
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...***...
"Akan saya pikirkan lagi, Pak."
"Kamu ingin menolak?" tanya seorang pria dengan heran.
"Bukan begitu, Pak. Saya, hanya merasa tidak layak untuk itu. Di sini banyak bawahan Bapak yang berkemampuan dan memenuhi kriteria-kriteria yang ada. Mereka juga bekerja sudah sangat lama dan totalitas, bahkan latar belakang pendidikan mereka jauh lebih bagus dari saya, Pak."
"Tapi kamu punya kemampuan yang lebih dari mereka."
...****...
Vlora baru saja tiba di ruang kantor room service, ia dikagetkan dengan riuh tepuk tangan dan selebrasi kecil-kecilan dari rekan-rekan sesama karyawan.
"Selamat, Mba Yura!" seru salah satu rekan wanita.
"Cie, yang naik tingkat ... traktir yah, yah ...."
Vlora berdecak menanggapi semua yang dilakukan teman-temannya.
"Jadi, Mba udah tau yah? Ck, aku gak mau. Kenapa gak Mba aja yang naik? Mba dan yang lainnya kan udah kerja lebih lama di sini," ucap Vlora dengan wajah kusut.
"Elah ... jadi kamu tolak?" tanya order taker tidak percaya.
Saat Vlora mengangguk, satu timpukan mendarat di lengannya.
"Kenapa hah? Ini anak, orang dikasih rezeki itu terima dan bersyukur. Eh, ini malah gak mau ... aneh," kesal si order taker.
Vlora tersenyum masam sambil menggoyangkan tangannya beberapa kali.
"Aku gak layak untuk itu ... sudahlah, aku nyaman dengan kalian di sini. Ayo, bubar dan kerja!" seru Vlora dan langsung bergegas menjalankan tugasnya.
Setelah kepergiannya, beberapa orang masih di tempat dan menyaksikan setiap gerak ibu satu anak itu.
"Padahal kan dia punya kemampuan dan dia pantas untuk itu kok ... "
...*****...
Satu minggu kemudian ....
Pasca menolak tawaran atasannya untuk diberikan jabatan yang lebih bagus dari jabatannya saat itu, kesibukan Vlora bukannya berkurang, malah semakin sibuk.
Beberapa hari lalu, ia dan sahabatnya, Jihan, merintis usaha butik baru. Ide itu sudah ada sejak keduanya menginjakkan kaki sebulan lebih lalu di Jakarta. Namun, baru terealisasi beberapa hari lalu. So, Vlora sedikit repot membagi waktu di hotel dan di butik.
Ibu satu anak itu begitu semangat dalam menjalani hari-harinya. Meski tak dipungkiri lelah itu ada, tetapi ia selalu siap menjalani semuanya.
Hampir setiap hari dia datang terlambat di hotel, dan di hari liburnya pun, ia tidak dapat menikmati waktu itu dengan baik. Quality time bersama sang putra pun jadi berkurang.
Mereka hanya akan bertemu saat malam tiba, tetapi itu pun selalu hampir larut. Seperti malam ini, lagi-lagi ia pulang terlambat dan sang putra selalu menunggu seperti biasa.
"Kenapa mukanya seperti itu, Sayang?" tanya Vlora ketika keduanya sedang di kamar Vlora.
Kurangnya waktu bersama, membuat bocah lelaki itu memutuskan tidur bersama ibunya.
"Kapan mommy punya waktu yang banyak lagi untuk Giv seperti dulu, Mom?"
Wanita cantik yang sudah lengkap dengan baju tidur lengan panjang saat itu, berjalan mendekati putranya. Vlora lalu duduk di samping anaknya, menatap wajah yang tampan yang tampak kusut itu.
"Mommy minta maaf untuk itu, Sayang." Vlora menarik nafas dalam-dalam lalu mulai berbicara.
"Dengar, Giv. Hidup itu butuh biaya. Mommy tidak bisa lagi hanya tinggal di rumah seperti dulu, Mommy harus kerja buat makan kita dan sekolah Giv. Giv tau kan? Sekarang hanya kita berdua, kalau mommy tidak kerja, kita mau minta uang sama siapa? Mommy kerja baru sebulan lebih, gaji mommy belum cukup untuk semua kebutuhan kita, Sayang. Karena itu, mommy harus cari kerja yang lain lagi selain kerja di hotel." Panjang lebar Vlora menjelaskan.
Bocah itu terdiam dan mencerna, lalu mencoba memahami setiap ucapan sang ibu. Wajah polos itu tampak berpikir.
"Giv boleh tidak, ikut mommy ke tempat kerja?" tanyanya.
Kening Vlora mengerut. "Tidak bisa dong, Sayang."
Given mengembuskan napasnya dengan berat. "Andai saja bisa ...."
"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Vlora bingung.
"Mau bantuin mommy kerja," jawabnya.
Vlora tertawa mendengar jawaban itu. "Mau bantuin, mommy?" tanya Vlora sekali lagi dan putranya mengangguk. "Giv cukup belajar yang rajin dan jadi anak yang pengertian. Itu saja, Sayang. Itu sangat membantu mommy," ucap Vlora tersenyum.
Given mengangguk dengan semangat, lalu keduanya pun merebahkan diri dan terlelap mengarungi malam.
...****...
Hari masih gelap dan matahari belum juga mengintip di ufuk timur. Vlora terbangun paksa karena dering ponsel yang terus berbunyi. Dilihatnya nama sang atasan tertera di layar ponsel.
Dengan malas-malasan dan masih sangat mengantuk, Vlora menjawab teleponnya.
☎️ "Halo, selamat pagi, Mba?"
☎️ "..."
☎️ "What? Opsss ... maaf, Mba, refleks. He-he-he. Ok siap, otw."
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Halo, Yurahood 👋 AG minta maaf karena akhir² ini sibuk dan sedang dalam masalah 😌 jadi maafkan kalo AG gak sempat up sehari yah 🙏 Tapi AG ingat sama kalian dan tetap akan usahakan buat up 🥰🥰
Terima kasih buat yang selalu setia mengikuti kisah Yura 🙏🙏 Luv you all 😘🤗🤗
...✨✨✨✨...
Oh iya, AG punya rekomendasi bacaan dari sesama teman penulis nih. Kalo suka mampir yah 😍