
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Sebuah Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Telesto, baru saja berhenti di depan kediaman megah Alexander. Tampak seorang pria tampan turun dari sana sembari membanting pintu mobil dengan kencang. Raut geram tercetak jelas di wajah tampannya.
Di samping itu, seorang gadis cantik pun menyusul turun dari mobil mewah tersebut dengan tawa kecil yang tak henti-hentinya.
"Hentikan tawamu, Hil!"
Teguran yang sebenarnya emosi, tetapi itu tetap terdengar lembut. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi seluruh keluarga besar Alexander, untuk tidak memarahi ataupun mengasari gadis cantik satu itu.
Hilary, dia adalah Queen of Alexander, putri bungsu dari keluarga terkaya di Edinburgh. Menjadi bungsu dari tiga bersaudara dan merupakan putri satu-satunya, membuat Hil sangat disayangi dan dijaga oleh kedua kakaknya.
Bukan saja itu, kehidupan Hil bahkan dikelilingi oleh para bodyguard yang ditempatkan oleh sang ayah. Ia merasa di setiap langkahnya tidaklah bebas, tentu saja. Gadis manis itu kerap merasa jenuh dengan ruang gerak yang terbatas dan tidak senormal gadis lain seusianya.
Hilary hidup dengan sederet aturan sedari kecil, hingga dewasa kini semua itu tampak biasa baginya. Ia hanya akan keluar tanpa penjagaan dan pengawalan, jika hanya bersama kakak laki-lakinya.
"Ada apa, Hil?" tanya seorang wanita paruh baya nan cantik yang adalah ibunya.
Nyonya besar keluarga Alexander itu penasaran, melihat kepulangan putra-putrinya dengan raut berbeda-beda. Sang putri yang tertawa riang, sedangkan sang putra yang tampak begitu kesal.
"Mom, seberapa hebatnya dad membayar orang untuk mem-backup identitas keluarga ini sih? Dad keren banget," ucap Hil dengan bangga di sela-sela tawanya.
Wanita paruh baya itu mengerutkan kening tampak bingung. "Kenapa memangnya, Sayang?"
Hil menghentikan tawanya lalu segara duduk di samping sang ibu. Namun, tatapannya tidak lepas memandangi sang kakak dengan senyum jail.
"Sepanjang ini, apa sudah pernah ada yang marahin Kakak, Mom?" tanya Hil pada ibunya.
Nyonya besar yang kemarin sempat dipanggil grandma oleh Given, menggeleng bingung. Di samping itu, lelaki tampan yang menjadi topik pembicaraan di sana, berdecak jengkel.
"Stop it, Hil!" tegurnya sekali lagi.
Namun, adik perempuannya itu justru semakin tertawa melihat wajah dongkol kakaknya.
"Sorry, Brother, but i can't." Hill tertawa lagi sambil memeluk ibunya dengan manja kali ini.
Gadis cantik dengan manik coklat dan rambutnya yang pirang itu, menghentikan tawanya sejenak lalu menatap sang ibu.
"Mom, do you know? Tadi di butik kak Jihan, ada wanita yang berani-beraninya marahin Kakak," ucap Hill dengan nada dan raut excited.
Mendengar perkataan sang putri, nyonya besar Alexander itu kaget, tentu saja.
"Are you kidding, Hil? Who is she? Berani sekali dia marahin anak mommy? Apa dia tidak takut melihat wajah garang kakakmu?" tanya Nyonya besar, dan itu terdengar lucu bukannya marah.
Hill menoleh ke arah sang kakak yang duduk agak berjauhan darinya dan sang ibu. Tawa kecil kembali terciprat dari bibir ranumnya, sedangkan lelaki yang ditertawakan semakin bertambah dongkol.
Ingin protes dengan tidak adanya pembelaan sang ibu, tetapi ia tidak bisa melakukan itu. Bagi lelaki tampan dengan perawakan tinggi mencapai 186 cm ini, sang ibu dan adik perempuan satu-satunya adalah dua wanita berharga yang harus selalu ia ratukan.
"Jangan lagi mamaksaku mendatangi tempat orang-orang tidak beretika itu, Mom! Seperti tidak punya kerjaan saja aku," sungutnya dan langsung beranjak dari tempat duduk.
"Mau ke mana lagi, Hae?" tanya Nyonya besar.
Lelaki yang sudah melangkah itu, kembali berhenti dan menoleh pada ibunya.
"Hei, Mom! Anakmu ini bukan pengangguran. Cukup sudah aku dijadikan asisten Mommy pagi ini." Ia melirik jam di pergelangannya. "Waktuku di kantor sudah terbuang banyak, pekerjaanku menumpuk gara-gara seonggok gaun yang tidak penting sama sekali," gerutu lelaki itu dengan gelengan kepala.
Ia lalu bergegas meninggalkan ibu dan sang adik yang tampak bahagia melihat sikapnya pagi itu.
"Lumayan kan, Mom?" Hill menaik-turunkan alisnya antusias.
"Iya, Sayang. Sepertinya mommy harus selalu memintanya untuk menemani kamu, biar hidupnya tidak hanya tentang kerja dan kerja," ucap wanita paruh itu dengan sendu.
"Mom khawatir sama kakak?" tanya Hil dan ibunya mengangguk.
"Sudah saatnya dia melupakan masa lalunya dan memulai hidup baru."
Masih di tempat yang sama tetapi di ruang berbeda, lelaki yang menjadi bahan obrolan dua wanita kesayangannya di ruang keluarga tadi, tampak geram mengingat kejadian di butik beberapa jam lalu.
Ia tengah sibuk berganti pakaiannya dengan setelan formal, hendak ke kantor.
"Wanita sial*an! Akan aku pikirkan balasan apa yang pantas untukmu."
Seringai terpantul pada sebuah cermin besar di hadapannya.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Ritual jempol yah gaesss ❤️...
...____________________________...
...#...
...#...
...#...
Ada lagi rekomendasi dari teman nih. Kalo suka mampir yah 😍