rasa Grayman itu perlu menukar posisinya dengan lambang kota ini. Tidak berguna," omel Vlora.


Dikiranya tidak ada yang mendengar. Saat ia hendak keluar kamar mandi, betapa kagetnya ia mendapati tuan muda yang tengah bersandar di depan pintu.


Wanita itu bergerak mundur dua langkah dengan tangan yang refleks mengelus dadanya.


"Ah, eh ... airnya sudah siap, Tuan." Vlora menunduk menyembunyikan wajah kesalnya. Namun, bukan saja kesal, ada jua secuil rasa aneh yang coba disembunyikannya.


"Apa tadi yang kau katakan tentang saya?" tanya Tuan Muda Alexander, dan itu membuat Vlora mati kutu.


"Tidak mengatakan apa-apa, Tuan! Mungkin Anda salah dengar," elak Vlora.


"Jadi maksudmu, pendengaran saya terganggu begitu?" tanya lelaki itu lagi.


"Bu-bukan, Tuan. Bukan begitu konsepnya, maksudku ...."


Ucapan Vlora menggantung dengan mata yang terpejam. Aroma parfum yang menguar di sekitarnya, membuat jantung Vlora berdegup kencang sekali saja. Hanya sekali.


"Kau mau tetap di sini menemaniku mandi? Tidak masalah!" Suara berat itu langsung menyadarkan Vlora.


Ia pun membuka mata dan langsung melarikan diri menuju walk in closet yang sudah ditunjukkan oleh Zack tadi. Sampai di dalam ruangan mewah itu, Vlora menyandarkan tubuhnya di balik pintu ruangan tersebut.


Ia mengatur napasnya supaya kembali teratur, serta membenahi lagi jantung yang sempat berdegup tak karuan.


Apa ini? Kenapa wangi itu tidak asing? Arrrgghh, jangan melamun lagi Vlora! Kerjakan tugasmu dengan benar supaya bisa cepat keluar dari sini. Lama-lama kau bisa gi*la ....


Sementara itu, dalam kamar mandi, tuan muda pemilik rumah tengah terbahak karena tingkah Vlora yang dianggapnya selalu konyol.


Beberapa menit berlalu, ia pun keluar dari kamar mandi dan menuju area walk in closet. Di sana Vlora tidak lagi terlihat. Lelaki introvert itu tersenyum kecil melihat busana yang dipilih oleh Vlora.


"Not bad," gumamnya lalu segara berganti pakaian.


Di samping itu, Vlora kini sudah berada di area dalur. Meskipun waktu yang diberikan tuan muda dengan julukan Grayman olehnya telah berakhir, Vlora tetap berusaha melakukan semuanya.


Wanita itu terus berjibaku dengan alat masak. Di sampingnya, berdiri seorang chef yang menginstruksi semua pekerjaannya saat itu.


"Ekhm." Suara itu seketika menghentikan Vlora dari kegiatan memasaknya.


"Waktunya sudah selesai!"


Sh*it ....


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Halo semuanya 👋 maaf kemarin gak sempat up. Hari ini AG bakal usahain up lagi siang yah 😍...


...Jangan lupa LIKE & KOMEN 📌📌...