Not You

Not You
48. Do it Something



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Senja kini mewarnai langit di kota Jakarta. Para pekerja kini mempersiapkan diri untuk segera kembali ke rumah masing-masing.


Sama halnya dengan Vlora. Ia pun tengah bersiap untuk pulang dan bertemu putranya. Wanita cantik itu baru saja kembali dari ruang ganti khusus untuk karyawan hotel. Ia menggantikan seragam kerjanya dengan pakaian yang ia kenakan dari rumah.


Vlora segera berpamitan pada yang lain dan ia pun berlalu dari sana. Saat tiba di lobi, matanya tidak sengaja menangkap sesosok wanita cantik yang tengah duduk pada sofa yang tersedia di lobi.


"Clay?" Vlora mengucapkan satu nama dengan nada hampir berbisik.


Ia mengenal wanita itu. Cepat-cepat Vlora mencari masker dan memakainya untuk menutupi sebagian wajahnya.


Sedang apa dia di sini?


Batinnya bertanya-tanya sambil memicingkan mata. Baru saja kaki Vlora bergerak ingin kembali melangkah membiarkan sosok itu di sana, tetapi penampakan selanjutnya membuat si cantik itu begitu shock.


"Tristan?"


Vlora terperanjat mendapati mantan suaminya juga ada di sana, baru saja memasuki lobi. Hilangnya Vlora sebulan lalu, ia sudah mendengar kabar tentang putusan hakim atas perceraiannya dengan Tristan.


Ketidakhadirannya selama dua kali persidangan, semakin memperlancar gugatan Tristan waktu itu. Ia telah resmi bercerai dengan lelaki yang kini ada di depan matanya.


Vlora semakin kaget dan tak percaya saat melihat mantan suaminya itu berjalan dan menghampiri wanita yang sedang duduk di sana.


Ia terbelalak melihat adegan romantis keduanya yang tengah berpelukan mesra dan berjalan menuju lift. Jantung Vlora bergemuruh hebat, dengan kedua tangan yang mengepal kuat.


"Jadi ini yang dimaksud Giv waktu itu? Kapan mereka chek in di sini?" gumamnya dengan geram.


Ia mengingat perkataan putranya dulu. Kini Vlora baru mengerti, ternyata mantan suaminya itu sudah berhubungan lama dengan wanita yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.


Ia pun memahami kini, mungkin alasan inilah yang membuat sang ibu tidak menyukai kehadirannya dan Given. Sekali lagi Vlora kecewa. Ia merasa bodoh karena terlambat menyadari hal itu sejak dulu.


Ingin rasanya ia bertanya pada resepsionis tentang nomor kamar kedua makhluk tadi, tetapi ia sadar itu tidak mungkin karena aturan dari perusahaan. Vlora pun akhirnya bergegas keluar dengan pikiran yang berkecamuk.


Sebelumnya ia sudah memesan taksi, lalu taksi pun membawanya tiba di kediaman Atmaja. Vlora turun setelah membayar dan segera masuk ke dalam rumah besar milik orang tua sahabat baiknya.


"Selamat sore!" sapa Vlora begitu ia masuk.


"Sore, Ra. Udah pulang?" ibu dari Jihan menyambutnya.


"Iya, Tan. Giv sama Jihan mana, Tan?" tanya Vlora kemudian.


"Mommy!" Berlari kecil menghampiri ibunya.


"Sayang!" Vlora hendak memeluk si kecil itu, tetapi ia dengan cepat menghentikan gerak ibunya.


"Tidak bisakah Giv memberikan mommy sedikit pelukan? Mom sangat lelah sekali hari ini," ucap Vlora dengan wajah dibuat sedih dan lelah.


Setiap berbicara dengan putranya, Vlora akan menggunakan bahasa Inggris bercampur dengan bahasa Gaelik Skotlandia, karena si ganteng berwajah bule itu belum terlalu memahami biasa ibunya.


"Baiklah!"


Given langsung memeluk ibunya, tidak lupa ciuman kecil di pipi wanita yang telah melahirkannya itu.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Vlora sangat bahagia.


"Apakah sudah lebih baik, Mom?" tanya Given yang melihat senyum manis di wajah sang ibu.


"Tentu saja, Sayang! Mom sudah jauh lebih baik."


Jihan dan ibunya yang menyaksikan itu, ikut bahagia. Vlora kemudian meminta anaknya untuk bermain sebentar sebelum mereka kembali ke kontrakan.


Setiap hari ia selalu menitipkan anaknya pada Jihan. Wanita lajang itu dan orang tuanya tidak keberatan sama sekali. Kesepian karena putri semata wayangnya belum juga menikah, membuat dua orangtua itu senang dengan kehadiran bocah berwajah blasteran itu.


Jihan dan Vlora beranjak ke kamarnya. Sampai di sana, Vlora langsung menghempaskan tubuh lelahnya di tempat tidur sang sahabat.


"Apa terjadi sesuatu lagi?" tebak Jihan.


Vlora mengangguk lalu menceritakan semua hal yang ia jumpai di lobi hotel tadi. Sama seperti Vlora, Jihan pun kaget dan tidak percaya.


"Otaknya mereka di mana sih? Di Edinburgh dan Jakarta kekurangan jiwa emang? Sampai gak ada lagi manusia untuk diselingkuhi selain ipar sendiri?" Murka Jihan tak habis pikir.


Vlora tampak lelah menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Ia hanya diam tanpa ingin berkomentar apapun.


Melihat itu, Jihan semakin marah dan mengajaknya untuk melakukan sesuatu.


"Gak bisa! Lo gak bisa diam kayak gini. Do it something, Ra. Seenggaknya lo harus membalas perbuatan mereka. Ingat, lo gak sendirian, ada gue!"


"Aku bisa apa memangnya?"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...____________________...