Not You

Not You
38. Pigura



...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...***...


Pada waktu yang sama, di kediaman Tuan Muda Alexander pertama. Siang itu, Vlora tengah membersihkan ruang kerja tuannya, sesuai perintah asisten Zack.


Setelah hampir setengah jam membenahi seisi ruangan yang cukup besar itu, giliran Vlora merapikan meja kerja tuan muda.


Namun, sebelum melanjutkan pekerjaan,ia terlebih dahulu menghempaskan tubuh lelahnya di atas kursi putar milik majikan dadakannya itu.


"Huh, lelahnya," ucap Vlora dengan mata terpejam.


Si cantik bertubuh ceking itu tengah bersandar nyaman, sambil berputar menikmati empuknya kursi kebesaran milik sang tuan rumah.


"Hmm, nyaman sekali," gumam Vlora masih dengan mata yang tertutup.


Beberapa menit telah berlalu dan ia hendak bangkit untuk lanjut membersihkan sekitar. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol pigura kecil yang terpajang di sudut meja tersebut hingga jatuh dan pecah.


"Oh, astaga! Si Grayman itu bakal mengamuk tidak yah?" gumam Vlora dengan jantung yang berdebar.


Takut ketahuan tidak becus dalam pekerjaan yang hanya akan menambah masa penyiksaan di rumah megah itu, Vlora dengan segara menunduk hendak membersihkan serpihan-serpihan kaca yang berceceran di bawah sana.


Namun, betapa kagetnya ia melihat ke bawah dan menatap dalam pigura tersebut. Tampak tiga sosok anak kecil tengah berpose indah di sana dan wajah dari salah satunya mirip sesekali dengan Given.


"Giv?"


Vlora terbelalak dengan detak jantung yang berdegup lebih cepat dari kinerja normal. Ia lantas menunduk lalu meraih pigura itu dengan tangan gemetaran.


Jemarinya mengusap wajah salah satu dari bocah lelaki yang mirip sekali dengan sang putra.


"Ke-kenapa bisa persis seperti ini?" Sungguh Vlora tidak habis pikir akan hal itu.


"Siapa tiga orang dalam foto ini? Apa dia dan saudaranya?"


Vlora tampak berpikir, mencoba untuk mencerna penemuan baru yang ia jumpai siang itu. Akan tetapi, tampak tidak ada ujungnya. Ia pun lekas menaruh pigura tersebut dan membersihkan pecahan-pecahan di sana.


"Auh," ringis Vlora.


Setitik darah segar mencuat ke permukaan kulitnya. Wanita itu meringis karena tergores sebilah beling, saking terburu-buru melakukan pekerjaannya. Ia berniat menyembunyikan foto tadi.


Saat semuanya sudah beres, cepat-cepat Vlora ingin keluar dari ruang kerja itu. Namun, belum juga sampai di depan pintu, seseorang sudah lebih dulu masuk.


Lagi-lagi Vlora tersentak dan langsung menyembunyikan benda yang dipegangnya ke belakang. Ia mendadak gugup dan berkeringat saat tatapan di depannya menyorot tajam.


"Ke-kenapa Anda sudah pulang, Tuan?" tanya Vlora sedikit terbata.


Laki-laki yang tidak lain adalah majikannya, mengernyit. "Kenapa? Ini rumahku, dan aku bebas mau pulang kapan saja. Kenapa kau keberatan?"


Lelaki itu berjalan mendekati Vlora, sementara Vlora sendiri semakin memundurkan langkahnya. Jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa senti saja dan itu sangatlah tidak menguntungkan bagi Vlora.


Debaran di balik rongga dadanya semakin menggila, kala sorot tajam tadi berubah teduh, menatapnya begitu lekat. Vlora tidak mampu untuk berkedip maupun berpindah, seolah tersihir manik legam di hadapannya. Akan tetapi, sesuatu di belakang sana, digenggamnya dengan erat.


Aroma mint yang begitu dominan menguar ke penciuman Vlora, menelusup dan membuai wanita itu. Vlora seolah terhipnotis dan refleks memejamkan mata, saat jemari lelaki itu menyentuh satu sisi wajahnya.


Beberapa detik berlalu dan tiba-tiba saja wangi maskulin itu serasa menjauh, diikuti suara datar yang menyadarkan Vlora.


