Not You

Not You
31. This is Called Torture



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


"Ka-kamu?"


Vlora begitu kaget dengan siapa yang kini berdiri di hadapannya. Sesaat kemudian, ia teringat satu hal yang pernah diceritakan Jihan padanya sebulan lalu.


"Eh, ma-maaf! Maksudnya Anda." Vlora meralat panggilannya. "Ja-jadi Anda yang menculik anak saya?" lanjutnya.


Tidak ada jawaban dari pria tampan di hadapannya, membuat Vlora berpikir bahwa ia benar-benar bisu.


Sh*it! Kenapa juga harus berurusan dengan tunawicara?


Lelaki itu melangkah dengan santai, lalu duduk di kursi kebesaran yang ada di dalam ruangan tersebut.


Bersamaan dengan itu pula, seorang lelaki lainnya masuk dan berdiri tepat di belakang pria tampan yang tengah duduk malas di sana.


"Silahkan duduk, Nona Vlora!" ucap lelaki yang baru saja masuk.


Vlora semakin terperanjat mengenali lelaki itu. "Kamu juga? Kamu yang kemarin malam bertemu di kafe kan?" tanya Vlora.


Lelaki itu tersenyum samar dan mengangguk kecil, kemudian sekali lagi ia mempersilakan Vlora untuk duduk. Begitu Vlora dengan ragu sudah duduk, lelaki itu lalu menyodorkan sebuah map kepadanya.


"Anda boleh membacanya terlebih dahulu, Nona. Setelah itu, silahkan ditandatangani!" ucap lelaki itu lagi.


Brakkk!


Vlora marah dan menggebrak meja di depannya. "Siapa dirimu, Breng*sek? Aku datang ingin menjemput anakku, bukan untuk membaca!" pekik Vlora dengan emosi.


Dua lelaki di sana spontan menatap Vlora dengan tajam, tetapi Vlora tidak peduli. Ia merasa dipermainkan oleh lelaki di hadapannya.


"Siapa saya tidak penting, Nona. Silahkan saja Anda baca isi map itu dan tandatangani jika ingin menemui anak Anda!"


"Kau sedang mempermainkanku? Kenapa? Kenapa kau tidak mengatakan saja keberadaan putraku malam itu? Kau bersikap seolah tidak tau apa-apa. Kenapa, Breng*sek?" Lagi-lagi Vlora berbicara dengan keras tanpa peduli di mana dia sekarang.


"Saya tidak perlu menjelaskan apapun pada Anda. Dan tolong jaga sikap Anda, Nona. Jangan membuatku melupakan kodrat Anda sebagai seorang perempuan!" Ucapan yang berupa ancaman.


Vlora sedikit menciut dibuatnya. Wajah lelaki itu berubah sangar dan tampak berbeda dari yang saat di kafe malam itu. Sementara itu, lelaki yang masih duduk dengan santai di sana, tersenyum samar.


"Pergilah, Zack!" Suara lelaki baru terdengar, dan sungguh Vlora kaget akan hal itu.


What the hell! Kukira bisu, ternyata bossy.


Lelaki yang dipanggil Zack pun berjalan keluar, tinggallah Vlora sendirian dengan lelaki di hadapannya.


"Apa mau Anda, Tuan?" tanya Vlora to the point.


Ia tidak ingin lagi membuang-buang waktu. Meskipun sudah tahu siapa kini yang berbicara dengannya, Vlora tidak peduli. Ia hanya ingin bertemu Given secepatnya.


Tanpa jawaban, lelaki itu menunjukkan map berwarna biru yang tergeletak di depan Vlora. Vlora mendengus kesal lalu meraih map itu dan membukanya.


Brakkk!


"Apa-apaan ini?" Vlora menggebrak meja sekali lagi dan langsung berdiri. "Kau ... ma-maksudnya Anda." Meralat lagi.


"Apa orang kaya seperti Anda kekurangan pelayan? Lagian, sepertinya semua tugas itu lebih dari pekerjaan pelayan. Kenapa Anda tidak mencarikan seorang istri saja? Maaf, Tuan Alexander yang terhormat. Sepertinya Anda salah alamat!" cerocos Vlora tanpa takut.


Mode bawel wanita cantik itu sedang on. Entah kenapa, sejak awal bertemu lelaki satu itu, Vlora selalu menjadi dirinya yang dulu. Vlora yang tidak takut dan selalu cerewet, Vlora yang tidak pernah minder dan kaku jika bertemu orang baru.


Ini pertemuan yang kedua kalinya dan Vlora seolah menjadi dirinya pada tujuh tahun silam.


"Dan satu lagi, kenapa waktunya harus enam bulan? Apa itu tidak terlalu singkat? Diperpanjang lagi jadi setahun biar Anda puas." Lagi katanya dan sedikit menunduk menatap lelaki itu. "This is called torture and exploitation. Aku bisa saja melaporkan Anda, Tuan!" ancam Vlora.


Tiba-tiba saja suasana ruangan itu berubah horor dengan gelak tawa lelaki minim bicara di hadapannya. Vlora takut dan melangkah mundur.


"Do it if you can, Miss. Vlora Yukika!" ucap lelaki itu santai.


Jantung Vlora berdebar kala nama panjangnya terlafas dari bibir lelaki itu, serta tatapan tajam darinya, sukses membuat Vlora mati kutu.


Lelaki itu kemudian menekan salah satu tombol dari beberapa yang terpatri di sudut meja di hadapannya. Sedetik kemudian, pemandangan di balik kaca transparan itu membuat Vlora ingin sekali berlari menembus kaca-kaca tersebut.


"Giv," gumam Vlora dengan raut penuh rindu.


Lelaki di hadapannya terkekeh. "Kau ingin menemuinya, bukan? Tandatangani itu sekarang juga dan kau bisa menemuinya. Kalau tidak ...." Tuan muda Alexander itu sengaja menjeda ucapannya dengan sebuah seringai.


Tidak ingin berlama-lama dan tidak mau memikirkan apapun lagi, Vlora meraih lembaran kertas itu lalu menandatanganinya. Ia kemudian menyodorkan ke hadapan lelaki itu.


"Kembalikan anakku!" ucap Vlora dengan tegas.


"Silahkan! Tetapi kalian tidak akan keluar dari tempat ini lagi mulai detik ini!" ucap lelaki dengan tegas.


Ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Vlora dalam kemarahan yang tertahan.


"Baji*ngan, iblis, monster .... arrrgghh! Kukutuk kau jadi Big Gray Man, pergilah kau ke Ben Macdui." Vlora begitu geram hingga mengumpat dan mengutuk lelaki yang telah menghilang dari pandangannya.


Meskipun kesal, Vlora lekas berlari keluar dan menemui putranya.


Apapun ... apapun akan mommy lalukan untukmu, sayang. Apapun, asalkan kita tetap bersama.


"Giv!"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Like & komen jangan lupa 📌...


...___________________________...


(Big Gray Man adalah sosok monster berbadan abu-abu, yang menyesatkan para pendaki sebelum ia menyantap mereka. Big Gray Man terkenal di kalangan pendaki gunung. Ia menjadikan puncak tertinggi di Inggris, Ben Macdui, sebagai rumahnya)