
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Angkasa kini bertukar warna, lembayung senja mulai bergelantung di cakrawala. Raja siang menyentuh pucuk hari dengan mesra, meninggalkan jejak laksmi dengan segenggam janji, 'kan selalu kembali untuk bersama merangkai hari esok. Rona malu bercampur bahagia terukir jelas di singgasana, melepas handai dengan ikhlas.
Jihan dan Given berpamitan pada Hil serta ibunya untuk segera kembali pulang.
"Terima kasih Nyonya, dan Nona! Terima kasih untuk kesempatan berharga bertandang ke sini dan jamuannya yang begitu lezat, serta kepercayaan Anda sekeluarga terhadap desain butik saya." Jihan menunduk santun.
"Sekali lagi terima kasih, Nyonya!" lanjutnya dengan tangan terkatup di dada.
"Sama-sama, Nona Jihan. Saya juga sangat senang atas kedatangan Anda, terlebih lagi si ganteng ini. Semoga tidak kapok berkunjung ke sini yah," ucap wanita paruh baya itu dengan senyum.
Jihan ikut tersenyum mengingat kekonyolannya tadi. Ia segera meminta diri lalu menggenggam tangan Given dan secepat kilat melangakah keluar dari sana, dituntun dua orang pelayan.
Ia pun berterima kasih pada dua orang pelayan itu lalu segera masuk ke dalam mobil, menginjak pedal gas dan melesat dengan cepat dari sana.
Wanita lajang itu melirik sekilas jam tangan yang melingkar di pergelangannya. Saat itu juga ia semakin melajukan mobil dengan kecepatan lebih tinggi.
"Pelan-pelan saja, Onty! Tidak boleh kebut-kebutan, nanti dimarahin sama mommy loh!" Given memperingati sahabat dari ibunya.
Jihan tersenyum kecil lalu menjawab, "Justru ini onty lagi berusaha buat mommy kamu tidak marah, Sayang. Tenang saja, onty hati-hati kok nyetirnya."
Bukan tanpa alasan Jihan menambah kecepatan mobilnya. Wanita dengan tinggi semampai itu, tengah berusaha agar mereka cepat sampai di apartemen. Ia sangat yakin bahwa, ½ dari kewarasan sahabatnya, saat ini sedang tak terkendali.
Jihan sangat tahu seperti apa sahabatnya itu jika tanpa kehadiran sang buah hati. Ia baru menyadari, jika telah membawa anak dari sahabatnya, sudah lebih dari 5 jam.
Sh*it! Mana ponsel mati lagi ... semoga tidak gilak saja orangnya.
Jihan membatin sembari terkekeh membayangkan sebagaimana panik dan khawatir sahabatnya.
Langit senja di salah satu kota tertua di dunia itu, tampak begitu cerah dan indah. Jalanan dipadati oleh lalu lintas juga pejalan kaki, baik masyarakat pribumi maupun turis mancanegara yang saling berbaur.
Lebih dari setengah jam perjalanan, Ford focus yang dikendarai oleh Jihan membelah jalanan kota petang itu, kini berteduh sempurna di basemen sebuah bangunan bertingkat-tingkat.
"Capek, Give?" tanya Jihan begitu keduanya keluar dari mobil.
"Hmm ...." Bocah tampan itu tampak sedikit berpikir. "Capek sih, Onty. Tapi menyenangkan sekali hari ini," jawabnya kemudian.
Langkah kaki Jihan berderap santai, menyesuaikan dengan jengkal kecil Given. Perlahan tetapi pasti, keduanya tiba di depan unit apartemen Jihan.
Wanita lajang itu menekan beberapa digit pada key smart yang melekat pada pintu. Ia menoleh sejenak pada bocah di sampingnya, lalu memberi kode dengan telunjuk yang menempel pada bibir.
"Oh, sh*it! Si jones itu kenapa matikan ponselnya segala sih? Awas saja jika anakku sampai kenapa-kenapa, arrrgghh!"
Geraman kesal seorang perempuan cantik yang tampak kacau, tengah duduk sendirian di ruang tengah dan menyorot hampa pada layar TV yang menyala.
"Lama-lama aku obrak-abrik juga nih tempatnya. Apa perlu aku mencarikannya pasangan untuk menikah? Biar kalau dia mau jalan ada temannya, jadi aku dan anakku tik perlu jadi pengawal lagi." Masih saja mengomel sendirian.
Jihan dan Given yang mengintip dan menyaksikan itu, cekikikan setengah mati, hingga tak dapat lagi untuk menahan, dan pecahlah tawa keduanya.
Vlora berbalik dan menoleh ke arah pintu, seketika bahunya merosot dengan mata yang terpejam sesaat, berbarengan embusan nafas kasar sebagai isyarat melepas gelisah. Tangannya terangkat menyapu dada, begitu melihat wajah tampan sang putra.
"Sayang!"
Detik itu juga, Vlora bangkit dari duduknya dan berlari kecil meraih tubuh Given.
"Mommy!" Ibu dan anak itu berpelukan mesra melepas rindu yang tertumpuk selama beberapa jam lalu.
Vlora melirik tajam sahabatnya yang tengah tersenyum melihat pemandangan manis antara ia dan Given. Dia yang tengah ditatap, tampak tidak peduli.
"Giv, mommy mau ngomong sebentar sama Onty. Giv main di sana dulu yah. Sebentar saja, Sayang," pinta Vlora setelah menghujani wajah tampan anaknya dengan ciuman sayang.
"Siap, Mom!"
Bocah lelaki itu lalu meninggalkan dua orang dewasa di sana, berdua saja.
Vlora bersedekap dengan tatapan yang masih tajam. "Jelasin dari mana saja kalian? Tempat mana saja yang kalian datangi? Kenapa aku gak dikasih tau sama sekali? Siapa yang kalian temui?"
Jihan hanya senyum-senyum mendapat hujaman pertanyaan dari sahabatnya.
"Selow, Nyonya! Aku sama Giv habis berpetualang dari ...."
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Like, komen dan favorit, jangan sampai ketinggalan ❤️...
...______________________...
Sambil nungguin bab selanjutnya, mampir yuk di karya teman AG. Kalau ada waktu sih 😁😁