Not You

Not You
25. Elegi Vlora



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...*...


...*...


...*...


Tidak ada cara yang dapat dilakukan Vlora selain kembali ke rumah dan meminta bantuan Tristan. Namun, sayang beribu sayang, kenyataan semakin menyakitkan yang ia dapatkan di sana.


Teriakannya berulang kali dengan gedoran keras pada pintu, tidak jua digubris oleh lelaki yang tengah berdiri di dalam sana. Suara tangis dan rintihan kedinginan dari luar, tidak sedikit pun mampu menggugah nurani seorang Tristan.


"Tristan! Please, kali ini saja ... tolong aku! Tolongin Given, Tristan!" teriak Vlora dari balik pintu.


Sekuat tenaga wanita itu memekik, mengalahkan deru angin dan hujan yang terus berpadu tiada henti.


"Tristan! Kau bilang, kau sangat menyayanginya, bukan? Tunjukan kalau kau memang benar-benar menyayanginya! Sekali ini saja, Tan! Please!" Vlora menangis memohon, tetapi tidak kunjung ada sahutan apapun dari dalam.


Tubuh kurus wanita cantik itu, merosot dan terduduk pilu nan mengenaskan beralaskan ubin yang dingin. Hembusan angin bagai selimut yang membekukan jiwanya, serta butiran-butiran air hujan yang jatuh bagai elegi pilu malam itu.


Vlora bangkit dengan berat tubuh yang tidak mampu lagi ia topang sendiri. Akan tetapi, ia tetap berusaha menyeret langkah, lalu tertatih menembus guyuran hujan yang kian lebat.


Begitu langkah rapuhnya mencapai jalanan, sebuah taksi kebetulan melintas. Vlora lalu menghentikan mobil itu dengan cepat.


Melihat penampilan wanita itu yang basah kuyup dan kedinginan, ada prihatin di benak sang sopir. Namun, ia tampak sedikit mempertimbangkan. Vlora terus memohon dengan bibir yang gemetaran, hingga beberapa detik kemudian, sang pengemudi itu memperbolehkan ia naik ke mobil.


Mobil pun segera melesat menerobos pekatnya malam dan derasnya hujan.


"Mau ke mana, Nona?" tanya si pengemudi.


Vlora terdiam untuk beberapa saat, hingga bibirnya yang mulai pasi mengeja sebuah tempat yang hendak ia tuju.


...*****...


Vlora lekas turun dengan cepat dari mobil, lalu berlari kecil agak terburu-buru, memasuki sebuah bangunan yang tampaknya tidak begitu ramai.


Derap langkah rapuh dan tertatih-tatih yang terpantul pada lantai dingin, menyuarakan asa dari ibu muda satu itu.


"To-tolong, Pak! Tolong!" ucap Vlora begitu tiba di sebuah loket penjagaan.


Wanita ceking dengan pakaian yang masih setia basah kuyup itu, kini berada di sebuah kantor polisi.


"Tenang dulu, Nona. Duduklah! Apa yang terjadi?" tanya seorang petugas dengan seragam lengkap.


Vlora lalu menceritakan kronologi kejadian saat di rumah tadi.


Petugas polisi itu pun menanyakan ciri-ciri fisik anaknya, juga ciri-ciri sang penculik. Vlora menjelaskan lagi dengan sedetail mungkin.


"Jangan khawatir, Nona! Semuanya akan baik-baik saja!"


"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Vlora penuh khawatir.


"Sebaiknya Anda kembali ke rumah, Nona! Kami akan mulai melakukan pencarian dan sesegera mungkin akan mengabari Anda."


Awalnya Vlora menolak, tidak ingin kembali. Ia hanya ingin menunggu di tempat itu sampai anaknya ditemukan. Namun, pada akhirnya ia pun mengalah.


Sopir yang tadi mengantarkannya, kembali membawa wanita itu entah ke mana.


"Sudah sampai, Nona!" ucap sopir itu dan Vlora tersentak.


Wanita yang dari tadi melamun memikirkan putranya, benar-benar kaget dengan suara sang sopir. Namun, kadar kekagetannya semakin bertambah kala melihat di mana ia sekarang.


"Eh, Pak? Ke-kenapa bisa ada di tempat i-ini?" tanya Vlora tidak percaya. Netranya menyorot sekitar dengan bingung.


Pengemudi itu tidak jua menjelaskan apa-apa, hanya mempersilahkan Vlora turun, dan ia pun segera melajukan mobil dari sana meninggalkan Vlora sedirian di tengah hujan dan sepi.


Entah, apapun alasannya, siapapun orang baik yang menjelma jadi pengemudi dadakan baginya saat itu, Vlora sangat berterima kasih.


Ia kemudian memaksa menggerakkan kakinya untuk melangkah lagi, meski lelah dan sakit itu begitu menyiksa. Vlora berjalan tersendat-sendat hingga mencapai lift.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia tiba di sebuah unit apartemen. Vlora mempercepat sedikit langkahnya, lalu menekan bel kamar apartemen yang sudah sering ia kunjungi.


Saat pintu itu telah terbuka, seseorang di dalam sana memekik kaget melihat Vlora yang sangat memprihatinkan.


"Vlora!" teriak Jihan saat itu juga. Ia kemudian menutup mulutnya, menatap tak percaya.


"What happened to you, Baby?"


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Biasakan jempolnya untuk meninggalkan jejak....


..._________________________...