"Keluar dari ruanganku!"


Vlora tersadar dan la langsung membuka mata. Tidak ada lagi sosok penuh pesona itu di hadapannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati lelaki itu berdiri di sana memunggunginya.


Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya atau membantah seperti yang biasa ia lakukan, Vlora segera berlari keluar dari sana.


Saat bayangan Vlora tak lagi terlihat, tuan muda itu menyugar rambutnya dengan kasar.


"Apa yang sudah kulakukan?"


Ia segera menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesaran. Bersandar dengan wajah yang mendongak menatap langit-langit ruangan.


"Arrrgghh, aku pasti sudah gi*la." Kedua tangannya terangkat lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Bayangan Vlora dengan senyuman yang begitu indah terlintas di pikirannya. Ia kembali menggeleng kepala dengan kuat.


Lelaki itu lalu memanggil asistennya. Begitu Zack masuk, ia kaget melihat tuannya yang tampak gundah dan kacau.


"Pastikan hasil itu keluar secepatnya dan jangan sampai Hariss ataupun mommy mengetahui hal ini! Siapapun tidak boleh tahu," ucapnya pada sang asisten.


"Baik, Tuan!"


Zack pun kembali hendak keluar, tetapi baru sampai di depan pintu, tuannya kembali memanggil.


"Zack! Panggilkan juga Eliot. Sepertinya saya harus diperiksa."


Asistennya terperanjat langsung secepat kilat mendekati sang tuan.


"Anda sakit, Tuan?" tanya Zack khawatir.


"Entahlah, Zack. Ada yang aneh dengan tubuhku akhir-akhir ini. Sudah, pergilah dan pastikan segalanya berjalan dengan baik!"


Zack kembali melangkah keluar dan melakukan apa yang diperintahkan tuannya.


Di samping itu, di kamar Vlora, si cantik bertubuh ceking baru saja masuk ke kamarnya. Ia menutup pintu dengan rapat dan bersandar pada pintu tersebut, sembari sebelah tangan menyentuh dadanya yang bergemuruh hebat.


"Aku pasti sudah gi*la!" ucapnya sambil memejamkan mata dengan kuat.


Bayangan-bayangan tadi kembali telintas di hadapannya.


"Sadar, Vlora ... sadar! Kau akan dicap pelayan tidak tahu diri, pelayan penggoda, dan julukan-julukan rendah seperti yang sering diberikan Tristan akan kau dapatkan lagi," ucapnya pada diri sendiri.


Ia menundukan pandangannya dan setetes air mata pun luruh, kala ucapan-ucapan Tristan kembali terngiang.


Tubuh wanita cantik itu merosot ke bawah dan meringkuk dalam nelangsa. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang masih berada dalam genggamannya.


Dilihatnya benda itu kembali dan yang ia dapatkan adalah senyum sang putra di antara dua bocah lainnya.


"Siapa mereka? Saudaranya? Kata Jihan, gadis cantik yang di butik waktu itu adik perempuannya. Pasti yang ini," tunjuk Vlora pada sosok bocah perempuan satu-satunya dalam foto tersebut.


"Lalu dua bocah lelaki ini siapa? Pasti salah satunya ... dia. Tapi yang mana? Tidak mungkin yang mirip sama Giv kan?"


Vlora berhipotesa sendiri, berusaha menguraikan benang merah yang sama sekali tidak mampu ia urai sendiri.


Dalam kebingungan, dering ponsel mengagetkannya. Cepat-cepat ia mengambil benda pipih itu dan melihat siapa gerangan yang menelpon.


"Jihan?" gumamnya.


Ia pun menggeser ikon hijau pada layar setelah jejak air mata di pipi tirusnya dihapus.


๐Ÿ“ฒ "Halo, Ji! Ada apa?"


๐Ÿ“ฒ "Halo, Ra. Ini aku mau kasih tahu, kalau tadi Tristan datang ke sini dan ...."


Cairan bening yang tadi sudah dihapusnya, kembali luruh.


Oh, God! Give me the strength.


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Apa yang di katakan Jihan selanjutnya yah ๐Ÿคจ...


...ikuti terus yokkk ๐Ÿ˜‰...


...Like dan komen jangan lupa ๐Ÿ“Œ...


...____________________...