Not You

Not You
22. Dia Bukan Putramu



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


"Aku membebaskanmu detik ini juga, dan kau bisa mengajukan permintaan apapun yang kau mau sebelum lembar perceraian kau tandatangani," ucap Tristan tanpa beban.


Vlora mengerjab dan setetes cairan bening pun luruh dari netra legamnya. Mungkin ini memang yang terbaik, tetapi tetap saja hatinya belum sepenuh siap dengan kenyataan.


Sakit? Ya, jelas rasa itu yang tengah Vlora rasakan. Wanita mana yang akan tertawa bahagia di saat rumah tangganya berada di ujung kehancuran? Sepelik apapun problematika dalam rumah tangga, perceraian bukanlah solusi yang baik.


Vlora memang sedang berusaha menjaga hati dengan tidak lagi mempedulikan suaminya selama sebulan lalu. Namun, untuk sebuah kata cerai, masih sangat jauh dari niatnya, bahkan tidak terpikirkan sama sekali.


Perjalanan hampir tujuh tahun, bukanlah waktu yang singkat, apalagi selama ini di negeri orang yang begitu asing. Sungguh Vlora tidak pernah membayangkan akan mengalami hal setragis ini.


Dalam nelangsanya saat itu, perkataan Tristan kembali menyentak, membuat amarah Vlora memuncak dan berakhir kehancuran bagi keduanya.


"Katakan saja apa yang kau inginkan setelah perpisahan ini. Apapun yang kau mau, kau akan mendapatkannya. Tapi satu hal yang harus kau ingat, Given ikut bersamaku, dan jangan kau halangi itu!" Lagi-lagi Tristan berucap enteng.


"Tidak!" teriak Vlora dengan kencang.


Perempuan dengan wajah yang telah bermandikan air mata itu, menatap suaminya dengan sorot tajam yang berbeda dari biasanya.


"Sampai kapan pun dia tidak akan pernah ikut denganmu. Tidak akan pernah! Tidak akan aku biarkan itu terjadi! Jangan mimpi kau, Tristan!" teriak Vlora seperti orang gi*la.


Wanita ceking itu bahkan meraih baju yang dipakai suaminya, dan mencengkeram dengan penuh amarah.


"Kau yang jangan terlalu bermimpi, Vlora! Sudah cukup selama ini aku membiarkan anakku dekat dengan wanita menjijikkan sepertimu! Dia anakku, dan sudah pasti akan ikut bersamaku," balas Tristan dengan nada tak kalah meninggi.


Ia melepaskan tangan Vlora yang masih setia mencengkeram kaos yang ia gunakan, lalu menghempaskan tangan kurus itu dengan kuat.


"Aku bilang tidak, dan tidak!" teriak Vlora dengan urat-urat leher yang bahkan tampak menegang.


"Dia putraku, hanya putraku! Dan kau tidak mempunyai hak sedikit pun atasnya, kepa*rat!" ucap Vlora yang tidak digubris sama sekali oleh suaminya.


Lelaki itu beranjak ke arah lemari besar yang berada di dalam kamar itu, hendak meraih jacket besar untuk dikenakan dan pergi keluar. Namun, suara Vlora berhasil menahannya.


"Kau boleh acuhkan diriku, tetapi tidak dengan perkataanku ini. Aku tidak sedang membual, Tristan! Given bukanlah anakmu, dia hanya putraku!" ungkap Vlora tanpa kendala.


Tristan langsung membanting pintu lemari dengan keras, lalu berbalik menatap Vlora dengan sangat tajam.


"Apa yang kau katakan?" tanyanya dengan nada rendah hampir berbisik. Namum, masih dapat didengar oleh Vlora.


"Given bukanlah anakmu, dan karena itu kau tidak memiliki wewenang sedikitpun untuk mengambilnya dariku!" Vlora mengulangi kata-katanya tanpa hambatan.


Kening Teristan mengerut, lalu ia berjalan mendekati Vlora dengan sorot mengintimidasi.


"Are you kidding me?" tanyanya ragu dan sedetik kemudian .... "Ha-ha-ha, Vlora ... Vlora, niat sekali kau memisahkan aku dan putraku. Sayangnya itu tidak akan pernah terjadi." Kembali menangkup pipi tirus Vlora dengan kuat.


"Tidurlah, Sayang! Kau kelihatan sangat lelah sepertinya," imbuh Tristan dan sesudah itu, lagi-lagi mendorong tubuh Vlora.


Langkah lebarnya bergegas hendak keluar kamar, akan tetapi ....


Pranggg!


Lampu tidur yang berada di atas nakas tidak jauh dari meja, dihantam Vlora ke lantai dengan brutal. Tristan terperanjat dan kembali berbalik melihat kekacauan yang diciptakan Vlora.


"Are you crazy?" tanya Tristan mulai emosi lagi. Ia menghampiri Vlora yang tengah berdiri dengan nafas tak beraturan.


"Ya, aku akan menggila seperti yang kau katakan jika sedikit saja dari tubuh anakku kau sentuh, apalagi sampai kau membawanya dariku!" ancam Vlora tak main-main.


"Aku tidak ada waktu untuk meladeni wanita sakit jiwa sepertimu. Kita liat saja di pengadilan nanti, Vlora Yukika!" tegas Tristan.


"Pengadilan tidak mempunyai bukti untuk membantah darah siapa yang mengalir di tubuhnya, termasuk kau!" telunjuk Vlora mengarah lurus tepat di wajah suaminya.


"Given adalah putraku. Hanya aku, tanpa ada sedikit pun darahmu yang mengalir di tubuhnya. Seperti yang kau katakan, wanita menjijikkan inilah yang rela bertahan menahan sakit hati bertahun-tahun, hanya untuk sebuah status yang jelas bagi putraku. Tetapi tidak lagi untuk kali ini!" beber Vlora dengan sungguh.


Duarrrr ....


Suara petir menggelegar bersamaan dengan seberkas cahaya putih yang berkilat. Tubuh tinggi tegap Tristan terpaku bodoh. Perkataan wanita di hadapannya, bagai bom besar yang cukup mampu mengguncang dunia Tristan.


"Kau ...." Tristan tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya. Lidahnya kelu, mulutnya hanya bisa menganga kaku.


"Sepeti kau yang telah menghancurkan harapanku, aku pun kini ingin menghancurkan mimpimu. Sekali lagi aku tegaskan, dia bukan putramu!"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Jangan lupa saweran yah 😍...


..._____________________________...