
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
"Enough!"
Teriak Vlora seraya bangkit dari tempat tidur, lalu menatap Tristan dengan nyalang tanpa ada sedikitpun rasa takut.
Emosi perempuan berwajah tirus itu, sudah tidak bisa untuk dibendung lagi. Kesabaran memang tiada batas, tetapi nyatanya Vlora sampai di titik batas sabar itu sendiri.
"Kau bicara seolah aku ini peliharaanmu?" tanya Vlora dengan tajam. "Ok, fine! But don't to remember that, peliharaan ini yang tujuh tahun lalu membuatmu memohon layaknya pengemis! Peliharaan ini tidak pernah menangis dan meminta untuk kau nikahi. Kau sendiri yang menawarkan neraka ini dengan mengemis-ngemis pada orang tuaku!" tunjuk Vlora tepat di wajah suaminya.
Suara wanita itu bahkan menggema memenuhi setiap sudut ruang kamar tidur milik keduanya. Namun, Tristan hanya terkekeh menanggapi ucapan Vlora yang penuh emosi.
"Akhirnya aku tidak perlu bersusah payah untuk memberimu julukan itu." Ucapannya bagai segenggam bubuk cabai yang ditelan paksa oleh Vlora, langsung memicu perih di manik hitamnya.
Wanita itu tidak percaya dengan apa yang diucapkan sang suami. Sedikit kepercayaan dirinya, hampir saja hilang saat mendengar kata-kata itu.
Ja-jadi dia pun membenarkannya? Dia benar-benar menganggapku seperti itu? Bia*dap kau, Tristan!
Vlora menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali dengan mulut yang terbungkam, sementara Tristan masih saja tertawa remeh.
Ia berjalan hingga berdiri tepat di hadapan Vlora, lalu menangkup kedua pipi tirus Vlora dengan sebelah tangannya.
"Iya, aku seperti pengemis yang begitu memuja dan menginginkanmu. Tapi itu dulu, saat aku tidak tahu jika wanita yang sangat aku inginkan, tidak ada bedanya dengan wanita-wanita lain yang sering menemaniku."
Tubuh Vlora seketika menegang dan dalam hitungan detik, semua tulang-tulangnya terasa remuk dan patah. Netra pekatnya yang telah tergenang, menatap sang suami dengan nanar.
"Jangan pikir kebaikanku memperlakukanmu selama ini karena cinta, aku hanya memikirkan anakku. Aku hanya memikirkan Given. Maka dari itu, semua kebaikanku anggap saja ungkapan terima kasih karena sudah melahirkan dan merawat dia!" ucap Tristan dengan sangat tajam. Vlora semakin remuk redam dibuatnya.
Ia kemudian mendorong tubuh Vlora dengan kasar kembali ke atas ranjang.
"Dan sekarang, kau sudah sangat lancang untuk menjauhkan dia dariku, bahkan membuat dia menjadi liar sepertimu." Ia mendekat ke arah ranjang dan menunduk mengungkung Vlora.
"Sekarang tidak akan aku biarkan lagi." Vlora langsung berusaha bangkit mendengar ucapan itu.
"Dia harus ikut bersamaku, dan dia akan aku jauhkan darimu." Tristan menekankan ucapannya, sementara Vlora terbelalak. Benar saja, perasaan yang ia takuti pun terjadi.
"Apa katamu?" tanya Vlora dengan emosi yang kembali memuncak. Ia bergerak mendorong dada Tristan dengan sekuat tenaga. "Menjauhkan aku dari putraku? Jangan mimpi kamu!" tegas Vlora.
Wanita itu kini berdiri di depan suaminya dengan tatapan penuh menantang.
"Kenapa harus mimpi? Hal itu mudah bagiku untuk mewujudkannya, dan aku memiliki hak sepenuhnya akan hal itu!"
"Tidak!" sergah Vlora dengan cepat. "Kau tidak memiliki hak apapun atas Given! Di anakku, dan aku tidak akan membiarkan kau melakukan apapun atasnya!" balas Vlora tak kalah tajam.
"Ha-ha-ha!" Tristan lagi-lagi tergelak. "Kau tidak memiliki wewenang apapun untuk membatasi hubungan kami, Vlora Yukika!" Tatapan lelaki itu tak kalah tajam dari ucapannya.
"Kau tahu seberapa muak aku terhadap dirimu?" tanya Tristan dengan gigi-gigi yang saling bergelemetuk.
"Muak, muak, aku juga muak!" hardik Vlora dengan keras. "Jika itu alasanmu, akhiri saja drama ini, karena aku pun tidak lagi sanggup. Bukan saja kau yang lelah, aku bahkan lebih dari itu!"
Prangggg ....
Sebuah vas disambar oleh Tristan dan diayunkan dengan kencang ke lantai saat itu juga. Serpihannya terhempas dan berserakan di mana-mana.
"Kau mengujiku?" Tristan mencengkeram kuat pipi istrinya. "Dengar, jika sampai ada keluhan dari kedua orang tuamu, itu bukanlah salahku, tetapi salahmu dan kemauanmu sendiri. Oleh karena itu, dengan senang hati aku mengabulkannya!" Seringai tercetak di wajah tampan Tristan.
Tubuh ceking Vlora bergetar hebat dengan kedua lutut yang seketika lemas, serta pijakannya goyah dan rapuh. Ini memanglah hal yang juga dia harapkan, tetapi masih terlalu sulit untuk ia percayai dan terima.
"Sekali lagi aku perjelas, hubungan ini telah berakhir. Tunggu saja surat cerai dariku!"
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Jangan lupa saweran yah 😍...
..._____________________________...