Not You

Not You
61. Itu Bukan Kamu



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...***...


Dua orang berbeda genre tengah berdiri dengan posisi yang sama, saling berhadapan dalam jarak. Namun, keduanya tak dapat saling menatap karena terhalang pintu yang tertutup rapat.


Setelah melihat siapa yang berdiri di hadapannya tadi, Vlora lekas menutup kembali pintu. Akan tetapi, ucapan lelaki itu berhasil meluluhkannya, hingga ia kembali membuka pintu dan menutup lagi.


Keduanya berdiri dalam diam yang merajai. Vlora menunduk dan melihat goody bag yang masih ada ditangannya. Ada banyak rasa yang berkecamuk dalam hati wanita cantik itu.


Apa aku kejam dan terlalu berlebihan?


Tanya Vlora dalam hati. Saat ia mendengar tapak kaki yang bergegas pergi, detik itu juga ia membuka pintu sekali lagi dan mempersilahkan dia yang hendak pergi kala itu, untuk bertandang sebentar.


"Kau yakin mengizinkanku masuk?" tanya pria yang masih berdiri di sana dan Vlora pun mengangguk. "Kau tidak takut aku mencelakaimu?" tanyanya lagi dan Vlora menggeleng kali ini.


"Lakukan saja jika Anda ingin dan Anda sanggup untuk melakukannya!" ucap Vlora dengan pasti.


Lelaki itu tersenyum mendengar jawaban Vlora. Itu adalah jawaban sama yang ia lontarkan pada Vlora saat membuatkannya makan malam kemarin. Ia percaya bahwa wanita itu tidak akan mungkin meracuninya. Kini kepercayaan yang sama, yang Vlora berikan.


"Terima kasih," ucap lelaki itu dan melangkah masuk mengikuti Vlora.


Keduanya memulai makan malam yang dibawakan sang lelaki, yang tidak lain adalah tuan muda Alexander. Ya, ia datang hanya ingin membawakan makan malam untuk Vlora dan pastinya makan malam berdua saja.


Vlora menikmati makanannya dalam kecanggungan, tetapi tidak dengan tuan muda. Mata elangnya tidak pernah lepas menatap wanita cantik di hadapannya. Tidak seperti hari-hari lain, di mana ia tampak canggung, menahan diri dan tampak jaim.


"Kenapa? Makannya tidak enak?" tanya tuan muda. Ia melihat Vlora tidak menyelesaikan makanannya.


"Em? Enak, sangat enak. Terima kasih!" jawab Vlora kikuk.


"Kalau begitu, habiskan! Jika tidak, kau yang akan aku habiskan," ucap tuan muda dengan santai.


Bukannya takut, Vlora malah langsung melotot horor. Tingkah itu membuat lelaki di depannya tertawa renyah.


"Jangan seperti itu, adik ipar!" katanya lagi.


Ia lalu bangkit dari tempat duduknya begitu menyelesaikan makanan. Lelaki itu berjalan mengitari meja dan menghampiri Vlora. Entah dorongan apa yang membuat tangan tuan muda itu terangkat dan menyentuh kepala Vlora.


"Makanlah dengan tenang. Aku akan kembali menemui Given. Terima kasih sudah menemaniku makan malam!" Usapan lembut di kepala Vlora membuat wanita itu hampir saja tak dapat bernafas.


Setelah membuat kekacauan dalam hati Vlora, tuan muda itu lalu pergi meninggalkan rumah kecil itu. Vlora masih di tempatnya, terpaku tak bergerak sedikit pun.


Apa yang dia lakukan? Apa ini? Aku tidak percaya ini. Ini gila ... aku pasti bermimpi.


Batin Vlora menjerit, tetapi ia tidak mampu tuk berucap sepatah kata pun. Efek dari sentuhan kecil dan sederhana itu, melumpuhkan semua tulangnya hingga tak bisa bergerak, menahan laju nafasnya. Namun, degup jantung di dalam sana berdebar kencang bagai genderang yang bertalu.


"Mau ke mana, Tuan?" tanya asisten pribadi Tuan muda itu yang merangkap sebagai sopir. Sejam lebih, dia menunggu tuannya di depan lorong.


"Apakah dia mencariku?" Bukannya menjawab, malah balik bertanya.


Kenapa tuan bisa tahu? Batin sang asisten.


"Kalau begitu Kembali ke hotel sekarang! Tugas itu biar besok saja!" perintah sang tuan muda.


Aku tahu, dia pasti mencariku. Apa aku sudah bisa menemukan titik terangnya?


Tuan muda itu membatin. Ia tahu bahwa pasti bocah kecil itu mencarinya. Seharian tadi ia terus menempel padanya seperti perangko. Untuk bertemu dengan ibu dari bocah itu, ia harus beralasan urusan penting. Hah, memang ini penting baginya.


Bukan masalah jika bocah itu harus ikut, tetapi entah kenapa, tuan muda begitu ingin menemui ibu dari anak lelaki itu sendirian.


Aku berharap, orang itu bukan kamu. Karena kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan bisa untuk memilih.


Ia memejamkan mata, mengusir gundah yang belum apa-apa sudah menyiksanya.


Saat matahari terbenam esok, kau akan mengerti dengan semua yang kulakukan sejak kemarin hingga malam ini. Aku hanya ingin mencoret sedikit saja kenangan tentangmu dalam kosongnya hatiku, sebelum keinginan untuk selalu menatapmu harus terpenjara paksa.


Lelaki itu membuka mata lalu menatap keluar jendela, sementara mobil terus melaju di tengah ramainya kota Jakarta.


Maafkan perasaan yang tak pantas ini ....


Dari balik kaca spion, asisten Zack bisa melihat kegalauan di wajah atasannya.


"Zack," panggilnya pada sang asisten.


"Ya, Tuan!"


"Setelah kedatangan Hariss bersama mommy dan daddy, selesaikan misimu dan kita kembali saat itu juga!" titahnya.


meskipun bingung, Zack tetap mengangguk dan mengiyakan.


Kenapa harus secepatnya? Ini kan belum sebulan. Hmm, kerja sambil liburan, gagal ....


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...***...


...✨...


...✨...


...✨...


Adalagi rekomendasi novel keren dari teman author nih 😉 Mampir yah kalo sempat 😍