
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
"Aku bilang minggir! Budeg yah?" Vlora memekik kesal, bahkan mengumpat.
Pikirnya, dua orang asing yang ada di hadapannya saat itu, tidak mengerti dengan yang ia ucapkan.
Tidak ingin menunggu lagi, ia menyampingkan tubuh lalu menyelip di antara sesosok pria dan dinding di belakangnya. Mudah saja bagi Vlora yang bertubuh kurus melakukan hal itu.
Namun, langkah Vlora terhenti saat tangan besar itu mencekal lengan kecilnya. Ia berbalik, lalu bibir mungil itu hendak menyemburkan kata-kata pedas, tetapi terurung kala mata indah itu bersiborok dengan sepasang mata elang yang menyorotnya.
Saat bertabrakan tadi, Vlora sama sekali tidak ingin menatap mata laki-laki itu. Melihat wajahnya saja Vlora hanya melirik sekilas. Namun, saat ini, ia malah terjebak di dalam pekat dan tajamnya tilikan adam satu itu.
Sama hal dengan lelaki itu, ia yang tadinya ingin mengatakan sesuatu, jadi tertahan kala menatap sepasang manik legam milik Vlora.
"Ehm ... aku dari tadi di sini, Kak!" Lagi-lagi suara yang semula, menginterupsi acara tatap-tatapan itu.
Vlora pun tersentak dari ketidaksadarannya dan segera menepis tangan besar lelaki itu. Ia lalu bergegas menaiki tangga dengan hentakan-hentakan kesal. Dengusan kecil mengiringi setiap derap langkahnya. Vlora bahkan melewati gadis cantik yang setia berdiri di tangga saat itu begitu saja.
Saat tiba di atas, Vlora sempat menoleh ke bawah dan dua orang di sana pun tengah menengadah menatapnya.
Wanita ceking itu cepat-cepat menyeret langkah dan menghilang dari sana.
"Siapa sih? Pagi-pagi bikin kesal saja. Ngapain juga dia ke sini?" omel Vlora sepanjang jalan.
Ia berjalan dengan sangat cepat hingga tiba di depan sebuah ruangan. Tangannya mendorong pintu di depan secara kasar, membuat seseorang di dalam sana terperanjat.
"Hei, bisa pelan-pelan aja gak sih?" protes seorang wanita dengan kesal.
Vlora tidak peduli. Ia terus berjalan dan menghempaskan tubuh cekingnya dengan malas di atas sofa. Tas kecil yang berada di tangannya, di lemparkan ke sembarang arah begitu saja.
"Apa-apaan ini? Jangan mengacaukan tempatku, Nyonya!" geram seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Jihan.
Saat ini, Vlora tengah bertandang ke butik sahabatnya itu. Bermaksud ingin bercerita membagi suntuk kala bertemu dengan seorang wanita di depan gerbang sekolah anaknya, malah mendapat kesialan yang menambah kekesalan.
Jihan menghentikan pekerjaan lalu menatap wajah sahabatnya dengan kening yang berkerut.
"Kamu kenapa sih? Tumben banget pagi-pagi udah nongol aja. Salah makan apa tadi?" tanya Jihan yang heran.
Vlora memang tidak pernah keluar pagi-pagi seperti itu. Ke pasar pun, hampir tidak pernah. Wanita cantik satu itu sangat nyaman dan betah di rumah. Tidak heran, kedatangannya di butik, membuat Jihan tidak percaya tetapi jua teramat senang.
"Ish, orang lagi kesel juga." Melirik Jihan dengan malas.
Tawa kecil kemudian meluncur dari bibir Jihan. "Masih pagi udah kesel aja. Tristan lagi? Kan sudah aku bilang ...."
"Terus, siapa dong?" Sebelah alis Jihan terangkat.
Vlora lagi-lagi mendengus. "Ada orang aneh. Ngapain sih orang itu di sini?"
Ia berdiri dan meraih sebotol air yang tersedia di atas meja kerja Jihan, membuka tutup botolnya lalu meneguk dengan perlahan.
"Orang aneh yang mana lagi, Ra? Memangnya ada karyawan sini yang aneh?" Lagi Jihan bertanya.
"Bukan karyawanmu, tapi ada orang lain yang ke sini. Laki-laki dan perempuan." Meneguk lagi air dalam kemasan yang masih berada di tangannya.
Vlora tengah bersandar malas di meja kerja sang sahabat. Ia masih berusaha menetralkan kekesalan hatinya.
"Laki-laki dan perempuan?" gumam Jihan sambil sedikit berpikir.
Vlora yang mendengar gumaman itu, mengangguk. "Itu siapa sih? Orang lagi kesal juga, nambah kesal aja. Jalan gak pake mata, udah gitu ke orang bisu yang gak bisa ngomong minta maaf, mana wajah dinginnya terlihat serem-serem ngeselin lagi, arrrgghh!"
Vlora meremas botol air ditangannya, lalu sesudah itu ia meneguk kembali. Sementara itu, Jihan refleks mendongak menatap wajah Vlora dengan tidak percaya.
"Maksud kamu ... dua orang yang baru turun dari sini?" tanya Jihan lagi dan Vlora mengangguk. "Pria tampan dan gadis cantik tadi?" Vlora mengangguk lagi dan lagi, seketika mata Jihan terbelalak. "Astaga, Ra! Kamu marah-marah juga gak?" Vlora terus mengangguk karena sibuk meneguk air, dan kali ini anggukannya membuat Jihan ingin sekali melompat dari lantai dua tersebut.
"Demi apa, Vlora? Kamu tau mereka siapa?" Jihan sampai bangkit dari duduknya demi menatap wajah polos Vlora. Wanita ceking itu menggeleng tak acuh.
"Mereka itu Tuan dan Nona Muda Alexander, Vlora! Kau sudah gila memarahinya?" pekik Jihan dengan gerakan tangan seolah ingin mencekik.
Saat itu juga, Vlora terbatuk hingga semburan terciprat dari mulutnya, saking kaget mendengar ucapan Jihan.
"Vlora Yukika!"
Jihan semakin memekik murka melihat apa yang terjadi di atas meja kerjanya.
...🌷🌷🌷...
...To be continued .......
...*...
...*...
...*...
...Jangan lupa like dan komen 😍...
...______________________________...
Ada rekomendasi lagi nih gaessss 😍 Kalo suka malir yah 🥰