Not You

Not You
41. Pewaris Alexander Selanjutnya



...~ Happy Reading ~...


...____________________...


...***...


Di samping itu, suasana mencekam sedang menyelimuti kediaman utama Alexander, di kawasan The Grange.


Sebuah amplop cokelat besar dilemparkan ke wajah seorang pria tampan yang tengah berdiri sigap dengan kedua tangan yang disilangkan di belakang. Beberapa lembar foto keluar dari amplop tersebut dan jatuh berserakan di lantai.


"Apa-apaan ini, Hariss? Kau ...."


Seorang pria paruh baya tengah menghakimi penerus kedua dari takhta Alexander grup. Fakta baru yang mengungkapkan hubungan asmara dari putra kedua Alexander, nyatanya menghasilkan seorang putra.


Berita itu cukup menggegerkan seluruh keluarga Alexander. Marah? Tentu saja. Hal itu tidak semudah yang orang-orang pikirkan. Di sini, nama baik Alexander sedang dipertaruhkan.


Apalagi foto-foto yang berceceran di bawah sana, bukan saja foto tadi di Newington. Namun, ada pula foto-foto tujuh tahun silam di mana Vlora dan Hariss tengah berduaan di sebuah club malam di Jakarta.


What the fu*ck! Dapat dari mana foto-foto lama itu? Ada yang tidak benar!


Hariss geram melihat foto-foto mantan kekasihnya yang sengaja diekspos untuk dijadikan konsumsi publik. Ia merasa ada kejanggalan dalam hal ini. Lelaki itu merasa ada yang sengaja mempermalukan Vlora dan mencoreng nama baik Alexander.


Untungnya, nama dan kekuasaan mereka, mampu untuk membungkam setiap media yang hendak mempublikasikan berita tersebut, sehingga hal itu hanya tersebar luas sejagat ALXΒ³H Group.


Merasa salah satu dari putranya telah mencoreng nama baik keluarga, Tuan besar di keluarga terpandang itu, Mr. Brodrick Alexander begitu murka.


"Kenapa kau jadi pria tidak bermoral seperti ini? Daddy tidak percaya kau melakukan ini, Hariss! Daddy pikir dengan kau kembali, bisa membantu kakakmu mengurus perusahaan yang begitu besar dan daddy mungkin bisa beristirahat. Kau malah ... arrrgghh!" geram pria paruh baya itu.


Lelaki tinggi tegap dengan kepala yang dipenuhi uban, tetapi terlihat tetap tampan dan berwibawa, tampak begitu marah. Ia mendekati putranya yang masih setia berdiri dengan tegap, lantas hendak melayangkan tangannya tetapi dicegah oleh sang istri.


"Jangan lakukan itu!" Nyonya besar menggeleng sembari memegang tangan suaminya.


"Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua sudah terjadi dan yang mommy mau, pertanggungjawaban dari kamu saja, Hariss!" tegas wanita paruh baya nan cantik itu.


Kedua orang tua itu tampak menunggu jawaban putranya.


"Jawab, Hariss! Apa kau mau lari juga dari tanggung jawab?" bentak sang ayah.


"Tidak, Dad! Hanya saja dia belum sepenuhnya bercerai dengan suaminya!"


"Siapa yang menyuruhmu bertanggung jawab pada wanita itu? Yang daddy butuh tanggung jawabmu pada anak itu!" pekik sang ayah dengan emosi.


"Benar, Ris. Tanpa harus bersama ibunya, kau masih bisa bertanggung jawab atas anak itu. Siapapun orang tuanya saat ini, darah Alexander yang mengalir di tubuhnya!" jelas nyonya besar.


Suami wanita paruh itu mengangguk mengiyakan. "Anak itu tetap anggota keluarga ini, apalagi dia seorang anak laki-laki yang pastinya akan menjadi pewaris Alexander selanjutnya!"


Lelaki paruh baya penuh wibawa itu beranjak dari hadapan putranya, lalu duduk pada sebuah kursi kebesaran yang didesain khusus untuknya.


"Tapi aku juga inginkan ibu dari anak itu!" seru Hariss tidak peduli dengan ucapan orang tuanya.


"Cukup, Hariss! Cukup sekali saja kau melakukan hal tidak bermoral itu. Jangan kau rebut apa yang bukan milikmu!" tegas Tuan Besar Alexander.


"Dia akan segera bercerai dengan suaminya, Dad!" bantah Hariss.


"Tidak untuk sekarang karena dia masih istri orang! Itu akan menjadi urusan pribadi kamu, Ris! Tapi prioritas kita sekarang adalah anak itu," ucap Nyonya Glad.


Wanita tua nan cantik itu lebih dulu bersuara dan tidak memberi kesempatan untuk suaminya, yang hanya akan dipenuhi emosi.


...*****...


Di lain tempat, Vlora dan Given yang masih berada dalam mobil saat itu, merasa risih dan tidak nyaman dengan tatapan sang pengemudi. Kaca spion di sana, terus mengarah pada ibu dan anak itu.


Tiga puluh menit berlalu, keduanya tiba di apartemen Jihan. Vlora lalu membayar beberapa lembar poundsterling pada pengemudi taksi tersebut. Sesudah itu, mereka pun bergegas menuju lift yang membawa keduanya ke unit apartemen milik Jihan.


Sepanjang perjalanan singkat sejak turun dari mobil sampai di masuk lift pun, keduanya tidak lepas dari tatapan aneh orang-orang yang berlalu lalang.


"Mom!"


"Ya, Sayang?"


"Kenapa mereka menatap kita seperti itu?" tanya Given pada ibunya.


Vlora mengedikan bahu. "Tidak tahu, Giv. Mommy juga bingung."


Ia dengan segera menarik tangan sang putra dan berjalan cepat hingga tiba di apartemen Jihan. Vlora membunyikan bel beberapa kali dan si pemilik flat itu pun keluar.


"Kalian?" Jihan kaget melihat dua manusia itu sudah ada di sana.


Wanita lajang itu menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah memastikan sesuatu, sebelum akhirnya dengan cepat ia menarik ibu dan anak itu segera masuk.


"Kenapa sih, main tarik segala?" sungut Vlora.


"Sakit, Onty!" Given ikut komplain.


"Ra, perjalanan kalian ke sini atas izin siapa? Trus, gimana perjalanannya? Aman kan?" cecar Jihan tanpa spasi.


Vlora mengernyit. "Kamu kenapa, Ji? Aku ke sini tidak lama, aku harus ...."


"Sudah nonton TV sore ini, belum?" tanya Jihan lagi dan mendapat gelengan dari Vlora. "Udah buka sosmed hari ini?" Lagi Vlora menggeleng.


Tanpa berbicara apa-apa lagi, Jihan menyeret sahabatnya itu ke ruang nonton dan memperlihatkan tayangan pada layar TV besar di dapan sana.


"A-apa?"


Lagi dan lagi, untuk kesekian kalinya di hari itu, Vlora dibuat terguncang berulang kali.


...🌷🌷🌷...


...To be continued .......


...*...


...*...


...*...


...Holaaaaa epribadeeeh πŸ‘‹...


...Kondisikan jempolnya yah πŸ“Œ...


...____________________________...