
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Suara Jihan melengking, memenuhi setiap sudut ruangan, bahkan menembus langit-langit bangunan megah nan kokoh bergaya Victoria itu. Beberapa orang yang berada di sana, terperanjat kaget dibuatnya.
Tidak terkecuali, Given. Bocah lelaki itu mendadak menghentikan acara makan, lalu menatap sahabat ibunya dengan tajam. Berbeda dengan mereka yang lain, hanya menyorot datar.
Sesaat, hening mendominasi seisi ruangan, bersama dengan pandangan semua orang yang hanya tertuju pada Jihan. Semuanya diam membisu, meski mulut mereka tidak terkatup.
"Why?"
Sebuah suara ayu menggema lirih di keheningan, terdengar begitu lembut, tetapi mampu membuyarkan setiap tegun dari mereka.
"Kenapa tidak boleh dimakan?" Sekali lagi suara lembut itu terdengar.
Jihan bagai terhipnotis suara serta wajah cantik bak bidadari di hadapannya.
Ah, jadi dia peri itu? Cantik sekali epribadeh ... dia kan, yang turun dari mobil tadi. Kemana tongkat sihirnya? Apa tidak berfungsi sampai ke sini dengan naik mobil? Harusnya kan tinggal menghilang saja, parah ....
"Nona Jihan!" panggil wanita cantik di sampingnya.
Jihan tersentak. "Eh? i-iya, Nyonya!"
"Putri saya sedang bertanya," ucapnya seraya menunjuk gadis cantik tadi.
Jihan mendadak bingung, tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.
Gimana jawabnya yah?
"E-e ... itu ... ya ... tidak boleh saja! Di-dia ... dia alergi. Iya alergi, alergi dengan makanan yang mewah-mewah," jawab Jihan terbata.
"Kata siapa, Onty? Makanan ini yang sering Giv makan sama mommy dan daddy, sama Onty juga." Given menampik ucapan Jihan.
Wanita cantik dengan tinggi semampai itu terbelalak tak percaya. Bermaksud ingin menolong sang bocah, malah dipatahkan sendiri dengan ucapan mahluk kecil di bawah umur itu.
"Kalau begitu makanlah, Sayang! Onty kamu sedikit tidak sehat sepertinya," ucap wanita paruh baya itu tersenyum lucu.
What the fu*ck! Sial*an, si nenek sihir cantik. Aku dikata tidak sehat? Tidak tau saja dia, orang rutin ngejim tiap minggu.
"Udah gak selera lagi, Grand ...."
"Nyonya! Nyo-nya, Giv!" Jihan meralat sapaan anak itu secepat kilat, sambil melotot dengan mengeja penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"Tidak apa-apa, Nona Jihan! Saya senang dengan panggilannya." Menatap Giv dengan senyum tulus. "Duduklah dan makanlah! Setalah ini Anda bisa kembali ke rumah Anda." Kembali mempersilahkan Jihan untuk duduk.
Melihat Jihan yang tampak masih ragu, wanita itu tersenyum lalu beranjak ke tempat duduk di samping putrinya.
"Nona Jihan, ini putri saya yang bernama Hil." Senyum cantik terlukis di wajahnya. Ia memperkenalkan dan menunjuk gadis cantik yang duduk di samping Given.
Jihan menggaruk tengkuknya mengusir kekakuan dan rasa malu.
Sh*it! Dikerjain nyonya besar. Ah, tidak masalah, untuk kategori orang cantik seperti ini. Bersahaja sekali epribadeh. 'Kan jadi makin kagum ... eh, hanya kagum. Aku masih normal tapi.
Jihan membatin sembari memuja. Mata indahnya tak jemu-jemu bergantian memandangi dua wanita berbeda generasi di sana.
"Maksud Mami apa?" tanya Hil pada ibunya.
Wanita cantik berusia senja yang tengah duduk di sana, menjelaskan semua dari awal pada putrinya. Gadis cantik berwajah blasteran itu tertawa anggun, sama seperti sang ibu.
"Anda pasti mengira Mami saya seorang ratu sihir, atau ... nenek sihir?" Tertawa lagi dan kali ini tawanya lepas, sangat indah dipandang. "Dan Anda pasti berpikir kalau anak manis ini makan makanan yang sudah disihir?" Hil masih saja tertawa di akhir ucapannya.
Jihan menunduk malu. "Maafkan saya, Nona dan Nyonya! Saya sudah lancang berpikir yang tidak-tidak tentang keluarga Anda. Mohon ampuni kesalahan Saya." Menunduk penuh hormat.
"Tidak apa-apa ... hmm, panggil apa yah, biar lebih enak?" tanya Hil menatap Jihan dengan sorot teduh.
"Jihan saja, Nona." Secepat kilat menjawab.
"No, no! Sepertinya Anda lebih tua dari saya, jadi ... Kak Jihan saja." Raut cantiknya tampak senang sekali.
"Jadi, apa yang Kak Jihan pikiran tentang keluarga kami, saat Mommy mengatakan seperti tadi?" Wajah penasarannya tampak menggemaskan.
"Maaf sebelumnya, Nona. Yang di pikiran saya ... ini benaran seperti di negeri dongeng. Seketika saya membayangkan jika saya tengah terjebak di Narnia, dan bertemu ratu penyihir putih yang jahat. Saya mengira, Given telah diculik dan dihipnotis seperti pangeran Edmund." Dan penuturan dari wanita lajang satu itu, membuat dua wanita cantik di sana tergelak tak henti-hentinya.
Jihan yang malu hanya bisa menunduk dengan senyuman masam.
"Saya akui tingkat imajinasimu, Kak Jihan. Amazing!" ucap Hil di sela-sela tawanya sembari mengacungkan jempol kepada Jihan. "Mi, Hil mau usul sama daddy dan kakak, buat mengubah rumah ini jadi kastil Cair Paravel, di mana raja dan ratu Narnia bertakhta." Memberikan usul gila pada sang ibu.
Nyonya besar itu malah mengangguk menyetujui. "Nanti mami mau pesan sama kakakmu yang satunya, kalau datang bawakan seekor singa biar dijadikan Aslan."
Ibu dan anak itu malah semakin memperpanjang halusinasi Jihan. Given yang mendengarnya menjadi tertarik.
"Wah, keren sekali, Onty. Given tidak mau pulang ah. Giv mau di sini saja dulu."
"What?"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Ritual jempol yah gaesss ❤️...
...___________________________...
AG mo kasih rekomendasi bacaan karya teman AG. Mampir kalau sempat yah 😍